Renungan Akhir Tahun dan Resolusi 2021 oleh Nopiranti

Renungan Akhir Tahun dan Resolusi 2021

(Nopiranti)

Desember 2020 akan segera berakhir. Banyak kisah telah terlewati sejak Januari lalu bermula. Semua terkumpul dalam album kenangan. Baik yang tersirat disimpan dalam memori hati dan pikiran. Maupun yang tersurat nyata ada dalam rekaman foto, video, atau tulisan.

Dari sekian banyak kenangan yang tercipta, ada banyak kebaikan yang bisa dijadikan contoh untuk ditiru dan dilanjutkan lagi di tahun yang akan datang. Banyak juga yang sebaiknya dikubur saja di dasar ingatan. Sebab kenangan itu terlalu buruk dan menyakitkan untuk diingat. Cukup dipandang saat merunduk sebagai cermin supaya hal tersebut tidak terulang kembali.

Saya bukan tipe orang yang terbiasa mengadakan seremoni pergantian tahun. Seperti yang kebanyakan orang biasa lakukan. Ada yang sengaja berkumpul bersama keluarga atau teman untuk mengadakan pesta penyambutan yang meriah. Berlibur ke suatu tempat, makan-makan, bakar jagung atau ikan, bersenda gurau, menyalakan petasan dan kembang api, atau konvoy berkendara keliling kota.

Waktu kecil sih kalau akhir tahun itu biasanya seru di depan TV. Banyak acara-acara menarik yang disajikan. Ada beragam film box office lokal dan interlokal, eh internasional maksudnya. Kadang sampai bingung milih mana yang mau fokus dilihat karena hampir semua stasiun TV berlomba menyajikan film unggulan mereka. Pokoknya remote control harus selalu dipegang. Tiap jeda iklan langsung pindah saluran.

Siaran langsung perayaan menyambut tahun baru bersama artis-artis top ibu kota juga jadi tontonan yang sayang untuk dilewatkan. Sampai tengah malam mata ini bisa bertahan tetap segar melotot menyaksikan liputan penghitungan waktu mundur dari angka 10 sampai menuju angka 1. Saat kembang api menyala indah memenuhi langit di berbagai sudut kota. Dengan latar suara terompet yang semakin menambah meriahnya acara.

Beranjak dewasa, sudah sedikit bergeser kebiasaannya. Tahun baru lebih dimaknai sebagai momentum untuk introspeks diri. Sesekali ikut kajian ilmu mendengarkan tausiyah ustaz dan ustazah. Kadang hanya sekedar kumpul dengan teman-teman dekat, curhat tentang target hidup apa saja yang sudah tercapai dan belum. Seringnya sih diam saja sendiri di rumah. Baca buku atau menulis evaluasi diri sendiri.

Sampai sekarang yang sering dilakukan paling kegiatan yang terakhir. Diam sendiri. Merenung, mengevauasi, dan membuat rencana untuk tahun yang akan datang. Di tahun 2020 ini, hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua rasa ada menghiasi hai-hari. Bahagia, sedih, bingung, kecewa, marah, kesal, terluka, tersandung, hingga tersanjung pun semuanya pernah singgah.

Yang paling menjadi catatan bertinta tebal sih tentu saja kisah istimewa 2020 bersama pandemi Corona. Sedih karena tahun ini full saya tidak merasakan puasa Ramadan bersama Bapak. Biasanya seminggu awal dan seminggu akhir Ramadan, saya pasti menemani Bapak yang sekarang hanya tinggal sendiri.

Tapi, alhamdulillah Allah beri pertolongan terbaik. Ada keluarga Uwa, kakaknya Bapak, yang bersedia menemani sahur dan berbuka selama sebulan penuh Ramadan. Hatur nuhun pisan , Uwa.

Lebih sedih lagi saat Idulfitri tiba. Saya masih belum bisa juga berkunjung ke rumah Bapak full team bersama suami dan anak-anak. Suami bersikeras untuk tetap menjalankan social distancing . Tapi, saya tidak bisa nurut kali itu. Saya memaksa untuk datang saja sendiri menemui Bapak. Dengan catatan datang sebentar dan tidak bermalam.

Duh, jangan ditanya deh sedihnya bagaimana saat datang. Hanya bisa memeluk Uwa erat sambil nangis mengucapkan terima kasih atas kesediaannya menjaga Bapak. Setelah duhur, saya sudah pulang lagi dengan perasaan hampa. Namun, sedikit lega karena bisa juga bertemu sanak saudara.

Lepas dari banyaknya kesedihan akibat pandemi Corona ini, tidak dapat dimungkiri berlimpah juga berkah seiring banyaknya waktu luang karena pekerjaan di sekolah beralih ke rumah.

Yang paling berkesan selama pandemi ini yaitu saya bisa ikut berbagai pelatihan menulis seru. Jika tidak pandemi, mungkin aneka pelatihan itu tidak akan sanggup saya ikuti karena jarak yang jauh, biaya yang mahal, dan waktu yang tidak sebentar.

Dengan adanya pembatasan aktifitas sosial, maka kegiatan daring menjadi alternatif terbaik. Saya sangat menikmati mengikuti kajian ilmu secara daring ini. Cukup duduk manis di rumah, limpahan ilmu siap dibagikan oleh banyak ahli di bidangnya.

Berkah pandemi juga saya bisa mewujudkan impian mempunyai buku tunggal. Alhamdulillah, meski masih sangat sederhana isinya, tapi saya cukup bangga dan senang sudah ada 2 buku tunggal yang bisa saya hasilnya. Semoga tahun depan bisa menambah karya lagi. Aamiin.

Tahun 2020 juga bisa dibilang tahun kehilangan. Paman dan Ayah mertua berpulang dalam waktu hampir bersamaan. Hanya beda 3 hari saja. Duka melanda. Peringatan bagi yang masih merasa sehat dan segar bugar. Ajal bisa datang kapan saja. Dengan cara yang tidak pernah bisa diduga. Persiapkan diri sebaik mungkin untuk hari yang sudah pasti. Hari kematian.

Bicara tahun baru, wajib juga bicara semangat dan rencana baru. Seperti kata pepatah bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus jauh lebih baik lagi dari hari ini.

Saya tidak muluk-muluk membuat resolusi untuk tahun 2021 nanti. Doanya tetap sama. Ingin tetap sehat lebih lama supaya bisa beribadah dengan lebih baik dan bisa membersamai orang-orang terkasih lebih lama juga dalam senyum dan bahagia. Ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan. Tidak cepat marah atau ngegas kalau kata putri bungsu saya mah . Tidak mudah putus asa. Tetap semangat dan selalu berprasangka baik atas semua takdir Allah. Ingin tetap berkarya dan menginspirasi sesuai kemampuan sebaik yang bisa dilakukan. Ingin Allah selalu rida, melimpahkan keberkahan, dan senantiasa memudahkan setiap urusan dalam kebaikan.

Mudahkan semua harapan ini terlaksana ya Rabb. Aamiin yaa mujibassaailiin .

Selasa, 29 Desember 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan