Sumber: Salman al farisi

Perasaan Umi oleh Nopiranti

Perasaan Umi

(Nopiranti)

Obrolan sore kemarin selepas Asar. Bilqis baru selesai mandi lalu berpakaian rapi. Sambil menyisir rambut menghadap cermin, Bilqis melontarkan pertanyaaan pada Umi.

“Umi, kalau hati diputusin rasanya gimana?”

Umi yang sedang menatap layar laptop bersiap menuangkan ide tulisan, melirik sebentar ke arah putri bungsu yang baru berumur 6 tahun lewat 3 bulan itu.

“Kalau hati putus, ya mati dong kita,” jawab Umi yang langsung disambut sanggahan oleh Bilqis.

“Bukan begitu, Umi. Maksudnya kalau Umi pacaran …,” belum selesai Bilqis bicara, Umi sudah merasa tersengat listrik. Kaget.

“Umi enggak pacaran! Enggak boleh pacaran!” sanggah Umi sambil menatap Bilqis serius.

“Enggak, Umi. Ini sih, misalnya. Misalnya kalau Umi pacaran, terus diputusin. Perasaan Umi gimana?” tanya Bilqis sekali lagi meminta jawaban Umi.

“Pasti enggak enak kan, rasanya, Umi? Sakit ya, hatinya?” belum juga Umi jawab, si cantik sudah menjawab duluan.

Sambil menatap si bungsu yang selalu saja punya topik keren untuk ditanyakan, Umi mencoba menjelaskan sesuatu yang penting padanya.

“Umi kan, sering bilang sama Bilqis. Belajar dulu yang benar. Enggak boleh pacaran. Berteman saja. Ok?” ucap Umi pada si cantik Bilqis.

Bilqis senyum-senyum saja mendengar perkataan Umi. Entah dia mengerti atau tidak.

Duh, Umi jadi khawatir nih. Si bungsu memang baru kelas 1 SD. Namun pengaruh acara TV, konten internet, dan obrolannya dengan teman-teman di sekolah, kadang suka bikin miris.

Menurut Umi sih kadang pemikiran Bilqis itu terlalu dewasa. Belum waktunya Bilqis tahu hal tersebut, maksudnya.

Tapi, Umi juga tidak sepenuhnya menyalahkan anak. Bagaimana pun orang tualah penentu baik buruk nya akhlak buah hati. Terlalu mengekang pergaulan anak juga bukan solusi yang tepat.

Umi sih, lebih memilih menjadi teman saja buat anak-anak. Selalu menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan mereka. Mencari waktu dan cara yang tepat untuk menyampaikan dasar-dasar aqidah yang lurus dan benar. Pondasi awal untuk kokohnya bangunan akhlak mereka.

Umi juga harus kreatif bertanya pada anak untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi tentang mereka. Atau justru Umi yang diam untuk lebih banyak mendengarkan anak-anak bercerita. Menyenangkan sekali mendengar anak bebas bercerita kisah keseharian mereka.

Umi jadi banyak belajar berbagai hal yang Umi tidak tahu. Banyak masukan untuk perbaikan pola asuh anak ke depannya. Bisa dapat banyak ide juga untuk bahan tulisan. Seperti cerita Bilqis ini. Semoga juga bisa menjadi jalan datangnya kebaikan untuk yang membaca tulisan Umi.

Dengan komunikasi yang baik, Umi berharap akan tercipta rasa aman, nyaman, dan percaya anak pada orang tua. Sehingga mereka selalu menjadikan Umi dan Abi sebagai orang pertama tempat mereka berbagi perasaan. Tidak sembarangan memilih teman curhat yang bukannya membantu meringankan masalah. Namun, justru menjerumuskan mereka pada pergaulan yang berbahaya.

Semoga Allah menjauhkan anak-anak Umi dari fitnah zaman yang merusak. Aamiin yaa mujibassailiin.

Jumat, 6 November 2020
NulisBareng/Nopiranti

0Shares

One comment

  1. Bilqis putri yang cerdas Bu…
    Orang tua hanya mengarahkan apa yang pantas untuk anak seusianya.. Orang tua juga bagus menjadi teman untuk anak…

Tinggalkan Balasan