Pejuang ASI oleh Nopiranti

Pejuang ASI
(Nopiranti)

Melihat adik ipar yang dengan telaten dan penuh kesabaran memberi ASI pada putra ketiganya, saya jadi teringat lagi perjuanganan dulu memberi ASI eksklusif juga untuk ketiga buah hati. Tulisan ini saya buat sebagai pengingat diri tentang satu episode indah yang pernah terlewati. Episode kedekatan fisik dan emosional yang begitu intens dengan anak-anak.

Sejak hamil anak pertama saya sudah berniat dan bertekad untuk memberi ASI eksklusif. Alhamdulillah, begitu anak pertama lahir, ASI sudah mengalir deras. Hingga usia 6 bulan, jagoan kecil saya mendapatkan hak nutrisi terbaiknya secara penuh. Namun sebuah peristiwa pilu sempat terjadi.

Suatu hari saya harus menghadiri acara dari pagi sampai sore yang tidak memungkinkan untuk membawa bayi. Waktu itu, saya belum tahu tentang teknik menyimpan ASI di lemari pendingin. Saya putuskan saja memberi susu formula untuk jagoan kecil saya.

Saat sore hari saya pulang, keadaan masih baik-baik saja. Namun saat malam menjelang, anak saya BAB terus sampai beberapa kali. Hingga menjelang Subuh, keadaan belum juga membaik. Karena khawatir mengalami dehidrasi, selepas Subuh, saya bawa anak ke rumah sakit.

Sampai di UGD, anak saya langsung mendapat penanganan yang baik. Ternyata benar, bayi kecil saya mengalami dehidrasi karena terus menerus buang air besar. Dokter mendiagnosa gangguan pencernaan itu akibat kuman jahat dari botol susu yang kurang higienis.

Bayi saya pun harus dirawat. Jarum suntik mulai ditusukkan ke pergelangan tangannya untuk memasukkan cairan infus. Sungguh tak tega mendengar suara tangis anak yang kesakitan saat tangan mungilnya disuntik jarum. Tapi saya harus kuat. Saya peluk dia erat untuk menenangkan rasa takut dan sakitnya.

Ditemani Suami dan Ibu mertua, kami menghabiskan malam itu di rumah sakit. Malam yang rasanya lambat sekali berlalu. Tak sekejap pun mata ini bisa terpejam. Karena semalaman jagoan kecil kami masih terus saja BAB.

Menjelang Subuh, kondisi anak sudah mulai membaik. Intensitas BAB-nya sudah jauh berkurang. Saat dokter datang siang harinya untuk memeriksa, saya minta agar bisa diizinkan pulang saja. Alhamdulillah sore harinya kami sudah bisa beristirahat lagi di rumah.

Sejak peristiwa itu saya kapok tidak mau lagi memberi susu formula pada bayi saya. Ini bukan berarti susu formula itu yang tidak baik, ya. Saya hanya khawatir saja tidak bisa menjaga kebersihan peralatan yang akibatnya bisa fatal untuk bayi saya. Toh, di luar sana banyak juga anak yang harus mengonsumsi susu formula dan mereka sehat-sehat saja karena orang tua mereka telaten menjaga kebersihan peralatan.

Dua tahun berlalu, si sulung tuntas dengan ASI eksklusifnya. Saat harus disapih, saya tidak mengalami banyak kesulitan. Jagoan saya mudah saja berhenti ASI karena ada berbagai makanan pendamping yang mulai mengalihkan perhatiannya.

Ketika anak kedua lahir, Alhamdulillah saya juga diberikan kemudahan lagi untuk memberinya ASI eksklusif. Hanya bedanya pada proses penyapihan saja. Anak kedua ini sedikit sulit lepas ASI walaupun usianya sudah mencapai dua tahun. Beberapa kali proses penyapihan dilakukan, gagal lagi. Jagoan kedua saya balik lagi minta ASI. Sampai beberapa bulan kemudian dia baru mau benar-benar lepas ASI saat melihat di sumber ASI ada cairan merah yang dia kira darah ayam. Anak saya paling takut darah. Padahal saya hanya pakai pewarna makanan saja untuk mengelabuinya waktu itu. Huh, sungguh proses penyapihan yang melelahkan.

Untuk anak ketiga, saya juga masih tetap bertekad memberi ASI eksklusif. Alhamdulillah, semuanya juga berjalan lancar. Sampai berakhir di usia dua tahun, anak ketiga ini mudah saja berhenti ASI saat didapatinya sumber ASI terasa pedas mengganggu lidahnya. Untuk sepotong jahe, terima kasih atas bantuannya memudahkan proses penyapihan anak ketiga.

Selain alasan kesehatan bayi dan ibu, banyak keuntungan yang saya dapat dari memberi ASI eksklusif ini. Yang paling saya nikmati adalah saat-saat mendekap anak penuh kasih sayang. Dari pagi sampai menjelang pagi lagi, dekapan itu intens mengeratkan ikatan emosional saya dan anak-anak. Sambil bercerita atau membacakan doa, menatap mata bening mereka, mengelus kulit wajah mereka yang lembut, merasakan belaian jemari kecil mereka di wajah saya, duh, itu pengalaman eksklusif dan mahal yang tidak bisa diganti dengan apa pun.

Alhamdulillah, segala puji syukur saya haturkan pada Allah yang Maha Rahman dan Rahim karena telah memberi saya kesempatan merasakan pengalaman indah ini.

Bagi para ibu yang masih berjuang memberi nutrisi terbaik untuk bayi Anda, baik ASI eksklusif maupun susu formula, tetap semangat, ya! Jaga kesehatan, jaga benak Anda untuk selalu berpikiran positif, jaga hati anda untuk selalu bersyukur dan bersabar atas setiap keadaan, dan jaga hubungan baik dengan orang-orang terdekat dan terkasih agar selalu ada mendukung penuh perjuangan Anda. Semangaaat, ya! 🤗😇

Selasa, 13 Oktober 2020.

Nulisbareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan