Ragam Tanggung Jawab Manusia, Yang Terakhir Paling Sering Diabaikan (Emmy Herlina)

Ragam Tanggung Jawab Manusia, Yang Terakhir Paling Sering Diabaikan

“Maaf, saya terlambat. Tadi anak saya baru selesai ujian.” Lekas kuletakkan tas, mengambil dan mengenakan sarung tangan, lantas mengerjakan apa yang menjadi tupoksi diri di ruangan ini. Aku bekerja di Unit Transfusi Darah dari rumah sakit pusat rujukan seprovinsi Lampung.

Tupoksi, singkatan dari tugas pokok dan fungsi. Adalah suatu sasaran yang harus dicapai atau beban pekerjaan yang diberikan suatu organisasi untuk dilakukan. Bisa dibilang tupoksi adalah tanggung jawabku sebagai salah satu staf di tempat kerjaku. Untuk dapat bekerja di sini, semua pegawai memiliki SK (Surat Keputusan) yang ditandatangani direktur rumah sakit langsung. Jadi, memang tanggung jawab kami bukan sembarangan atau buat-buatan.

Tapi tadi, kebetulan aku izin datang terlambat. Padahal salah satu bentuk tanggung jawab pegawai adalah datang dan pulang tepat waktu, tidak datang terlambat, tidak pula pulang terlalu cepat. Keterlambatanku kali ini diizinkan oleh atasan, karena bagaimanapun aku juga mempunyai tanggung jawab lainnya.

Ya, tanggung jawabku di rumah salah satunya sebagai orang tua. Anak-anak yang sedang menjalani pembelajaran daring, dikarenakan wabah pandemi Covid-19 yang sedang mendunia, membutuhkan bantuan orang tuanya untuk mengawasi. Apalagi ketika anakku sedang ujian tingkat akhir. Soal diberikan guru melalui gawai orang tuanya. Lalu kuteruskan pada anakku untuk menjawabnya. Kemudian lembar jawaban kufoto dan kirimkan pada guru masing-masing.

Hal itu sudah merupakan bagian dari tanggung jawabku sebagai orang tua. Kalau dulu, ketika belum terjadi wabah, kadang aku terpaksa izin keluar sebentar dari tempat kerjaku, untuk menjemput anak sepulang sekolah.

Apakah cukup sampai di situ saja tanggung jawabku? Di rumah sebagai orang tua, di tempat kerja sebagai salah satu staf, selesai? Tentu saja, tidak.

Sebuah notifikasi muncul di gawai. Kebetulan karena aku sedang duduk sejenak selepas salat Zuhur, aku mempunyai waktu sebentar untuk membalas pesan itu. Ah, ternyata dari Pak Ilham, direktur Nubar-Nulis Bareng yang juga menjadi atasanku. Beliau meminta untuk memeriksa ulang data nama kontributor sebelum dicetak dalam bentuk sertifikat.

Iya. Kali ini aku menjalani tanggung jawab sebagai manajer area Sumatera. Tupoksiku sebagai manajer area adalah mengawasi keseluruhan proses event Nubar di bawah area yang kupegang, yakni area Sumatera. Tidak mudah untuk menjalani tanggung jawab ini. Dari mulai pengumpulan naskah, pengeditan, menyetorkan ke pusat disertai transferan, sampai buku tiba di tangan masing-masing kontributor, semuanya adalah tanggung jawabku. Kadang selagi buku belum sampai sementara transferan termasuk ongkos kirim sudah kupegang, hati menjadi belum tenang sepenuhnya. Kadang juga tanggung jawab tidak mudah dijalankan ketika bertemu tipe karakter kontributor yang sulit diajak bekerjasama.

Cukup sampai di situ? Ternyata belum. Setibaku di rumah, kulakukan bersih-bersih sejenak, lalu saatnya kubuka laptop. Biasanya aku mengetikkan lanjutan naskah cerita, sebagai kesukaanku menulis. Tapi kali ini, yang kukerjakan adalah tugas kuliah. Kebetulan aku juga sedang menjalani perkuliahan S1, di sela pekerjaanku. Maklum saja, usia segini aku baru diberi kesempatan untuk melanjutkan ke S1.

Jadwal kuliah memang hanya pada hari Jumat dan Sabtu saja. Namun tugas yang kadang menumpuk, kadang mengharuskanku menyicil mengerjakannya di hari lain. Ini adalah tanggung jawabku sebagai mahasiswa. Ada dosen meminta mengerjakan tugas, ya harus dikerjakan. Tak peduli kesibukan di bidang kerjaan masing-masing, karena rata-rata temanku sebagai sesama mahasiswa konversi juga sudah bekerja.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Tugas belum selesai kukerjakan, karena di sela-sela mengetik aku juga harus menemani anak-anak sampai membacakan cerita sebelum mereka tidur. Biasanya belum genap jam sembilan, anak-anakku sudah tertidur pulas. Barulah aku melanjutkan membuka laptop kembali.

(Kebetulan malam ini, suami tidak ada di rumah, karena kami memang menjalani hubungan jarak jauh. Kalau beliau ada, biasanya aku harus menuntaskan tanggung jawabku sebagai istri, hihi).

Rasanya ingin cepat menyelesaikan ketikan tugasku. Namun, kali ini kedua mataku sudah tak tahan. Kondisi tubuh yang sudah lelah juga ingin segera berbaring. Baiklah.

Kumatikan laptop, kurapikan dan bersiap untuk beristirahat. Jangan lupa mencuci muka dan menggosok gigi sebelum tidur, sebagai tanggung jawab pada tubuh sendiri. Nah, beristirahat cukup pun merupakan bentuk tanggung jawab kita.

Dalam sehari begitu banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, bukan? Seperti itulah hidup. Kita semua memiliki multi peran yang tidak bisa dihindari. Ada tanggung jawab sebagai anak, sebagai pelajar, sebagai pekerja, jika sudah menikah, tanggung jawab bertambah sebagai suami/istri serta tanggung jawab sebagai orang tua bagi anak-anak kita. Jika kita berwirausaha dan merekrut pegawai untuk menjalani bisnis kita, kita juga akan mempunyai tanggung jawab kepada mereka.

Namun jangan sampai lupa, tiap manusia pasti mempunyai tanggung jawab yang tak kalah besar, yaitu pada diri sendiri. Tubuh yang kita miliki hingga jiwa yang ditiupkan-Nya ke dalam raga adalah titipan dari-Nya, jadi harus kita jaga sebaik-baiknya. Jangan lupa pula ayat berikut ini:

Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz.-Dzariyat: 56)

Pada akhirnya, ketika Tuhan menyuruhmu pulang, maka berarti lepas sudah tanggungjawabmu di dunia. Lalu tiba saat mempertanggungjawabkan segala apa yang menjadi amalanmu, langsung di hadapan-Nya.

Bandar Lampung, 12 Juli 2020

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

18 comments

  1. Masya Allah benar sekali mbak. Dengan seabrek kegiatan yang menjadi tanggung jawab kita sebagai ibu, jamgan sampai mengabaikan kesehatan diri sendiri ya. Toh semua sudah ada porsinya masing2.

    Insya Allah kalau semua pekerjaan kita niatkan beribadah kepada Allah maka hasilnya akan lebih ringan dan positif bagi diri kita sendiri. Semangat menebar manfaat bagi ummat ya mbak.

  2. Memang benar mba. Kita suka fokus dengan seabrek tugas, lupa kalau nggak mikirin istirahat bentuk zalim sama diri sendiri 🙁 semoga kita semua dalam kesehatan yang baik ya

  3. Benar sekali mbak setiap tugas ada tanggung jawabnya. Jadi sebisa mungkin kita harus melakukannya dengan sebaik-baiknya. Kita harus bisa membagi waktu supaya semua tugas bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya dan tidak ada yang terbengkalai

  4. Tanggung jawab terhadap lingkungan dan keluarga, jangan sampai melupakan diri sendiri ya. Perlu merenung, menarik diri, dan ibadah kepadaNya…

  5. Hebat mbak penuh sekali dengan kesibukan tiap harinya, semoga berkah ya mbak emmy. Pekerjaan, kuliahnya dan profesi istri dan ibu tentunya. Ah baca tulisan ini jadi membuatku semngat untuk meneruskan di komunitas yg kuikuti mbak

    1. InshaAllah segala amanah yang diambil sudah merupakan pilihan. Jadi memangvkita harus berupaya untuk mengemban amanah itu sebaik mungkin.
      Tetapi kesehatan diri juga menjadi hal yang penting untuk diperhatikan.
      Semoga kita semuabdimudahkan dalam mengemban amanah ya , Mbak.

  6. Masya Allah sibuknya mbak Emmy. Tapi Insya Allah berkah ya mbak. Apalagi kalau semua diniatkan untuk mencari ridho Allah. Jadi Malu Aku keseringan rebahan nih di rumah wkwk.

  7. Insya Allah kita mampu menjalankan semua tanggung jawab yang kita emban ya mba. Selalu tak lupa pada siapa kita nanti akan berpulang,sehingga satu yang tak boleh lupa adalah mempertanggunjawabkan apa saja yang kita lakukan di dunia.

  8. Sempet saya keser dengan ketidakbisaan saya mengatur waktu seperti saya yang biasa karena sudah ada bayi, tapi akhirnya saya menyadarkan diri saya supaya ya sudah saya ibadah dengan mengurus anak saja hehehe

  9. Banyak ya mba aktivitasnya seakan tidak ada habisnya. Tapi ya begitu aemua harus dijalani sebagai bentuk tanggung jawab sebagai pembeda kita manusia dewasa dan anak2.. insyaallah berkah ya..

  10. Kita memang punya tanggung jawab terhadap diri sendiri ya, Mbak. Merawat diri lahir dan batin sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat dan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT.

  11. Betul sekali. Ketika kita menerima suatu peran, maka harus siap dengan tanggung jawabnya. Dengan menikmati berbagai peran dan tanggung jawab, hidup jadi lebih berwarna ya, mba.. Btw itu kalo menurut saya sih.. 🙂

Tinggalkan Balasan