Senja

Perjalanan Setelah Senja (Part 2) oleh Athena Hulya

Perjalanan Setelah Senja

Part 2

Sebelumnya di https://parapecintaliterasi.com/perjalanan-setelah-senja-lanjutan-senja-ikhlas-itu-apa-oleh-athena-hulya/

“Kenapa enggak coba kenalan sama Kanu?” ucap Rei saat kami sedang memesan sate klathak Pak Pong.

“Enggak ah, malas.”

“Atau mau gue kenalkan dengan teman-teman cowok gue? Atau mau gue dekatkan sama Robby? Robby kan menyukaimu, Na. Tapi sayang waktu itu kamu sudah bersama Abi. Ya? Mau tidak?”

“Robby? Si tukang pukul itu? Enggak! Gue enggak mau berhubungan dengan cowok berandal macam itu. Terakhir kali gue lihat dia sedang memukuli seseorang.”

“Iya sih, dia emang tempramen. Tapi dia masih ngarep sama lo, Na. Dan juga dia sudah bekerja di perusahaan ternama, loh, Na! Enggak mau coba?”

“Enggak, Rei!”

“Terus, lo mau sama siapa? Di balik move on seseorang, selain ada waktu yang menyembuhkan ada pula seseorang yang membantu membalut luka. Itu yang sering lo bilang ke gue kan, Na?”

“Ya, enggak tahu. Tapi enggak gitu juga! Udah ah, pesanan kita udah datang, tuh,” ucapku sambil menunjuk ke arah pelayan yang sedang mengantar pesanan sate kami. Kamipun menghabiskan sate tersebut.

“Nanti lo pulang ke hotel duluan aja, ya, Rei. Gue mau jalan-jalan sendirian naik trans Jogja. Mumpung cuaca malam ini lagi bagus!”

“Ikut, ya?”

“Enggak! Bye, Rei. Sampai ketemu di hotel.”

Aku bergegas pergi meninggalkan Rei yang terlihat sebal karena aku tidak mengizinkannya ikut bersamaku.

***

Waktu menunjukan pukul 20.30, jalanan masih ramai lalu-lalang kendaraan, aku menunggu trans Jogja di halte Sugiyono 2. Bus yang kutunggu hampir sepuluh menit akhirnya muncul. Seperti biasa orang-orang yang keluar dari bus lah yang didahulukan, bus tersebut penuh makanya kami yang akan masuk harus menunggu agak lama.

Drrrtt Drrrrttt Drrrrtt, ada pesan whatsapp masuk di ponselku yang ternyata dari mas Rian.

“Dek, gimana? Mau tidak kukenalkan pada Kanu?”

Aku yang bergegas masuk kedalam bus, mendadak tersenggol oleh seseorang. Ponselku jatuh dan diambilkanlah oleh seorang yang menyenggolku itu, yang ternyata adalah seorang pria. Aku tak terlalu memperhatikannya, namun yang kutahu ia memakai baju merah dan tercium aroma parfum cokelat. Wanginya seperti wangi pria yang menyenggolku di potentiarte siang tadi.

“Maaf, ya!” ucap pria itu sambil memberikan ponselku.

“It’s okay!” Aku meninggalkannya dan langsung beranjak masuk ke dalam bus yang akan menuju ke arah Jalan Katamso.

Duh, bodohnya, kenapa tidak mengucapkan terima kasih pada orang itu sih, kenapa cuma bilang it’s okay! gerutuku dalam hati. Aku sejenak berpikir apakah orang itu adalah orang yang sama, yang menyenggolku siang tadi di potentiarte. Ah, entahlah.

Akupun membalas pesan dari mas Rian, “nanti saja, Mas, kalau kumau akan kuhubungi kamu. Haha.”

“Oh ya sudah, Mas pengin bantu kamu move on, Na.”

“Btw, dia teman sekelasku di Teladan, Na. Rumahnya di Jalan Ireda dekat Ramayana Ballet. Dia juga seorang musisi. Kamu kan senang sama cowok yang bisa bermain alat musik, Na!”

Aku hanya membalasnya dengan emotikon jempol.

Berjalan-jalan berkeliling naik trans Jogja di malam hari adalah satu hal kesukaanku saat berada di Jogjakarta. Hati merasa sangat senang karena sudah lama tidak berkeliling seperti ini. Dulu saat aku masih bersama Abi, aku jarang sekali diperbolehkan naik trans Jogja karena ia merasa transportasi umum tidaklah begitu aman untuk seorang wanita apalagi jika berdesak-desakan.

Tak terasa aku sudah sampai di halte tujuan tempat ku turun. Baru sadar sepanjang perjalanan ku sibuk mengingat-ingat kebersamaanku bersama Abi di Jogjakarta beberapa tahun lalu. Berjalan kaki menyusuri Jalan Malioboro di malam yang semakin menggelap dengan diiringi suara kendaraan yang tak henti-henti berbunyi, aku berkata dalam hati, “aku tak boleh lagi mengingat-ingat Abi, ia sudah meninggal. Hidupku masih panjang, kuharus move on. Melalui hari bersama dengan orang yang memang benar-benar Allah kirimkan untukku!”

Bersambung…

30 Mei 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan