Sumber: klikalamat

Pada Debur Ombak Pantai CIBANGBAN oleh Nopiranti

Pada Debur Ombak Pantai Cibangban

(Nopiranti)

Pertemuan akhir bulan kali ini ada yang berbeda. Sebelum pembagian honor, bapak kepala sekolah menyampaikan sebuah ide.

“Bagaimana kalau minggu depan kita rihlah?”

Belum usai pimpinan memberi penjelasan, sudah terdengar riuh tanggapan dewan guru.
Semuanya menyambut gembira usulan itu.

Tapi, masing-masing kepala punya ide tujuan tempat wisata yang berbeda. Jadilah obrolan itu semakin ramai dengan saling mempertahankan usulnya dan berusaha menyanggah pendapat yang lain.

“Sudah, tidak usah ribut lagi. Keputusan akhir sudah ditetapkan. Minggu depan kita rihlah ke pantai Cibangban, Pelabuhan Ratu.” Suara tegas kepala sekolah membungkam semua mulut yang sedari tadi tak usai berdebat.

Hari Minggu pun tiba. Semua sudah siap dengan perbekalannya.
Setelah berdoa dan mengecek ulang personel, tiga mobil pengangkut rombongan rihlah pun melaju dengan kecepatan sedang.

Di sepanjang perjalanan, hanya Bu Sumi yang tidak banyak bicara. Saat semua rekan bersenda gurau, ceria, dan bahagia, Bu Sumi paling hanya menyunggingkan senyum tipis saja di wajah sendunya.

Tak ada yang berusaha untuk menjalin obrolan dengan Bu Sumi. Ibu muda berputra satu yang berparas cantik dengan bibir tipis yang selalu terlihat segar dengan olesan lipstik warna cerah itu pun seperti tak ada gairah untuk turut bercengkerama dengan yang lain. Hanya aroma resah yang semakin kentara dari sorot mata dan gerak tubuhnya.

Hingga mobil mendekati tempat yang dituju, hanya helaan napas berat yang berulang kali Bu Sumi embuskan untuk mengusir kegundahannya.

Tiba di kawasan pantai Cibangban, mobil langsung masuk area parkir. Diri pun dimanjakan dengan pemandangan pantai yang menakjubkan.

Kilauan pasir yang berkerlap-kelip genit dicumbu sorotan sinar matahari. Laut pun nampak tenang dihiasi gulungan ombak kecil yang ramah menyapa bibir pantai. Mengajak setiap pengunjung untuk bergegas bermain air.

Namun tidak serta merta para guru bebas menentukan kegiatan. Kepala sekolah meminta semuanya untuk berkumpul dulu di saung yang ada di pinggir pantai.

Sambil menunggu pesanan ikan bakar dan hidangan lainnya, kepala sekolah menyampaikan kata pembuka.

“Rihlah ini bukan hanya acara main saja. Selain untuk meyegarkan kembali raga yang penat setelah menjalani berbagai aktivitas, saya berharap perkumpulan kita kali ini akan menjadi jalan semakin eratnya persaudaraan kita.” Bapak Kepala memulai acara.

“Seperti yang sudah kita sepakati bersama sebelum kita berangkat ke tempat ini, kita akan bertukar kado. Bertukar cenderamata tanda cinta sebagai pengikat hati.”

Selesai bicara, kepala sekolah memberi contoh mengeluarkan bingkisan kadonya. Satu per satu guru ikut mengumpulkan kado bawaannya.

Seragam, kado-kado itu hanya terbungkus rapi berbalut kertas koran saja. Nomor urut pun dibubuhkan di atas setiap bungkus kado itu.

“Jangan lihat dari harga barangnya. Saya berharap yang akan lekang diingatan kita adalah kenangan tentang siapa yang memberi kado ini. Kenangan tentang kebaikannya. Bukan keburukannya,” tutur kepala sekolah. Menyelipkan getar resah yang semakin bertalu di hati Bu Sumi.

Dimulai dari kepala sekolah, satu per satu mendapat giliran mengambil kado yang menjadi incarannya.

Setelah setiap orang kebagian jatah, mulailah acara buka kado. Sambil tertawa penuh canda, semua terlihat bahagia dengan barang yang mereka dapatkan.

“Meskipun saya bilang kalau kado ini kejutan dan tidak usah menyertakan nama pemberi. Tapi, jika memang ada di antara anda yang ingin berterima kasih pada pemberi kado, saya persilakan,” ucap kepala sekolah yang langsung disambut dengan sorakan tanda setuju.

“Saya, Pak. Saya ingin berterima kasih pada siapapun yang telah memberi kotak makan dan tempat minum lucu ini. Kebetulan anak saya dari kemarin minta dibelikan dua benda ini. Alhamdulilah, rezeki Allah memang selalu tepat sesuai pinta kita. terima kasih, ya.” Bu Desi memulai memberi testimoni.

“Itu dari saya, Bu Desi. Saya dapat ide membeli kotak makan dan tempat minum itu setelah mendengar cerita Bu Desi kemarin yang bilang kalau putri Ibu minta dibelikan dua benda itu. Alhamdulillah, jodohnya bingkisan saya sampai juga di tangan Ibu.” Dari arah pojok terdengar suara Bu Jamilah menanggapi testimoni Bu Desi.

Setelah itu, satu per satu memberikan pengakuan juga jika benda yang mereka dapat, kok, bisa sesuai dengan kebutuhan mereka saat itu, ya.

Semua bergumam mungkin inilah yang dinamakan ikatan batin dan berkah silaturahmi.

Namun ada yang beda saat Bu Sumi berbicara. Suasana langsung hening. Semua menyimak dalam diam.

“Bapak, Ibu, rekan kerja yang saya hormati semuanya. Sebelumnya izinkan saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan mengikuti acara ini.” Bu Sumi menghela napas panjang sebelum meneruskan ucapannya.

“Saya mendapat hadiah sebuah lipstick berwarna indah. Kesukaan saya, merah muda. Saya senang tapi sekaligus merasa sedih.” Terdengar suara Bu Sumi bergetar menahan tangis.

“Saya tahu pemberi lipstick ini pasti tulus memilihkan barang seindah ini sebagai kado. Tapi saya justru merasa ini sebagai teguran bahkan tamparan untuk saya.” Bu Sumi berhenti lagi. Dia nampak sibuk mengusap air mata yang semakin deras membasahi pipinya.

“Saya tahu rekan-rekan semua menyimpan kesal pada saya. Saya benar-benar ingin meminta maaf. Maaf jika selama ini lisan saya sangat tidak terjaga,” tutur Bu Sumi terbata-bata.

“Saya sering menggunjingkan rekan-rekan. Tanpa melakukan tabayun apakah kabar yang saya sampaikan itu benar atau tidak. Maafkan saya, ya, semuanya. Saya menyesal.”

Tak terbendung lagi derai tangis itu. Bu Sumi terisak sendiri menyesali kelakuan kurang terpujinya selama ini.

Wajah cantik Bu Sumi sangat tidak selaras dengan kelakuannya lisannya yang kurang cantik. Sudah beberapa kali Bu Sumi ketahuan menyebarkan kisah yang rekan-rekan guru percayakan padanya. Dengan bumbu tambahan yang menyebabkan cerita berkembang jauh dari kisah sesungguhnya.

Sudah berkali-kali diingatkan. Tapi berkali pula beliau melakukan kesalahan yang sama.

Semua terkesima. Dalam diam semuanya sibuk dengan benaknya masing-masing. Sampai Bu Fatimah berinisiatif memeluk Bu Sumi erat.

Semua terkesima. Takjub melihat spontanitas Bu Fatimah. Secara beliau termasuk salah satu korban yang paling sering digunjingkan oleh lisan buruk Bu Suci.

Dilatari debur ombak pantai Cibangban siang itu, suasana sendu tercipta. Dengan mengerahkan segenap keberanian, Bu Sumi meminta maaf pada semua rekan guru. Ditemani angin pantai yang berembus sejuk, semua larut dalam kelegaan hati dan benak.

Sebelum pulang, beberapa guru menyempatkan bermain pasir dan air laut. Termasuk Bu Sumi. Seiring ombak yang menyapu jejak kakinya, Bu Sumi bersungguh-sungguh meniatkan melarung segala keburukan akhlaknya.

“Selamat tinggal lisan yang tak terjaga. Selamat datang pribadi baru yang lebih baik.” Langkah kaki Bu Sumi mantap meninggalkan sepenggal kenangan indah di pantai Cibangban.

Senin, 2 November.
NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan