Rindu Berkarya oleh Nopiranti

Rindu Berkarya
(Nopiranti)

Buka-buka galeri foto di laptop, nemu gambar ini. Sepatu rajut hasil buatan sendiri, untuk pertama kalinya. Dibuat sekitar empat tahun lalu. Saat jemari dan pergelangan tangan saya masih terluka.

Waktu itu, jemari saya sering kesemutan. Terkadang sakit seperti kena sengatan listrik. Atau sering juga tak ada rasa, kebas dan kaku. Pergelangan tangan juga rasanya sakit. Kalau digerakkan suka tersengar ada bunyi tulang yang patah.

Duh, ngilu kalau ingat masa itu. Sekarang sih, Alhamdulillah jemari dan pergelangan tangan saya dalam kondisi baik. Tanpa kesemutan. Tanpa bunyi gemeretek tulang patah.

Sejenak pikiran mengembara. Pada masa kecil yang indah. Saat sekolah dasar sudah diajari Mamah merajut. Senang sekali mengisi waktu luang bersama benang wol dan hakpen. Lebih bahagia lagi saat bisa menghasilkan karya.

Aksesoris dan pernak-pernik kebutuhan sehari-hari bisa dibuat sendiri. Ikat rambut, dompet kecil, tas selempang, bando, tempat pensil, taplak meja, dan boneka. Lelah dan pegal pun terbayar sudah saat benda yang diimpikan bisa selesai dibuat sesuai harapan.

Menginjak sekolah menengah, keterampilan bertambah. Mamah mengajari menjahit menggunakan mesin. Awalnya tersendat-sendat. Gerakan tangan dan kaki tidak kompak. Akhirnya kain maju mundur, benang kusut, hati kesal, jahitan pun tak jelas rupa.

Sesaat jadi malas belajar. Namun saat melihat Bapak dan kakak laki-laki berhasil belajar menggunakan mesin jahit dengan baik, semangat saya pun berkobar lagi. Mencoba lagi belajar dan hasilnya lumayanlah untuk pola garis lurus saja sih saya bisa. Ha-ha-ha.

Dulu saya berpikir keterampilan ini pasti akan sangat berguna kalau saya sudah berkeluarga. Bisa membuat aneka aksesoris anak dan pernak-pernik hiasan rumah sendiri. Wuih, pasti senang banget dan hasilnya sudah terbayang akan menjadi sesuatu yang keren.

Awal menikah dan baru punya anak satu sih iya masih suka berkarya. Walau hanya membuat barang yang sangat sederhana seperti taplak meja dan gorden. Namun seiring bertambahnya buah hati dan volume pekerjaan, perlahah-lahan keinginan untuk berkarya itu meredup. Berganti semangat untuk memperoleh barang-barang impian dengan cara instan: beli saja. Asal ada uangnya tentu saja ya, pemirsa.

Sekarang, saat si bungsu cantik mulai banyak keinginan mempunyai barang-barang dan aksesoris, keinginan berkarya itu muncul lagi. Sering kepikiran untuk membuat sendiri ikat rambut, tas, tempat pensil, baju, kerudung dan benda-benda lainnya. Namun apa daya rasa malas itu masih saja bertahta.

Keinginan tinggal hanya keinginan. Tak jua berjumpa semangat dan langkah nyata bergerak. Namun rindu masih setia bersemayam di dada. Suatu saat nanti semoga rindu ini bisa segera luruh saat jemari kembali bercumbu dengan benang, jarum, dan hakpen.

Senin, 16 November 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan