Puzzle

RESIKO JADI ANAK SULUNG (Putri Zaza)

RESIKO JADI ANAK SULUNG

“Kamu, harus bisa jadi, sarjana seperti mbakmu,” ucap Mama ke Adik yang baru saja lulus SMA.

“Tapi Ma, kan enggak harus kuliah, bisa kerja dulu,” tolak adikku.

“Enggak, Kamu harus kuliah, seperti Mbak.”

Ya, patokan kesuksesan selalu dibebankan pada pundak anak sulung. Adik harus sepintar, bisa dapat nilai bagus, punya attitude yang baik seperti anak sulung.

Aku anak sulung dengan pola pikir seperti ini, aku terlalu takut membuat kesalahan. Harus bisa, harus dapat. Ya, seperti itu. Ketakutanku bertambah ketika sudah tidak ada pilihan selain menyerah. Anak sulung dituntut untuk memiliki banyak cabang pada pilihannya dan tegas dalam mengambil tindakan.

Sejak kecil Aku terbiasa mengasuh adik-adikku. Ketika diberi uang jajan pasti untuk membeli makanan si adik. Mengalah itu hal yang sudah seharusnya dimiliki sang kakak. Ketika adik yang salah pasti sang kakak ikutan kena tegur mama.

Ya, Aku terbiasa mematuhi perintah Mama, karena Mama selalu bilang “Ngalah, ya, sama Adik. Kan dia belum mengerti.” Hal itu terjadi sampai kami semua sudah besar.

Saat orang bilang mendapatkan IPK cum laude tidak menjamin akan sukses setelah lulus. Tapi, untukku mendapatkannya suatu keharusan. Karena, akan membuat bangga kedua orang tuaku dan dapat memberi contoh kepada kedua adik.

Rasa bangga itu hadir ketika pengumuman mahasiswa berprestasi, “Firda Zakiya Haryanto Putri sarjana komputer dengan IPk 3.60.” dan terpampang wajahku di layar besar ruang aula sidang senat, bisa dipastikan orang tua dan semua yang hadir melihatnya.

Mungkin, menjadi contoh yang baik adalah salah satu tanggung jawab seorang kakak bagiku. Sempurna tanpa celah. Tapi, sayang, itu tak mungkin. Aku terlalu banyak celah sehingga sebisa mungkin kututup rapat hingga kedua orang tuaku hanya melihat anak sulungnya yang membanggakan.

Cibitung, 10 Juli 2020

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

Tinggalkan Balasan