Hantu

PENCULIK JANIN (Putri Zaza)

PENCULIK JANIN

Drrt … Ponsel milik Anisa bergetar di atas meja rias, sang pemilik sedang sibuk menyiapkan hidangan makan malam untuk keluarga kecilnya.

Drrt … Ponselnya kembali bergetar setelah sunyi selama lima menit.

“Assalamualaikum, ada apa, Dew?”

“Waalaikumussalam. Anak Dewi hilang, Mbak!”

Allah.

Anisa terdiam sedang adiknya di ujung sana tak dapat menahan tangisnya. Kehilangan anak yang masih dalam kandungan bukanlah pertama kali bagi Dewi, tapi kali ini usia kandunganya sudah lima bulan setiap hari ia mengajak bicara sang jabang bayi dan merasakan tendangan manja dari dalam perutnya.

“Mbak, tolong bantu aku. Kiyai Umar meminta banyak doa dari Mbakyu-Mbakyu untuk membantu mengembalikan anakku.”

Kiyai Umar adalah ulama yang memiliki tempat pengobatan alternatif, sejak kejadian hilangnya janin di dalam kandungan Dewi satu tahun lalu.

Dewi menceritakan semuanya. Saat pagi hari seperti biasa ia mengelus perutnya namun sayang perut bucitnya sudah tak lagi membuncit. Segera ia menghubungi suami untuk cek ke dokter kandungaan yang menangani kandungannya.

“Kemarin saya cek bayi sehat, tapi … kenapa sekarang kosong ya, Bu?” Dewi pun menceritakan semuanya dan memohon doa agar bayinya bisa kembali.

“Mbak, Kiyai Umar bilang masih ada kemungkinan untuk direbut kembali karena bayinya belum dijadikan tumbal.”

Dewi dan Ali, lima tahun sudah mereka menikah dan menginginkan keberadaan anak, tahun ini mereka sudah sangat tidak sabar menunggu empat bulan menuju persalinan, sayang disayang. Sekali lagi mereka harus bersabar walau, kali ini ada secercah harapan, dua puluh persen, bayi mereka bisa kembali.

Kiyai meminta semua saudara dari pihak Dewi untuk membaca surat Al Fatihah, An Nas, Al Falaq dan Al Ikhlas sebanyak 100 kali seusai salat tahajut dengan keadaan lampu kamar dipadamkan. Hanya yang memiliki hubungan darahlah dengan sang ibu yang bisa membantu walau, tak semua bisa tembus ke si pengambil janin.

Anisa tahu betul kesedihan yang dirasakan adik bungsunya ini. Malam pada hari Dewi memberi kabar ia langsung melaksanakan amalan yang diberikan Kiyai Umar.

Seperti biasa ia atur alarm pada pukul setengah tiga malam waktu yang sangat ideal untuk bermunajat kepada Sang Illahi.

Dengan khusyuk ia merapalkan semua surat dengan menutup mata. Saat surat terakhir yaitu surat Al Ikhlas.

“Astagfirullah!” ia tersentak kaget. Anisa membuka mata dan melihat punggung suaminya yang juga sedang bermunajat. Seketika keringatnya dingin bercucuran sepertinya AC di kamar tak dapat memberi kesejukan seperti biasanya.

Esoknya harinya, tepat setelah suaminya pergi bekerja dan ketiga anaknya berangkat sekolah. Anisa kedatangan tamu. Yani namanya, ia tetangga jauh yang sudah menganggap Anisa sebagai kakaknya. Cerita demi cerita, Yani utarakan karena dirinya sedang dalam proses perceraian dengan sang suami.

“Mbak, kok, tiba-tiba bau anyir, ya!”

Seketika Yani bangun dan mencari sumber baunya, tepat di depan pintu kamar tidur Anisa.

“Mbak, di sini banyak belatung, Astagfirullah.”

Anisa bergegas mengambil sapu dan pengki untuk menyingkirkan binatang menjijikkan ini. Ternyata bukan hanya di depan kamarnya, di ruang tamu, di ruang TV. Setiap sudut pojok secara misterius muncul bergerombol.

“Mas, rumah kita banyak belatung dari siang sampai sekarang bermunculan terus menerus, bisa tolong dicek lotengnya, sepertinya ada bangkai,” ucapnya menyodorkan teh hangat kepada suaminya yang baru saja selesai mandi.

Ketika dicek, nihil, tak ada bangkai bahkan tidak ada belatung sama sekali.

Drrt … Ponsel Anisa berdering.

“Assalamualaikum, Mbak,” sapa Dewi.

“Waalaikumussalam.”

Dewi bertanya mengenai hal-hal aneh apa yang dialami Anisa hari ini karena menurut info dari Kiyai Umar, Anisa akan dapat serangan balik karena amalan Anisalah yang dapat menyerang si penculik janin ini.

Anisa bercerita ketika saat membaca surat Al Ikhlas dengan memejamkan mata. Tiba-tiba muncul wajah pocong yang gosong dengan mata melotot yang memerah seperti marah dan belatung-belatung yang muncul tiada hentinya.

“Astagfirullah, tapi sudah dibersihkan oleh kiyai, Mbak, kata beliau perbanyak bacaan Alquran saja.”

“Lalu, bagaimana dengan bayinya, bisa kembali?”

“Tidak bisa, Mbak. Bayinya sudah meninggal karena tak kuat berada di luar kandungan, tapi aku bersyukur karena Rizky tidak dijadikan tumbal.”

Setelah mendengar kabar duka yang diutarakan Kiyai Umar, Dewi dan Ali sepakat memberi nama Rizky. Walau ia tak dapat terlahir ke dunia setidaknya dialah rezeki terindah yang diberikan Allah.

“Sabar ya, Dew. Insya Allah, gusti Allah akan memberikan balasan yang lebih indah atas kesabaran kalian berdua.”

Cibitung, 2 Agustus 2020

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

2 comments

Tinggalkan Balasan