Senja

Perjalanan Setelah Senja (Lanjutan Senja, Ikhlas Itu Apa?) oleh Athena Hulya

Perjalanan Setelah Senja

Part sebelumnya di https://parapecintaliterasi.com/senja-ikhlas-itu-apa-part-3-oleh-athena-hulya/

Tak apa menangis pilu karena hilangnya senja,
Itu tak masalah
Tapi ingat, janganlah berlarut.
Kau tahu, saat senja hilang terbawa gelap
Setelahnya akan datang fajar .…
Ia menyapa dengan kehangatan
Ia akan membawamu lihat indahnya dunia
Dunia yang benderang nan berwarna
Menunjukan keajaiban-keajaiban yang tak kau lihat saat senja.

Memang,
Butuh waktu untuk menemuinya
Butuh sabar untuk menyapanya
Tapi tunggulah, fajar pasti datang!
Dia datang saat dirimu sudah benar ikhlas kehilangan senja

Percayalah,
Saat sang fajar tiba dia tak ‘kan meninggalkanmu
Akan di sisimu, selamanya sampai hayat terlepas dari dunia

***

            Reihan tidak bicara sepatah katapun padaku sepanjang perjalanan pulang dari Parangtritis, kutahu ia memberiku ruang untuk berpikir tentang semua kejadian yang terjadi di Parangtritis tadi.

            “Rei, nanti kita salat dulu, yuk, di masjid Arrayan Wirosaban. Tadi kan, kita juga belum salat Magrib,” ucapku.

            “Tuh, kan, mulai lagi. Sekian banyak masjid di Jogja kenapa harus Arrayan sih? Tadi baru aja bilang ikhlasin Abi, tapi sekarang begitu lagi. Kalau begitu, mah, bukannya lupa malah semakin ingat,” jawab Rei sembari menghela napas.

Memang Arrayan adalah salah satu tempat paling berkesan untukku dan Abi, karena di masjid itu pertama kalinya Abi berkata ingin menjadi mualaf, di sana pula Abi menjadi seorang muslim dan banyak belajar ilmu agama. Agama Abi sebelumnya adalah Nasrani, setelah tiga tahun berpacaran denganku barulah ia memutuskan menjadi muslim.

            “Iya, memang mau ikhlas, tapi kan, butuh waktu, Rei, enggak bisa ujug-ujug langsung move on, ikhlas! Pokoknya gue mau salat di sana, enggak mau tau!” sahutku.

            Reihan tak menyahutiku lagi, ia kembali sibuk menyetir.

***

            Selesai salat dan akan memakai sepatu di pelataran masjid, dari jauh terdengar seorang pria memanggil namaku. “Athena, Athena mayla!”

Seketika aku menengok ke sumber suara yang tepat di belakangku.

            “Loh, mas Rian?” tanyaku kaget.

            “Kamu di sini, Dek. Sejak kapan?” tanya Rian.

            “Baru sampai tadi siang, Mas.”

            “Mampir ke rumahku, yuk, udah lama kita enggak ngopi dan ngobrol,” ajak Rian.

            Aku dan Rei pun membuntuti mas Rian yang telah berjalan di depan kami menjuju rumahnya yang terletak hanya beberapa meter dari masjid. Langkahku terhenti dan pandanganku terfokus pada sebuah bangunan rumah setengah jadi yang letaknya persis di samping rumah mas Rian.

Are you okay, Na?” ucap Reihan pelan.

Belum sempat kumenjawab, mas Rian nyeletuk, “ini seharusnya rumahmu ya, Na. Tapi Allah berkehendak lain. Aku turut berduka atas meninggalnya tunanganmu ya, Na.”

Aku hanya membalasnya dengan senyum datar.

            Di rumah mas Rian sembari meminum kopi, mas Rian bercerita tentang kenangannya dengan Abi. Ia memintaku untuk mengikhlaskan Abi dan memulai hubungan bersama orang baru. Tak luput ia pun menawarkanku untuk berkenalan dengan teman-teman. Ia menyebutkan beberapa nama, salah satunya Kanu Arestian. Entah kenapa saat mendengar nama itu aku merasa terkejut, nampak tidak asing dengan nama tersebut. Padahal aku tidak punya teman yang bernama Kanu.

***

Bersambung…

23 Mei 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan