Naskah Ditolak Tak Berarti Tak Disukai Selamanya (Review Meet Up Publisher Part #2)

Naskah Ditolak Tak Berarti Tak Disukai Selamanya

Oleh: Emmy Herlina

Meet Up Publisher Part #2

Hari Sabtu, tanggal 27 Maret 2021, jam 13.00 hingga selesai, berlanjut acara Meet Up Publisher bagian kedua. Masih merupakan rangkaian acara Festival Literasi Bacaan Anak Indonesia, yang sangat menarik dan bermanfaat. Selalu di setiap webinarnya, disajikan tayangan film anak dan pembacaan dongeng sebagai pembuka.

Film Pendek Sebagai Pembuka Acara Webinar

Oya, sebelumnya, teman-teman yang belum tahu, bisa baca terlebih dulu reviewku pada acara sebelumnya, Meet Up Publisher bagian pertama di sini: Menjadi Penulis Yang Disukai Penerbit (Review Meet Up Publisher Part #1)

Di bagian kedua kali ini, menyajikan 3 narasumber yang tak kalah menarik. Siapa saja, sih? Pradikha Bestari: Editor Kiddo, Afifah Afra: CEO Penerbit Indiva Media Kreasi, dan Imran Laha: Editor Chief Kanak.

Luar biasa sekali, kan. Mari kita simak ulasan masing-masing.

Yang pertama editor dari Penerbit Kiddo, Kak Dikha. Beliau ini selain sebagai editor, ternyata juga merupakan penulis skenario dari tayangan anak, “Jalan Sesama”. Wah, jadi teringat, dulu di awal pembelajaran daring, untuk anak TK, dianjurkan menonton tayangan ini setiap paginya.

Lalu, Kak Dikha memberikan penjelasan tentang Penerbit Kiddo yang ternyata merupakan lini Kepustakaan Populer Gramedia. Penerbit ini telah menerbitkan berbagai macam buku serial untuk sasaran berbagai usia. Sebut saja, serial mengenal bentuk, dan lain-lain, yang sasaran pembacanya untuk anak usia dini. Hingga novel anak, yang juga diperuntukkan hingga anak usia remaja. Seperti serial misteri yang menampilkan nuansa kelokalan yang kental. Kak Dikha juga mengatakan, naskah genre misteri untuk anak ini yang memiliki peluang besar untuk diterima di Penerbit Kiddo.

Hayo, siapa di antara teman-teman yang ingin mencoba? Terus terang, genre misteri ini merupakan hal yang sulit buatku pribadi. Tapi siapa tahu, di antara pembaca ada yang ahli menuliskannya, dipersilakan, cuzz kirim.

Cara kirim naskah ke Penerbit Kiddo bagaimana? Gampang. Sama halnya mengirimkan naskah untuk BIP, kamu bisa mengirimkan melalui dps (Digital Publishing System). Pilih saja Kepustakaan Populer Gramedia. Jangka waktu untuk review naskah adalah sekitar 3 bulan.

Sharing dari Kak Dikha, editor Penerbit Kiddo

Yang berikutnya, Mbak Yeni yang biasa dikenal nama penanya, yaitu: Afifah Afra, menjelaskan tentang Penerbit Indiva Media Kreasi. Tentu teman-teman sudah sering mengenal nama penerbit ini, ya. Penerbit Indiva berdiri sejak tahun 2007, dan mulai mengembangkan lini anak sejak 2012. Ada dua jenis lini yang mengkhususkan bacaan anak di Indiva, yaitu Lintang dan Peci. Bedanya apa?

Untuk Lintang, naskah ditulis oleh usia 14 tahun ke atas. Jadi, kita penulis dewasa yang ingin mencoba menulis naskah anak, masuk ke lini ini, ya. Sedangkan Peci, merupakan singkatan dari Penulis Cilik, artinya, memang dikhususkan penulis-penulis cilik, berusia 8-14 tahun.

Kedua lini tersebut, baik Lintang maupun Peci, sasaran pembacanya adalah anak-anak 8-14 tahun, dengan kata lain, anak-anak yang sudah mahir membaca. Jadi, pembacanya adalah anak-anak yang memang mengharapkan lebih banyak tulisan dibandingkan gambar. Ini yang menjadi perbedaan dengan penerbit naskah anak lainnya, ya.

Mbak Afra sedikit berbagi, bahwa ketika masa kanak-kanaknya, beliau termasuk anak-anak yang tidak menyukai buku yang cepat selesai dibaca. Mbak Afra yakin, masih banyak anak-anak yang hobi baca sepertinya dulu. Nah, untuk itulah lini bacaan anak di Indiva ini ada. Karena memang penerbit Indiva memang fokus pada naskah yang bernuansa Islami, bisa dibilang sasaran terbanyak dari Lintang dan Peci adalah anak-anak di SDIT atau pesantren. Apalagi jika naskah yang dituliskan berlatar belakang di pesantren, pasti buku ini sangat diminati oleh Indiva.

Apakah itu berarti penulis di Indiva harus beragama Islam, tidak mesti. Yang terpenting di dalam naskahnya bisa membawa pesan baik untuk pembaca dan tidak bertentangan dengan norma atau nilai-nilai keislaman universal.

Cara mengirimkan naskah ke Indiva bagaimana? Yaitu dengan mengirimkan email ke penerbitindiva1@gmail.com cc indiva_mediakreasi@yahoo.co.id.

Jangan lupa, setiap tahunnya Penerbit Indiva Media Kreasi mengadakan kompetisi menulis. Teman-teman juga bisa ikut andil dalam kompetisi tersebut. Tetapi jika ingin mengirimkan naskah lewat jalur reguler juga boleh dicoba, kok.

Selain fiksi, boleh saja teman mengirimkan naskah non fiksi untuk anak. Caranya, ajukan dulu proposal pembuatan buku non fiksi di alamat email tersebut di atas, jadi jangan berupa satu naskah utuh dulu, ya. Khusus untuk non fiksi, penerbit harus menelaah terlebih dulu, tema non fiksi apa yang diajukan teman-teman penulis. Jika tertarik, baru kemudian redaksi akan menghubungi penulis untuk penulisan naskah lebih lanjut.

Oya, untuk Lintang, genre fiksi hanya diterima berupa novel. Berbeda dengan Peci, boleh berupa antologi. Misal teman-teman ingin mengajukan murid-murid SD menjadi penulis di Peci juga boleh.

Lanjut ke pembicara ketiga, Kak Imran. Ada 3 garis besar tema penerbitan, yaitu Homesantri yang bergenre religi, Sains 4.0 yang bertemakan tentang sains atau ilmu pengetahuan untuk anak, serta Parentren, yaitu tema yang menampilkan nuansa tren masa kini, tapi tetap mengandung amanat untuk anak-anak. Jenis-jenis bukunya, bisa berupa pictbook, buku aktivitas, maupun komik. Untuk lebih jelas, teman-teman bisa langsung cek di Instagram @penerbitkanak. Link untuk mengirimkan naskah pun tertera di IG-nya. Sangat dianjurkan terlebih dulu riset membaca buku-buku terbitan Kanak sebelum mengirimkan naskah, ya.

Ada satu hal yang dibocorkan oleh Kak Imran. Terkadang Penerbit Kanak ini mengadakan lelang naskah yang hanya bisa diikuti penulis-penulis di penerbit Kanak. Seperti apa, sih? Di dalam lelang naskah, penerbit akan melempar sebuah tema kepada penulis. Siapa penulis yang akhirnya akan terpilih tentu saja penerbit yang akan menentukan. Tak hanya penulis yang karyanya sudah diterbitkan di penerbit Kanak saja yang bisa mengikuti lelang naskah, bahkan penulis yang sudah mengirimkan karyanya namun ditolak, jika penerbit menilai tulisannya bagus, akan dipanggil juga untuk mengikuti lelang naskah. Sebab, penerbit Kanak memiliki sistem data base, yang menyimpan semua nama-nama penulis yang pernah mengirimkan naskah ke penerbit Kanak.

Wah, senang sekali jika bisa terpilih, ya. Hal ini tentu akan menyemangati penulis, meski naskah sebelumnya ditolak, bukan berarti tulisannya tidak bagus. Karena sama halnya yang dikatakan dalam webinar part 1 sebelumnya, soal naskah diterima atau tidak oleh penerbit itu adalah soal jodoh-jodohan. Jadi jangan menyerah ya, teman-teman. Meski naskah kita ditolak, bukan berarti tak akan disukai selamanya.

Oya, Kak Dikha juga memberikan masukan untuk para penulis buku anak. Yaitu gunakanlah bahasa anak-anak. Jangan gunakan bahasa orang dewasa yang akan memberi kesan cerita anak yang dipaksakan. Bener banget, ya. Aku pribadi juga seringkali membaca tulisan, yang katanya temanya cerita anak, tapi lebih terkesan cerita parenting. Posisikanlah sebagai anak-anak, jika teman-teman hendak membuat buku anak ya.

Masya Allah. Luar biasa sekali ya, kedua sesi sharing Meet Up Publisher ini. Jadi tambah semangat untuk mencoba mengirimkan karya ke penerbit mayor. Sebab memang selama ini, aku belum pernah mencoba karena khawatir tulisanku tak cukup layak untuk go mayor. Wah, mudah-mudahan aku bisa mewujudkan mimpi ini suatu hari nanti, ya. Tapi kelarkan dulu naskahnya, ha-ha-ha.

Nah, gimana? Bagus kan rangkaian acara Festival Literasi Bacaan Anak Indonesia ini? Masih ada dua sesi terakhir yang akan diadakan hari Minggu, tanggal 28 Maret 2021, pada jam 09.00 dan jam 13.00. Pastikan kamu sudah daftar, ya. Siapa tahu bisa ikutan dapat doorprizenya, berupa bingkisan dan kelas menulis gratis. Aku yang ngacung lebih dulu, dong. Amiiinnn.

Bandar Lampung, 27 Maret 2021

Emmy Herlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan