Senja

Perjalanan Setelah Senja (Part 3) oleh Athena Hulya

Perjalanan Setelah Senja (Part 3)

Sebelumnya di https://parapecintaliterasi.com/perjalanan-setelah-senja-part-2-oleh-athena-hulya/

Di lobi hotel, terlihat Rei sedang duduk, ia menungguku dengan wajah agak cemas.

“Jam berapa sekarang? Gue tahu, lo, tuh, tahu seluk-beluk Jogja tapi, ya, kalo udah larut ngerti pulang, dong, di sini ada yang nungguin, nih.”

“Baru juga jam sebelas, bawel lo, ah. Kek nenek gue!”

“Heeehh! “

“Habis dari mana aja?” cecar Rei sambil mengikutiku masuk ke lift.

“Tadi cuma jalan-jalan di sekitaran Malioboro terus mampir ke Espresso-hood buat ngopi.”

“Sendirian banget?”

“Iya lah, sama siapa lagi emangnya?!”

“Kirain ketemuan sama siapa gitu, Kanu misalnya!”

“Dih, gue enggak kenal sama dia ya, Rei!”

“Gue ngerasa, kok, lo kenal dia ya, Na!”

“Bodo, ah, dibilang enggak kenal, ya, enggak kenal, Rei. Udah ya, gue masuk ke kamar dulu, bye.

Merebahkan diri setelah seharian tenaga terkuras adalah hal yang membuat nyaman, ditambah dengan mendengarkan musik instrumental, otak dan hati merasa tenang. Semakin larut dalam suasana sepi, aku memikirkan kembali tentang Abi dan kejadian-kejadian yang dilalui hari ini. Ya, aku memang benar-benar harus move on, mengikhlaskan Abi. Kujuga mengingat kalimat yang mas Rian bicarakan padaku bahwa ikhlas bukanlah tentang melupakan, melainkan saat mengingat dirinya dan segala kenangannya, bukan lagi kesedihan yang dirasa namun menimbulkan rasa yang beda. Rasa yang dapat melegakan hati dan dapat membuat tersenyum.

***

            Setelah seminggu di Jogja, aku dan Rei pun kembali ke Jakarta. Seperti biasa, aku disibukan dengan usaha cateringku sembari berproses menjauhkan Abi dari ingatanku. Kata orang sibuk melakukan aktivitas adaalah salah satu cara paling ampuh untuk move on, makanya akan kucoba cara itu.

~~Nada dering ponsel (River Flows In You – Yiruma)~~

“Assalamualaikum, Dek. Kamu di mana?” tanya kak Neina di seberang.

“Waalaikumussalam. Baru selesai antar pesanan, Kak. Sebentar lagi aku pulang.”

“Cepat pulang, Dek. Bapak sakit. Aku dan mama akan ke RS Pelita, ya. Nanti kamu menyusul!”

“Loh, sakit apa? Yaaa.. aaa udah aku segera pulang,” tanyaku panik.

“Enggak tahu, pokoknya kamu harus menyusul ke RS Pelita, yaaa.”

***

            Sesampainya di rumah sakit, aku mencari-cari ruang UGD, tempat bapakku di berada. Kakakku sedang mengurus administrasi dan mama berada di ruang tunggu UGD.

“Loh bapak sakit apa, Ma?

“Baru di observasi, dokter bilang bapak terkena penyakit jantung. Lebih jelasnya coba kamu tanya dokter yang ada di dalam. Mama enggak paham.”

Akupun bergegas masuk ke dalam ruangan dan menemui dokter yang sedang berjaga di sana. Terjadi percakapan antara kami. Inti dari percakapan percakapan kami bahwa bapak terkena Kardiomiopati dan akan di rawat di ruang ICU.

Beberapa hari menjaga bapak di rumah sakit membuatku kelelahan, ditambah lagi bapak dirawat di ICU. Ruangan yang paling aku takuti, karena saat kumelihat ICU aku kembali mengingat keadaan Abi setelah kecelakaan dua tahun lalu. Sebenarnya kalau tidak karena terpaksa mengurus bapak, aku tak sanggup untuk berhadapan langsung dengan ruangan itu. Saat berada di ICU, aku langsung keringat dingin  dan jantung berdegup kencang.

***

“Kamu Athena Mayla bukan, sih?” tanya seorang dokter berkacamata yang berdiri di sampingku saat kusedang meminum kopi di kantin rumah sakit.

“Iyaa, Dokter kenal saya?”

“Aku Ben! Benny Widjaya, kita teman satu komunitas di Yayasan Kanker Anak. Benar, kan, kamu Athena?”

“Oh ya, Ben ketua komunitas itu kan, ya. Apa kabar? Kamu dokter di sini?”

“Alhamdulillah baik hehe. Aku dokter umum di sini.”

Aku mempersilakannya duduk, kami berduapun mengobrol banyak.

Sebulan setelah pertemuan di kantin rumah sakit aku dan Ben semakin dekat, kami sering bertukar cerita, terkadang jika tidak sama-sama sibuk kami kerap kali menghabiskan waktu bersama. Sampai suatu waktu Ben mengungkapkan perasaannya padaku, ia bilang mencintaiku. Terkejutku dibuatnya, karena sangat ingin terlepas dari bayang-bayang Abi, akupun mengiyakannya. Walau aku belum ada perasaan apapun padanya, mungkin lama-kelamaan perasaan sayang pada Ben perlahan akan timbul dengan sendirinya. Bukankah dengan adanya orang baru akan mempercepat proses move on, pikirku.

Bersambung .…

6 Juni 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan