Senja

Sebuah PROLOG oleh Athena Hulya

Prolog

Menatap pilu langit nan tinggi
Sayup angin menemani
Debur ombak menyapa sepi
Swastamita dipukul pergi
Senja tak terlihat lagi
Malam menguasai
Hitam legam menyelimuti
Oh senja…
Baru sekejap kau di sini
Kau kini tinggalkanku sendiri
Kau lari dari singgasana hati
Bagaimana bisa kulewati hari tanpamu di sisi …
Tanpamu mimpi yang kupintal tiada arti
Akankah kau datang lagi?
Membawa secercah harap untuk diri ini
Ataukah kau mengirimku pengganti?
Tuk temani sisa waktu yang Dia beri
-Athena Hulya-
~~~

Parangtritis, Januari 2019

Ya Tuhan, aku masih tak menyangka sudah dua Tahun Abi meninggal, segala mimpi yang dirangkai bersamanya tak akan berbuah nyata. Abi, kekasihku sudah pergi, ia meninggalkanku sendiri dan tak akan pernah kembali. Walau kuberucap ikhlas tapi hati tetap saja masih berat untuk melepas, walau duka perlahan terhapus namun kenangan tentangnya masih saja mengendap dalam ingatan. Sampai kini, ikhlasku hanya sebatas ucap, belum sepenuhnya kumampu menerima kenyataan pahit bahwa tak ada lagi Abi di sisi.

Abiku, senjaku, kenapa kau sekejap datang lalu menghilang, membawa kebahagiaan sepaket dengan kehilangan. Setelah kau pergi, hanya gelap dan sunyi yang menemaniku.

Tuhan, apakah ada Abi yang lain yang akan menemaniku sampai ujung waktu? Ataukah aku aku hanya ditakdirkan bersama bayangan Abi yang jelas sudah tidak ada?

Tuhan, sudah dua tahunku belum sanggup melepasnya, menyingkirkannya dalam hati dan benakku.

Tuhan, terserah-Mu hidupku akan dibawa kemana oleh-Mu, yang jelas, kuingin duka ini terhapuskan. Entah terhapus oleh waktu atau dihapus orang baru. Kutunggu seperti apa skenario-Mu selanjutnya.


Bersambung…..

Bekasi, 26 April 2020
nulisbareng/Athena Hulya

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan