Penampakan

Penghuni Lantai 16 oleh Athena Hulya

Penghuni Lantai 16

Waktu sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, aku masih saja sibuk mempersiapkan dokumen-dokumen untuk presentasi besok pagi. Kantor sudah mulai sepi hanya tersisa aku dan Eric, kepala di divisiku. Karena kami tidak suka dengan suara musik saat sedang bekerja, lembur kami hanya ditemani suara ketikan laptop dan mesin AC.

Saat aku dan Eric sedang terfokus pada pekerjaan masing-masing. Dari ruang filing yang letaknya berada persis di sebelah ruangan kami terdengar suara gedoran. Awalnya kami tidak merespon, tapi suara itu terdengar berkali-kali yang membuat kami terdistraksi.

Saat kuhendak berdiri ingin menegok ke sumber suara.

Eric berucap, “sekarang hari apa, sih, Nun?”
“Senin. Kenapa?” jawabku.
“Waduh! Nun, lo bukan orang penakut, kan? Soalnya kalau setiap Senin, Rabu, dan Sabtu biasanya di kantor ini ada yang sering usil. Terkenal banget, Nun, usilnya, suka wara-wiri di lobi dan sering gangguin teman-teman divisi lain kalau lagi lembur. Please, Nun, kalau lo takut jangan teriak, ya!” ucap Eric.
“Bentuknya kek apa? Kalau bentuk yang berdarah-darah, ya, jelas gue takut, soalnya gue pernah lihat yang kek gitu. Eh, besoknya langsung demam,” jawabku sembari tertawa.
“Kakek-kakek Belanda, Nun, pakai tuxcedo bawa tongkat dan kadang suka menuntun anak laki-laki. Karyawan-karyawan lama di sini biasa nyebutnya Si Kakek Lantai 16, karena munculnya cuma di lantai 16 saja, kantor kita. Kadang juga ada mbak Kun yang suka uncang-uncang kaki di atas meja resepsionis, tapi kalau yang ini gue belum pernah lihat, sih. Cuma katanya saja. Kita lihat, ya, malam ini siapa yang muncul, si kakek atau mbak Kun?!” bisik Eric seraya berpindah posisi duduk, yang tadinya berhadapan denganku kini ia berada persis di sampingku.
“Ooooooohh,” jawabku singkat.


Suara gedoran yang sedari tadi berbunyi, sudah tak terdengar lagi. Kami pun kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang belum rampung. Saat sedang konsentrasi menatap layar laptop, tiba-tiba terdengar suara tuk tuk tuk tuk, seperti suara tongkat. Karena penasaran, aku dan Eric pun mencari sumber suara. Kami keluar ruangan, Eric menghidupkan sebagian lampu kantor yang sejak petang tadi sudah dimatikan oleh Cleaning Service sedangkan aku membuntutinya di belakang. Stop kontak lampu-lampu itu terletak di dekat pintu masuk kantor yang letaknya tak jauh dari meja resepsionis, berhadapan dengan pintu masuk terdapat lorong yang di sana terdapat lift barang.


Selesai menghidupkan lampu, mata kami terfokus pada dua sosok yang berjalan akan menembus masuk kedalam lift barang, sosok kakek tua yang sedang menuntun anak kecil tanpa kepala dengan leher berdarah, seperti yang diceritakan Eric, kakek itu terlihat seperti kakek Belanda dengan rambut putih, berpakaian rapi memakai tuxedo dan membawa tongkat. Namun hantu anak kecil terlihat berbeda, ia berpakaian jas kecil kumal dengan adanya percikan-percikan darah dan noda tanah. Hantu anak kecil itu terlihat seperti anak berusia tujuh tahun, dilihat dari ukuran tinggi badannya.


Kami hanya terdiam dan perlahan berjalan mundur dengan pandangan yang tak lepas dari dua sosok penampakan yang hilang menembus lift. Saat memutar badan untuk kembali ke ruangan, di atas meja resepsionis ada kuntilanak sedang asyik duduk. Ia menunduk dengan pakaian putih kecokelatan menjuntai dan rambutnya gimbal tak terlalu panjang.

Sontak kami berucap Astaghfirullahaladzim berbarengan, lalu mempercepat langkah menuju ruangan. Sesampainya di ruangan, akupun berkata, “gila, ya, tiga-tiganya keluar barengan. Kaget gue!”

Dengan wajah pucat, Eric hanya terdiam dan merapikan pekerjaannya, secepatnya akan pulang.
“Rapihin meja lo, Nun. Besok lagi kita selesainnya. Besok gue bantuin kerjaan lo yang kurang. Pokoknya kita harus segera pulang,” ucap Eric.
“Badan gue lemas tahu, enggak, habis lihat setan-setan itu. Biasanya gue lihat cuma kakek Belanda saja, kenapa muncul dua lainnya, sih. Katanya mereka yang pernah lihat anak kecil itu seperti anak kecil biasa, lah, kenapa kepalanya enggak ada, sih, syok gue, loh,” ucap Eric lagi.


“Iya, udah buntung, berdarah-darah juga ya, lehernya. Emang setan, tuh, setannya,” jawabku.

Baca juga https://parapecintaliterasi.com/di-persimpang-jalan-oleh-athena-hulya/

Kamipun beranjak pulang, di sepanjang perjalanan turun lift dari lantai 16 ke lantai Grand Floor. Kami bercakap memaki-maki setan-setan yang tadi kami lihat di kantor.
Sesampainya di lobi seorang satpam menyapa kami, terjadi percakapan kecil antara kami bertiga. Ia menanyakan kenapa kami lembur di hari Senin yang notabenenya terkenal hari terseram untuk gedung kantor kami dan ia menanyakan pula hantu yang mana saja yang sudah kami lihat malam ini.


“Ah, Pak, kita sudah melihat ketiganya malam ini. Ya, kakek Belanda dan cucunya si kepala buntung dan juga kuntilanak songong yang duduk di atas meja,” jawabku.
“Wah, Mbaknya, bisa lihat setan juga? baru seminggu, kan, ya, di sini? Baru seminggu saja sudah dilihatin sama penghuni-penghuni lantai 16. Nanti kalau Mbaknya main-main ke aula lantai 23 ada hantu noni belanda atau ke lantai 11 ada kepala buntung dengan mata merah yang sering muncul di toilet pria. Di gedung ini tiap lantainya ada penghuninya, Mbak. Cuma yang saya sering lihat, sih, yang di lantai 23 dan lantai 11 saja,” ucap Pak Satpam.

Ada rasa sebal dalam hati saat pak satpam bilang begitu, pekerjaanku pun menuntut untuk sering lembur. Duh, matilah aku!, gerutuku dalam hati.


“Hayo, siap-siap ketemu yang lebih ngeselin dari tadi loh, Nun. Lo pasti, kan, sering lembur nantinya. Kira-kira di lembur selanjutnya ketemu siapa, ya?” sahut Eric menakut-nakuti.
“Entahlah, sudah biasa aku bertemu yang seperti itu, Ric. Jadi ya, santai aja! Paling juga akhirannya aku berteman dengan mereka,” jawabku sambil tertawa terbahak.

Sungguhlah itu pengalaman pertamaku sebagai anak baru yang lembur di kantor menyeramkan. Setelahnya memang aku sering melihat hantu-hantu penghuni lantai 16, di setiap kali lembur. Untung saja, kalau kusedang lembur selalu ada temannya, jadi tidak takut.

Bekasi, 9 Mei 2020
Nulisbareng/Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan