Sumber: Mutiara Islam

Rahasia Bapak oleh Nopiranti

Rahasia Bapak
(Nopiranti)

Dania gembira sekali hari ini. Bapak baru pulang dari Jakarta. Seperti biasanya, Bapak selalu membawa banyak oleh-oleh. Makanan yang enak-enak, boneka lucu, pakaian cantik, dan alat tulis seperti yang Dania pesan.

Bapak juga membelikan banyak barang untuk Ibu, kak Fina dan kak Gani. Jika kedua kakaknya sama bahagianya seperti Dania, tidak demikian dengan Ibu mereka.

Setiap kali Bapak mengeluarkan barang-barang bawaannya, Ibu terlihat sedih. Ibu memang menerima barang itu. Ibu ambil, Ibu ucapkan terima kasih pada bapak, dan Ibu pergunakan dengan baik barang-barang itu. Tapi raut sedih tak pernah lepas dari wajah sendu ibu.

Sudah lama Bapak kerja di Jakarta. Tapi Dania dan kakak-kakaknya tidak tahu pasti pekerjaan apa yang Bapak lakukan di Jakarta. Buruh kasar. Hanya itu keterangan yang bisa mereka baca di kartu keluarga.

Setiap kali mereka bertanya lebih detail, Bapak selalu tersenyum. Lalu memberikan jawaban yang sama berulang-ulang. Sampai Dania dan kedua kakaknya hafal betul setiap kata yang Bapak ucapkan.

“Kalian tidak perlu tahu apa pekerjaan Bapak. Yang penting Bapak bisa pulang bawa banyak uang. Juga bawa oleh-oleh pesanan kalian. Kalau kalian senang, Bapak juga bahagia,” ucap Bapak setiap kali anak-anak bertanya tentang pekerjaannya.

Meski masih diliputi penasaran, tapi seiring waktu berlalu akhirnya Dania dan kakak-kakaknya tidak pernah bertanya lagi. Mereka mengikuti saja perkataan Bapak. Memupuk subur rasa bahagia di hati mereka supaya Bapak juga merasa bahagia.

Lain Bapak menjawab, lain pula Ibu menanggapi. Pernah beberapa kali Dania bertanya pada Ibu tentang pekerjaan Bapak. Meski sekejap, tapi Dania bisa melihat raut sedih berkelebat di wajah Ibu. Meski setelahnya Ibu tutup dengan senyum dan untaian kata-kata menyejukkan.

“Jangan pernah lupa mendoakan kebaikan untuk Bapak. Minta pada Allah supaya Bapak selalu sehat dan dilindungi dari segala mara bahaya. Juga dijauhkan dari rezeki yang haram. Doa anak salih itu hadiah terindah untuk orangtua,” jawab Ibu pada Dania dan kedua kakaknya.

Mereka pun patuh. Doa tulus selalu mereka panjatkan untuk kebaikan Bapak dan Ibu. Sebagai rasa syukur atas dua orang terbaik yang telah memberikan mereka limpahan kebahagiaan.

“Mas, doa terbaik juga selalu aku panjatkan untukmu. Tak pernah henti aku meminta supaya Mas selalu sehat, dimudahkan segala urusan, diberikan keberkahan, dan dilimpahkan keridaan-Nya,” lirih Ibu berdoa di setiap selesai menunaikan salat.

“Aku juga tak pernah berhenti memohon supaya Allah membukakan hati dan pikiranmu untuk mau berubah dan mau berusaha mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Bukan menjadi pengemis seperti yang kamu lakukan selama ini,” semakin pelan doa Ibu panjatkan. Ada derai yang terburai membasahi mukena Ibu.

Berkelebat di benak Ibu saat pertama Bapak ikut ajakan temannya bekerja di Jakarta menjadi kuli bangunan.

Awalnya memang benar mereka bekerja di beberapa proyek bangunan. Namun pekerjaan yang berat dengan resiko kecelakaan yang tinggi, membuat satu persatu teman Bapak memutuskan berhenti dan pulang kampung. Mereka lebih memilih menggarap lagi lahan pertanian mereka yang terbengkalai selama ini.

Tapi Bapak tetap bertahan di Jakarta. Bapak tidak punya lahan di kampung. Dulu Bapak berjualan cilok keliling kampung. Kalaupun Bapak berjualan lagi, sekarang sudah banyak saingannya.

Maka Bapak memutuskan tetap di Jakarta. Semakin mantap keputusan itu Bapak ambil saat berkenalan dengan seseorang yang mengajaknya menjadi pengemis.

Memang secara penampilan menjadi pengemis itu terlihat kotor. Namun secara aktivitas, tidak terlalu melelahkan. Apalagi jika bicara pendapatan. Jakarta yang ramai, dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, menjanjikan hasil mengemis yang menggiurkan.

Sekali dua kali Bapak memperoleh tumpukan uang receh yang jika dijumlahkan hasilnya lumayan juga. Lama-lama Bapak keenakan. Tak mau berhenti mengemis. Meski berulang kali Ibu menyatakan ketidaksetujuannya. Namun apa daya, perkataan Ibu dianggap angin lalu saja.

Maka Ibu pun tak tinggal diam. Ibu tak mau selalu bergantung pada Bapak. Ibu belajar berdagang kecil-kecilan. Teras rumah disulap menjadi lapak aneka makanan.

Pagi hari Ibu menyediakan bubur ayam. Siang Ibu mulai melayani pesanan gado-gado, aneka gorengan dan minuman. Meski tidak selalu setiap hari ramai pembeli, tapi Ibu bahagia. Karena Ibu bisa punya penghasilan sendiri, hasil dari kerja kerasnya memeras keringat. Tidak lagi terlalu mengandalkan uang dari hasil Bapak mengemis.

“Terima kasih ya Allah, atas jalan kebaikan yang Kau bukakan untuk hamba ini. Semoga segera Kau bukakan juga jalan kebaikan untuk suamiku. Aamiin yaa rabbal aalamiin.” Doa Ibu senantiasa menguntai melangit jauh.

Semoga segera Allah kabulkan.

Jumat, 30 Oktober 2020
NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan