Peluk dan Sayangi Dirimu oleh Nopiranti

Peluk dan Sayangi Dirimu
(Nopiranti)

Saya pernah membenci bayangan diri. Sudah gendut, berkulit gelap pula. Tak suka saya bercermin. Malu, geli, jijik, kesal, marah, benci. Hari-hari saya lalui bagai dalam lorong gelap yang tak berujung. Semakin menyeramkan saat suara tawa guyonan atau ejekan dari sekeliling, terdengar memantul di sepanjang dinding lorong.

Saya memilih sembunyi dari keramaian. Sendiri, sepi, sunyi di kamar tidur dengan pena dan kertas menjadi teman baik yang setia menemani. Saya temukan dunia indah sendiri yang teramat keren. Dunia menulis. Dunia yang membuat saya bisa bebas menumpahkan segala gejolak rasa yang singgah di benak tanpa harus berisik mengeluarkan suara yang mengganggu. Dengan menulis, saya berkreasi meronce kata dan merangkai kisah menjadi buket hikmah yang melembutkan hati dan menenangkan pikiran.

Petualangan baru pun dimulai. Lorong gelap itu perlahan menembuskan temaram cahaya dari segala penjuru. Kehangatan mulai menyapa. Nyanyian alam yang ceria terdengar mengalun syahdu, mengusir sepi dan sunyi.

Dengan terbiasa menuangkan perasaan lewat tulisan, emosi saya perlahan stabil.
Dari aneka kisah yang ditulis, saya belajar untuk menerima kondisi diri. Saya belajar berdamai dengan kekurangan diri yang selama ini membuat saya minder level akut dalam bergaul. Perlahan mendung pun memudar. Senyum mulai terlihat di wajah saya. Keceriaan pun terpancar di mata saya.

Dengan terus memaksakan diri untuk selalu tersenyum dengan tulus, selalu membersihkan hati dari rasa khawatir, dan selalu berusaha menjernihkan pikiran dari segala prasangka buruk, saya mulai merasakan kenyamanan menerima kondisi diri. Dunia terasa lebih indah. Penuh warna dan pesona. Kuharap bisa selamanya kunikmati anugerah ini.

Memang belum bisa pulih seluruhnya. Rasa minder itu masih sering datang menyergap. Tapi, sudah tidak separah dulu. Dengan kekuatan sugesti, setiap kali saya menatap bayangan diri di cermin saya bisikkan selalu dalam hati dan benak ini bahwa saya juga cantik, saya juga hebat, dan saya juga istimewa. Perlahan saya bangkit. Menguatkan diri untuk berani dan tegar menghadapi dunia.

Untuk semua yang masih berjuang melawan rasa minder akan kondisi diri, ayo kita bergandengan tangan. Saling menguatkan. Saling memberi dukungan. Saling mengingatkan bahwa sejatinya setiap kita itu unik, istimewa, dan luar biasa.

Puisi ini, untuk kita semua.

Peluk dan Sayangi Dirimu

#
Padahal sudah berjanji tak izinkan lagi ada rinai.
Tapi ia tetap datang mengetuk pelupuk mata.
Berhamburan jua ia berlompatan bersua aroma kecewa yang begitu pekat.
: Lara…

#
Padahal sudah berjanji hanya akan ada lukisan bulan sabit indah di kanvas ini.
Tapi ia terkadang sembunyi di balik awan gelap pekat.
Mencipta beku dalam sunyi yang menggigil menahan selaksa rasa.
: Pilu…

#
Padahal sudah berjanji tak kan biarkan gundah meraja.
Tapi ia menghantam lemahku hingga kudapati bayang diri remuk redam.
Luka ini tak berdarah namun perih menusuk rontokkan belulang.
: Luruh…

#
Tak mau aku lara ini.
Tak suka aku pilu ini.
Tak ingin aku meluruh.
Aku hanya mau binar pelangi di mataku.
Aku hanya ingin selalu ada senyum di wajahku.

#
Maka kuputuskan untuk memeluk erat bayang diri di setiap cermin yang kutemui.
Di setiap detik yang berpacu pasti di dinding peradaban,
kubisikkan penuh lembut pada raga dan jiwa ini.
Sayangi dirimu.
Cintai hidupmu.
Syukuri hadirmu.
Karena kau, berharga.

Sukabumi, Jumat 9 Oktober 2020

Nulisbareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan