Anak autis

Pencemaran Suara (Part 4: Lingkungan Memengaruhi Kesehatan) oleh Emmy Herlina

Pencemaran Suara

Tanah, air, udara, ketiganya merupakan elemen penting dalam kehidupan makhluk hidup tak terkecuali manusia. Bila ada pencemaran di antara ketiganya, maka akan berdampak buruk bagi kelangsungan alam ini. Namun ada dua jenis pencemaran lingkungan yang harus kita ketahui. Karena ternyata turut berdampak bagi kesehatan manusia. Kali ini tentang pencemaran suara.

Polusi suara adalah pencemaran dalam bentuk gelombang suara biasanya berupa suara bising yang mengganggu pendengaran. Contoh, deru mesin kendaraan, mesin suara pabrik, mesin penebang pohon dan lainnya. Polusi suara biasanya ditemukan di dalam fasilitas industri dan juga beberapa tempat yang tinggi akan aktivitas manusianya, seperti di jalan raya, stasiun, bandara, ataupun tempat yang sedang dalam proses pembangunan. Polusi suara juga bisa memiliki arti yaitu suara yang tidak dikehendaki. Suara tersebut bisa menyebabkan rasa sakit atau bisa juga menghalangi gaya hidup.

Sumber dari kebisingan dapat dikelompokkan menjadi 3 macam, yaitu:

  1. Vibrasi, sumber ini berasal dari gesekan, benturan ataupun ketidakseimbangan gerakan dan biasanya ditemukan pada mesin seperti roda gila, roda gigi, piston, bearing dan lain sebagainya.
  2. Mesin, suara yang dihasilkan dari aktivitas mesin.
  3. Pergerakan di udara atau gas dan air, kebisingan yang diakibatkan pergerakan yang terdapat di udara ataupun air dalam proses kerja industri seperti pipa penyalur cairan gas, gas buangan, jet, flare boom dan lain – lain.

Beberapa contoh bunyi atau suara yang menyebabkan kebisingan dapat diukur dengan desibel (dB) antara lain:

Orang ribut = 80 dB
Suara kereta = 95 dB
Mesin motor 5 pk = 104 dB
Suara petir = 120 dB
Pesawat jet = 150 dB

Menurut WHO, dampak yang diberikan dari polusi suara untuk kesehatan manusia antara lain:

  1. Gangguan pendengaran. Polusi suara atau kebisingan merupakan penyebab utama dari gangguan pendengaran pada manusia. Hal yang menyebabkan gangguan pada pendengaran bisa diakibatkan oleh paparan suara yang lebih dari 75 – 85 dB (desibel) dalam jangka waktu yang lama. Jika suara melebihi 85 dB akan sangat berbahaya dan menyebabkan pencemaran atau polusi suara sehingga berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Untuk mempermudah penghitungan, 30 dB merupakan suara yang berasal dari bisikan lembut, 80 dB adalah suara yang terdapat di jalan raya yang sibuk, serta 110 dB suara yang berasal dari gergaji mesin.
    Gangguan pendengaran biasanya disertai suara yang terdengar aneh, rasa sakit saat mendengar suara, sampai dengan tinitus yaitu suara berdenging di telinga. Tidak perlu khawatir, tinitus hanya bersifat sementara, Akan tetapi bisa menjadi permanen jika paparan suara yang didengar sangat lama.
  2. Akibat dari polusi suara yang lain yaitu kesulitan dalam memahami pembicaraan, sulit berkonsentrasi, kesalahan dalam pemahaman, menurunkan kapasitas kerja, kurang percaya diri, depresi serta diskriminasi.
  3. Gangguan tidur. Jika seseorang mengalami gangguan tidur, akan berakibat rusaknya suasana hati, menurunnya kinerja seseorang dan lain sebagainya.
  4. Menyebabkan gangguan mental, seperti kecemasan, gugup, panik, mual, perubahan suasana hati, histeris dan lain sebagainya.
  5. Bagi anak-anak sangat rentan terkena polusi suara, terutama akan berpengaruh pada tumbu kembang serta daya ingat. Anak-anak yang terkena polusi suara biasanya lebih lambat dalam belajar.

Bagaimana upaya pencegahan pencemaran suara yang bisa kita lakukan? Beberapa upaya pengendalian terhadap polusi suara, sebagai berikut ini:

  1. Menggunakan alat peredam suara.
    Menurut Dr. Ir. Bambang Riyanto Trilaksono, M. Sc yang merupakan seorang dosen elektro di ITB mengatakan, jika secara konvensional kebisingan dapat diredam menggunakan bahan-bahan peredam. Bahan tersebut dapat diletakkan di sekitar sumber bising ataupun di dinding ruang yang ingin dikurangi intensitas kebisingannya. Sejak tahun 1999, Direktur Jendral Bina Marga mencanangkan untuk memasang peredam kebisingan di bangunan.
    Dimensi bangunan peredam bising yaitu:
    Tinggi minimal 2,75 m (semakin tinggi, semakin baik).
    Tebal dinding minimal 10 cm.
    Untuk bahan bangunan peredam bising: merupakan hasil olahan industri yaitu beton ringan agregat atau ALWA, konblok dengan campuran semen : pasir : ALWA = 1 : 4 : 4. Dimensi konblok ALWA, 30 x 10 x 15 atau 30 x 15 x 15. Selain ALWA, dapat menggunakan bata merah atau batako yang dirancang khusus untuk dapat meredam kebisingan dengan baik.
  2. Pendidikan. Dari pendidikan juga, dapat mengetahui tentang pencemaran atau polusi suara serta efek negatif terhadap lingkungan serta makhluk hidup.
  3. Penyuluhan melalui pameran dan kampanye lingkungan, serta media massa. Penanggulangan polusi suara bisa dilakukan dengan melakukan kampanye atau pameran secara berkala di daerah yang memiliki tingkat polusi suara tinggi. Peran serta pemerintah juga sangat penting dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Agar masyarakat dapat sadar serta mengajarkan masyarakat untuk dapat mencintai lingkungan. Seiring perkembangan zaman, peran media massa tidak bisa dianggap sebelah mata. Melakukan penyiaran yang berkaitan dengan masalah lingkungan termasuk masalah polusi suara, bisa mengajak masyarakat untuk peka dan peduli terhadap lingkungan di sekitar. Selain itu, penyampaian informasi terbaru  akan lebih mudah menyebar di masyarakat terutama informasi yang berkaitan dengan masalah lingkungan.

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan