Pelukan Senja oleh Nopiranti

Pelukan Senja

(Nopiranti)

Desember romantis yang setia mencumbu bumi dengan rinai hujannya yang acap kali turun dengan gayanya yang beraneka, tak terasa akan segera berakhir. Semoga nanti Januari mesra datang menjelang mengantarkan hangat peluk mentari yang akan memekarkan senyum dan bahagia.

Meski hadirnya selalu basah dan membuat gigil hari-hari saya, tapi Desember juga sudah begitu baik hati. Padanya tersimpan kenangan indah yang dipersembahkan kekasih hati sebagai bingkisan hari jadi pernikahan, menjelang akhir Desember ini. Impian yang sudah bertahun kami rajut, akhirnya mewujud indah. Sebuah istana besar berpelataran luas terletak di pinggir desa yang asri dan sejuk. Sempurna seperti bayangan maket yang selama ini saya tempel lekat di benak.

Banyak yang mengatakan mencari rumah itu seperti mencari pasangan hidup. Jika belum jodohnya mau terus ditawarkan dengan cara apapun, tetap akan sulit saja bersatu. Namun, saat rasa sudah memilih, halangan apapun yang merintang, ijab kabul jual beli pasti akan terjadi juga.

Seperti yang terjadi pada kami. Sudah beberapa kali transaksi pembelian rumah selalu gagal. Entah itu dari pihak saya dan suami yang tiba-tiba merasa enggan melanjutkan proses pembelian. Kadang juga dari pihak penjual yang mendadak membatalkan sepihak kesepakatan yang sudah tinggal diakhiri dengan serah terima uang saja.

Namun, saat mata saya melihat rumah besar itu, entah mengapa saya sudah langsung jatuh hati. Ketika menyusuri ruang demi ruang di dalamnya, dada saya kembang kempis menahan gelembung bahagia. Terbayang di benak saya pernak-pernik apa yang nanti akan saya terapkan di setiap ruangan itu. Belum lagi halaman depan dan belakang yang lumayan luas. Menambah besar hasrat saya untuk segera berjabat tangan saja dengan pihak penjual. Kalau bisa saat itu juga saya pindah ke rumah itu.

Jika saya begitu bersemangat, lain lagi dengan suami. Terlihat ketidakyakinan di raut wajahnya. Seperti ada yang masih memberatkannya untuk memenuhi keinginan saya. Namun, karena saya terus bersikeras memohon padanya untuk langsung saja memberikan saja uang jadi sebelum rumah itu jatuh ke tangan orang lain, mau tak mau dia menurut juga. Tak terhingga bahagianya saya. Selengkung senyum sempurna yang paling indah, saya persembahkan untuk dia yang terkasih.

Tanpa menunggu lama, esok harinya kami langsung pindahan. Semangat yang membuncah membuat saya merasa berlebih energi. Banyak tangan terulur membantu. Namun saya teramat sangat turun tangan sendiri membersihkan dan merapikan rumah yang hampir dua tahun kosong ditinggalkan penghuni yang lama itu. Saya bersemangat sekali menata sendiri semua perabotan. Hingga petang menjelang, tak ada lelah saya keluhkan. Hanya rasa syukur yang terus mekar di hati. Betapa nikmat Allah begitu sempurna dan selalu sesuai dengan lintasan hati ini.

Tak terasa satu minggu sudah berlalu. Hujan beberapa hari ini membuat imun tubuh saya menurun. Batuk pilek melanda. Persendian terasa linu. Hari ini pun hujan masih saja turun, sejak pagi hingga sore hari ini seperti enggan melepaskan rindu pada bumi. Dinginnya membuat saya lebih suka mencari kehangatan di balik selimbut. Memeluk putra semata wayang yang pertengahan tahun depan akan genap berusia 5 tahun.

Pengaruh obat pereda demam membuat mata sulit terbuka. Damai terpejam menjemput kilasan mimpi indah yang berseliweran hadir di pelupuk. Hingga saya rasakan sepasang tangan kekar memeluk erat dari belakang. Disusul dengan kecupan hangat di pipi kiri dan belaian lembut di ubun-ubun, membuat saya terbangun sejenak. Aroma khas menyegarkan dari pakaian suami menggelitik penciuman.

Saya menggeliat, menatap seraut wajah dengan sorot mata tenangnya yang selalu membuat saya kangen. Sebuah kecupan lembut mendarat di kening. Saya balas dengan merapatkan tangan memeluk yang tercinta dengan hangat.

“Akang mau kopi? Neng buatkan sebentar ya,” ucap saya seraya melepaskan pelukan dan berusaha bangun.

Suami juga ikut bangun lalu duduk di pinggir tempat tidur. Saya lihat sepintas putra kami masih lelap tertidur.

Saya beranjak ke dapur. Menyeduhkan secangkir kopi pahit kesukaannya. Saya siapkan cangkir itu di ruang tengah. Saat hendak kembali ke kamar tidur untuk memanggil suami, terdengar gawai saya yang disimpan di rak buku dekat TV berbunyi. Tulisan “Sayangku” terlihat di layar monitor.

“Duh, suami jail deh. Masa manggil dari kamar saja pakai nelpon segala sih,” gumam saya sambil tersenyum lucu. Namun, tak urung saya angkat juga panggilan video itu.

“Assalamualaikum. Neng, Akang pulang telat ya. Ini motor mogok. Akang servis dulu ke bengkel. Mudah-mudahan Isya Akang sudah di rumah,” serentetan kalimat yang langsung terdengar dari seberang telepon, membuat saya tertegun mematung.

Terlihat di video, sosok suami yang jelas-jelas tengah berada di sebuah bengkel motor yang ramai pengunjung. Jika sekarang suami sedang ada di bengkel, lalu yang tadi ada di kamar tidur itu, siapa?

Sesaat saya merasa lemas, hilang pijakan. Seperti dalam mimpi, tubuh saya rasanya melayang. Lalu jatuh di pelukan sepasang tangan kekar yang terasa membopong saya ke suatu tempat. Saya menggigil dicengkeram takut yang sangat. Namun mata rasanya berat sekali dibuka. Teriakpun tercekat di tenggorokan. Kemudian semuanya mendadak gelap.

Kamis, 17 Desember 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan