Senja

Perjalanan Setelah Senja (Part 4-Finish) oleh Athena Hulya

Perjalanan Setelah Senja

(Part 4 – Finish)

Sebelumnya di https://parapecintaliterasi.com/perjalanan-setelah-senja-part-3-oleh-athena-hulya/

Ben yang selama kukenal dengannya bukanlah orang yang posesif, setelah berpacaran dengannya, ia sangat amat posesif dan mengekang. Setiap saat selalu melaporkan semua kegiatan yang kulakukan padanya, tidak boleh bertemu teman-temanku, dan bahkan aku diminta resign dari kantor tempatku bekerja karena aku tidak diperbolehkan menjadi tour guide, apalagi menjadi tour guide di Jogjakarta. Sebagai gantinya ia mempekerjakanku di kantor tempat ayahnya bekerja, di sebuah perusahaan ternama di Jakarta.

Namun ia salah, pekerjaan yang ia tempatkan untukku adalah pekerjaan yang mengharuskanku selalu pergi keluar kota, bukan hanya dinas di sekitaran pulau Jawa saja tapi harus ke pelosok Indonesia untuk menangani proyek-proyek perusahaan. Bukannya senang, Ben malah semakin mangkel. Hampir empat bulan bersama, hari-hari kami diisi dengan konflik. Bertengkar – berbaikan – lalu bertengkar lagi.

Aku mencoba bersabar dan bertahan dengan sifat Ben yang semakin hari semakin menjengkelkan, hubungan kamipun mengarah ke hubungan yang tidak sehat. Jika aku menyudahi hubungan kami, aku tidak mau menyakiti hati Ben. Ia sangat baik padaku dan kepada keluargaku. Kutahu sifat posesifnya adalah representasi rasa sayangnya untukku, makanya kulebih memilih bertahan ketimbang harus meninggalkannya.

***

“Na, nikah, yuk!” ucap Ben sambil mengeluarkan cincin dari saku celananya.

Aku yang sejak tadi fokus membaca novel favoritku, mencoba mencerna perkataan Ben. “Heee? Maksudnya?”

“Iya, kita nikah saja, kamu capek enggak, sih, kita bertengkar terus menerus. Mungkin kalau kita menikah hubungan kita akan semakin membaik, Na. Karena kamu sudah menjadi istriku, akupun bisa lebih sering memantau kegiatanmu, kan?”

“Kamu melamar aku? Ben, kamu tahu menikah itu bukan solusi atas permasalahan hubungan kita. Permasalahan kita itu cuma karena kamu yang terlalu posesif dan aku enggak suka itu. Yang harus diubah itu posesifmu!”

“Na, ayo kita nikah! Aku janji pas kita nikah nanti sifatku akan kuubah.” “Tiga minggu lagi aku akan berangkat ke Nabire, aku dipindahtugaskan ke sana. Aku pingin kita nikah di dua minggu ini. Aku juga sudah minta izin ke orang tuaku dan orang tuamu, mereka semua setuju,” sambung Ben.

“Kamu mau ke Nabire? Papua?”

“Iya, Na. Makanya aku mau kita menikah dan kamu ikut aku ke sana. Aku enggak mau ninggalin kamu dan enggak mau LDR!”

Aku terdiam dan menghela napas panjang, mencoba menemukan jawaban yang tepat akan pernyataan Ben barusan. Aku harus memilih salah satu dari dua pilihan yang sulit. Memilih untuk menikah lalu tinggal di Nabire, kota yang jelas-jelas aku tidak tahu pasti seperti apa keadaan di sana. Atau memilih menyudahi hubungan ini namun kalau aku menyudahinya aku akan membuat Ben sakit hati. Setelah Abi meninggal aku takut terhadap komitmen, pernikahan. Namun aku tak mau menyakiti Ben, pikiranku kalut dibuatnya.

“Ben, kasih aku waktu untuk berpikir, ya!”

“Berapa lama? Aku tahu, Na. Kamu bingung dengan lamaranku yang mendadak ini. Tapi aku serius, Na, sama kamu! Aku janji akan jadi suami yang sangat baik untukmu.”

“Tiga hari! Tiga hari lagi, kita ketemu di coffee shop ini lagi ya. Di jam yang sama juga.”

“Aku pingin kamu pegang cincin ini, Na. Nanti saat kamu memutuskan tolong kamu pakai, ya!”  ucap Ben sambil menyodorkan cincin bermata safir.

***

Masih memakai baju praktik, Ben menghampiriku yang sedang menyeruput cappuccino. “Maaf aku telat, Na. Tadi banyak pasien di UGD.”

“Enggak apa-apa! Nih, aku sudah pesankan americano extra shot dan croisant keju untukmu.”

“Jadi?” Ben yang agak gugup mencoba memulai pembicaraan.

“Dimakan dulu saja croisantnya. Mumpung masih hangat, Ben!”

“Aku butuh jawabannya sekarang! Enggak mau, ya? Hmmm, aku sudah duga jawabannya,” ucap Ben sambil menatapku dalam.

“Hmmm, Ben! Kalau kamu mau ke Nabire, ya udah, pergi saja. Aku belum bisa menikah sama kamu, Ben!” tegasku sambil menyodorkan kembali cincin yang tiga hari lalu Ben berikan padaku.

“Na, kamu yakin?”

“Iya! Kalau boleh jujur, aku belum sepenuhnya move on dari mantanku, Yosef Abirama. Aku takut kalau aku menikah denganmu, aku malah menyakiti hatimu karena terkadang pikiranku masih saja tertuju pada Abi dan kenangan-kenangan tentangnya belumlah tertutup rapat. Aku tak mau kamu berada di bawah bayang-bayang Abi, Ben! Selama empat bulan bersamamu, aku belum juga jatuh hati padamu.”

“Kita bisa sama-sama belajar, kok, Na. kamu belajar untuk lupakan Abi dan menyayangiku sedang aku belajar untuk meredam sifat burukku. Kamu serius, Na?”

“Aku sangat serius.”

“Jadi, kita tetap berpacaran? Kamu tahu kan, aku paling enggak bisa LDR, apalagi LDRnya jauh.”

“Mau kamu?”

“Aku ikuti kemauan kamu, semua keputusan ada di tangan kamu, Na.”

“Aku enggak bisa kasih kamu keputusan yang pasti, Ben!”

“Ya udah, aku bebasin kamu, aku lepasin kamu. Kita sudahi saja hubungan kita. Kita putus!” Benpun marah dan meninggalkanku sendiri di coffee shop.

Dua jam lebih aku masih duduk di coffee shop dengan pikiran yang kalut marut. Aku telah menyakiti orang sebaik Ben. Yang kukira dengan Ben aku sudah mencapai batas akhir pencarian. Mendadak perjalananku terhenti, aku harus melanjutkan perjalananku kembali. Mencari dia yang Tuhan tetapkan untuk menemaniku sampai akhir hidup ini.

Siapa yang akan kutemui setelah Benny? Entah di perjalanan ke berapa perjalananku benar-benar terhenti. Kuharap setelah ini, aku tak menemui persinggahan yang kupergunakan untuk pelarian namun kutemukan rumah untuk tempatku menetap.

Bersambung…

13 Juni 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan