Hantu

PENGHUNI KELAS MALAM (Putri Zaza)

PENGHUNI KELAS MALAM

Setelah berhasil memasuki gedung sekolah melalui pintu lantai empat yang menghubungkan, asrama dengan sekolah  yang tak dikunci aku dan kedua teman menelusuri lantai demi lantai. Jam menunjukkan pukul 01.30, waktu yang pas sebelum pembina kamar membangunkan untuk salat tahajud.

Lantai empat, di setiap lantai ada delapan ruangan kelas dan dua kamar mandi. Setiap kelas memiliki jendela kecil yang terdapat pada pintu.

Gubrak…

“Nah, loh,” ucap Rizki dan kami semua saling melempar pandang.

“Udah, jalan lagi ajah, cuma iseng.” Dengan sok jagoan kami bertiga melanjutkan tur melewati lorong gelap tanpa bicara. Target kami adalah kamar mandi karena di sanalah sarang mereka yang tak kasat mata.

Setelah dirasa hanya bunyi bangku yang dibanting kami mulai turun ke lantai tiga dan menuju kamar mandi perempuan diujung lorong. Tidak ada apa-apa, lanjut menuju kamar mandi laki-laki. Sepanjang jalan setiap ruang kelas muncul bunyi yang berbeda-beda. Ada suara ketukan, bangku yang diseret dan bunyi decitan papan tulis karena papan tulis di sini memiliki roda, bukan papan tulis permanen.

“Qih, denger enggak?” tanya Rio kepadaku, suara perempuan menangis dari dalam kamar mandi laki-laki, sura tersebut makin terdengar jelas akhirnya kami lari menjauhi kamar mandi. Sesampainya di depan tangga kami beristirahat dengan duduk selojoran di lantai. Jantung rasanya mau copot dada terasa berat untuk mengambil napas, hawa di lantai ini lebih pengap dibandingkan dengan lantai empat.

 “Aaa…” Kami spontan teriak dan berlari ke lantai dua. Suara laki-laki mendengkur sangat keras berasal dari ruangan di depan tangga, bukan hanya bulu kuduk yang berdiri tapi debar jantung yang semakin terpacu. Sebelum dengkuran ada sayup-sayup suara ‘pergi’ disertai angin yang mengenai tengkukku brr…. Padahal gedung ini sangat tertutup tak ada jendela kecuali di ruang kelas.

“Udahan, yuk!” ujar Rizki, sepertinya kakinya sudah tak kuat menopang tubuhnya kini ia terduduk di lantai. Aku dan Rio melanjutkan penelusuran menuju kamar mandi  perempuan di lantai dua. Berbeda dengan kamar mandi yang lain di sini terdapat gudang tempat bangku-bangku yang rusak disimpan.

“Eh, itu apa?” bisikku kepada Rio sambil kusenter benda yang kumaksud.

“Rambut, Qih. Bentar gua coba tarik.” Masih dengan menyorot ke benda, seperti rambut yang panjang di antara tumpukan kayu bangku.

“Hati-hati!”

Brak…

Tak sengaja Rio menjatuhkan salah satu bangku dan rambut tersebut menghilang. Tak lama kami berdua lari terbirit-birit karena mendengar suara cekikikan kuntilanak dari tempat munculnya rambut tersebut.

“Eh, tungguin!”  ujar Rizki yang melihat kami lari dan melupakannya. Karena tak berani melalui tangga utama akibat suara dengkuran, aku memutuskan lewat tangga darurat, kotor, berdebu dan tak terurus karena sudah tak pernah digunakan. Sesampainya di kamar asrama. Baju yang kami pakai bahas kuyup seperti habis menerjang hujan.

Cibitung, 9 Agustus 2020m

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

Tinggalkan Balasan