Terserah Mama Ajah

Nasihat Seorang Ibu (Putri Zaza)

“Anakku, ingatlah baik-baik. Ketika menikah nanti jangan buat suamimu menjadi anak durhaka.”

Seorang ibu memberi nasihat kepada putri sulungnya yang akan menikah. Nampak ada kebingungan di wajah putrinya dan diceritakanlah kisah dari seorang pemuda di zaman Rasulullah bernama Alqalamah, ia seorang yang rajin beribadah, suka bersedekah dan banyak berpuasa.

Suatu ketika Alqalamah sakit keras sang istri mengirim pesan kepada Rasulullah mengenai keadaan suaminya melalui utusannya dan Rasulullah mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib ar-Rumi dan Bilal bin Rabah untuk melihat keadaannya. Beliau bersabda, ‘Pergilah ke rumah Alqamah dan tuntunlah untuk mengucapkan La Ilaha Illallah‘.

“Seharusnya ucapan La Ilaha Illallah mudah diucapkan oleh seorang yang ahli ibadah, kan, Nak, namun sayang lisan Alqalamah tidak dapat mengucapkannya.”

“Loh, kok bisa, Bun?”

Kemudian ibunya melanjutkan cerita dan sang putri yang awalnya tiduran di pangkuan ibunya terbangun lebih fokus mendengarkan kelanjutannya.

Utusan Rasulullah kembali dan memberitahu peristiwa yang dialami oleh Alqalamah. Rasulullah bertanya ‘apakah ia masih memiliki kedua orang tua’ salah satunya menjawab ‘ada, ya, Rasululah, ia memiliki ibu yang sudah tua renta‘.

Singkat cerita sang ibu mendatangi rumah Rasulullah, berjalan dengan tongkatnya. Mengucap salam dan Rasulullah pun menjawab.

Rasulullah bersabda kepadanya, ‘Wahai ibu Alqamah, jawablah pertanyaanku dengan jujur, sebab jika engkau berbohong, maka akan datang wahyu dari Allah yang akan memberitahukan kepadaku, bagaimana sebenarnya keadaan putramu Alqamah?‘. Ibunya menjawab bahwa anaknya seorang yang rajin beribadah, banyak puasa dan senang bersedekah.

“Setelah menjawab beberapa pertanyaan dari Rasulullah ternyata sang ibu marah karena anaknya ini lebih mengutamakan istrinya. Perlu kamu ingat, Nak, surga seorang perempuan akan berpindah ke suaminya, tapi surga seorang laki-laki akan terus selalu ada pada kedua orang tuanya.”

Sang putri menganggukkan mantap, untuknya pernyataan terakhir dari perempuan paling ia sayang sudah diketahui sejak duduk di bangku madrasah aliyah.

“Terus gimana, Bun, nasib Alqalamah? Apa ibunya memaafkan?”

Rasulullah bersabda, ‘sesungguhnya kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Alqamah, sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat‘. Kemudian Rasulullah menyuruh Bilal untuk mengumpulkan kayu bakar yang banyak untuk membakar Alqalamah di hadapan ibunya.

“Rasulullah tahu ibunya tak akan tega melihat anaknya dibakar hidup-hidup. Akhirnya sang ibu memaafkan dan Alqalamah dapat mengucapkan La Ilaha Illallah dengan lancar.”

“Begitu dahsyat, ya, Bun, murka seorang ibu, aku janji akan ingat terus pesan dari Bunda.” Dikecupnya tangan yang sudah mulai muncul keribut halus dari perempuan yang telah melahirkannya

Cibitung, 2 Agustus 2020

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

Tinggalkan Balasan