Pada Selembar Kertas Wangi oleh Nopiranti

Pada Selembar Kertas Wangi

(Nopiranti)

Minggu pagi, cuaca cerah. Sudah berhari-hari dirundung hujan, jemuran pakaian tak kunjung kering. Mita berdoa semoga hari ini panas matahari bisa berlangsung lama. Sampai semua baju basah bisa kering sempurna.

Selesai mencuci, mandi, dan sarapan, enaknya melakukan apa ya? Sesaat pandangan Mita menyapu ke seluruh penjuru rumah. Hmm, sepertinya asyik nih kalau merapikan lemari dan rak buku. Sudah lama Mita tidak mengecek apakah ada semut, kecoa, atau tikus yang bersarang di dalamnya.

Ambil yang mudah dulu saja deh. Rapikan rak yang bukunya tidak terlalu banyak. Turunkan dulu semua isinya. Lalu disusun lagi berdasarkan ukuran. Ada satu dua buku yang jilidnya sobek dan beberapa lembar isinya copot. Setelah diperbaiki menggunakan selotip, buku-buku itu terlihat cantik lagi. Siap bergabung bersama rekan-rekannya yang sudah lebih dulu berjejer rapi.

Saatnya bongkar lemari. Sama seperti tadi, semua isinya Mita dikeluarkan dulu. Tuh kan, apa dia bilang tadi? Dari balik tumpukan buku, berloncatan beberapa ekor kecoa. Geli rasanya membayangkan binatang berwarna coklat kehitaman itu merayap dengan cepat ke segala arah.

Bau menyengat yang keluar dari badan kecilnya, langsung membuat hidung Mita berekasi. Terasa gatal menggelitik. Setelah itu siap-siap saja bersin berulang kali yang menyebabkan hidung berair dan akhirnya pilek pun menyerang.

Tapi, sebelum hal buruk itu terjadi, sebuah masker telah lebih dulu terpasang menutup hidung dan mulut ibu muda berputra satu itu. Masker menyelamatkan Mita dari bau kecoa yang aduhai mengesalkan itu.

Mita jadi bisa melanjutkan lagi acara merapikan isi lemari. Setelah dipilah-pilah, ternyata banyak kertas yang sudah tidak terpakai. Lumayan nih buat dikasih ke tetangga yang buka warung. Bisa dijadikan pembungkus barang dagangan.

Selain tumpukan buku dan kertas, ternyata ada juga 2 ikat kantong plastik hitam. Apa isinya ya? Kantong pertama ternyata berisi benang wol. Oh iya, Mita baru ingat, dulu kan dia pernah beli beberapa gulung benang wol beraneka warna. Rencananya mau membuat boneka untuk gantungan kunci.

Tapi, waktu itu ada kesibukan lain yang membuat Mita lupa pada niat tersebut. Akhirnya, benang wol yang dia simpan di dalam kantong plastik itu tertumpuk-tumpuk buku di dalam lemari.

“Sepertinya harus diagendakan lagi ini berkarya dengan benang wol. Sip, kita amankan di tempat yang mudah terlihat,” ucap Mita seraya menyimpan benang wol itu di atas rak buku.

Mita lalu beranjak membuka plastik kedua. Di dalamnya ada sebuah binder ukuran sedang.

“Ah, ini kan tempat saya dulu menyimpan koleksi aneka kertas surat unik dan lucu?” Pekik Mita kegirangan. Seperti menemukan harta karun berharga saja.

Setiap lembar kertas surat yang ada di dalam binder itu punya kisah unik sendiri. Ada yang sengaja Mita beli di toko buku. Sebagian lagi hasil barter dengan teman. Beberapa dikasih sama saudaranya. Lalu ada juga pemberian dari seseorang yang sangat istimewa.

Seperti kertas yang satu ini. Kertas polio bergaris biasa saja. Samar-samar tercium aroma bunga mawar dari permukaan kertas yang halus itu.

Yang membuat kertas itu indah karena ditempelkan lagi pada selembar kertas jilid merah marun. Di sepanjang pinggir kertas polio itu diberi hiasan hati dari kertas jilid juga yang berwarna merah menyala. Semakin istimewa karena di bagian bawahnya tertulis satu kalimat indah.

Rangkaian 3 kata bertuah itu ditulis menggunakan tinta hitam dengan aksara kapital semua berbunyi I LOVE YOU. Senyum-senyum sendiri Mita mengingatnya. Masa remaja yang indah saat dia mulai mengenal rasa suka terhadap lawan jenis.

Karena belum ada gawai, waktu itu Mita dan teman-temannya berkomunikasi lewat selembar surat. Dari beberapa surat pernyataan rasa suka yang pernah Mita terima, surat yang hanya berisi satu kalimat itulah yang paling istimewa. Surat itu dari Bobby, kakak kelas yang jadi idola hampir semua murid perempuan di sekolah waktu itu.

Setelah menerima surat itu, Mita dan Bobby menjadi semakin akrab. Tapi, mereka tetap menjaga adab. Bertemu hanya sekadar ngobrol dan berdiskusi masalah pelajaran.

Namun, hubungan istimewa mereka tak berlangsung lama. Saat Bobby lulus dan melanjutkan kuliah ke luar kota, mereka putus hubungan sama sekali. Tak ada surat, tak ada pesan, tak ada kabar. Semua kisah indah yang mereka jalin bersama berlalu begitu saja. Hanya menyisakan selembar kertas indah beraroma wangi berhiaskan gambar hati yang sekarang ada dalam genggaman tangan Mita.

Kertas yang akan terus Mita simpan dengan baik. Sebagai kenang-kenangan akan sosok Bobby yang tiga bulan lalu dikabarkan telah berpulang ke haribaan Ilahi. Terpapar virus Corona.

Sabtu, 26 Desember 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan