Pemadam Kebakaran Cilik

Namanya Farris (Emmy Herlina)

Namanya Farris

Cerita penutup dari Surat untuk Putraku

“Susah juga ya, mencari nama untuk anak lelaki.”

Ummi hanya bisa tersenyum saat membaca pesan singkat dari papamu di gawai. Iya, Nak. Berhubung memang kehamilan ini tidak diperkirakan sebelumnya, jadi kami berdua memang tidak memiliki persiapan menghadapinya. Berbeda saat Ummi memperoleh kakakmu, tampaknya persiapan sudah lebih matang. Dikarenakan Ummi sudah menanti kehadiran buah hati selama lebih dari dua tahun. Tiba-tiba, setelah kelahiran kakakmu, lalu belum juga menggenapi menyusui kakakmu, Ummi sudah dikejutkan oleh kehadiran Farris di dalam kandungan Ummi.

Bisa bayangkan, Nak. Diawali dengan keresahan hati karena merasa belum siap untuk kehadiran adiknya Sophia, lalu berlanjut kebahagiaan tiada terkira terlebih saat dokter kandungan menyebutkan bahwa janin dalam kandungan Ummi berjenis kelamin lelaki. Bisa bayangkan betapa bahagianya hati? Begitu juga dengan papamu. Nyatanya meski diawali keterkejutan, namun seterusnya papamu begitu antusias dengan kehadiranmu, Nak.

Kemudian papamu menemukan rangkaian nama yang indah. Sama seperti kakakmu, ada unsur bahasa Arab dan bahasa Jepang pada namamu. Kupilihkan nama depanmu sebagai panggilan, Farris.

Sudah sewayahnya lelaki adalah pemberani. Seperti itu pula arti nama Farris. Hal tak terduga setelahnya bahwa kamu adalah anak lelaki berhati lembut dan dominan otak kanan. Semakin bertambah kebanggaanku padamu, Nak.

Farris, anak lelaki Ummi yang rajin. Dia tak ragu merapikan kembali mainannya, membuang sampah pada tempatnya, menaruh pakaian kotor pada wadah cucian. Farris, anak yang tidak pilih-pilih makanan. Apapun yang Ummi hidangkan, akan dimakan Farris dengan senang hati. Gigi-giginya juga rapi dan terawat, karena Farris juga mudah diajarkan untuk menyikat giginya. Farris, anak lelaki yang menyenangkan hati Ummi. Saat Ummi bersedih, Farris dengan senang hati mendatangi lalu mengecup pipi Ummi.  

Maaf bila suatu waktu Ummi maupun papa pernah menyakiti hatimu, Nak. Maaf, karena kami awali dengan ketidaksiapan hati memilikimu, namun sesungguhnya hadirmu begitu menyempurnakan hidup kami sebagai orang tua. Maaf, bila Ummi sempat abai terhadap perkembanganmu, sehingga kamu sempat mengalami telat bicara. Tapi Ummi begitu yakin, kamu pasti akan segera menyusul keterlambatan itu. Terbukti sekarang begitu banyak kosakata yang telah kau ucapkan. Dengan suaramu yang semakin membuat Ummi gemas.

Maaf untuk foto-fotomu yang belum terkumpul, Nak. Ummi telah membelikan sebuah album khusus yang akan Ummi isi dengan foto-fotomu. Tapi belum juga kesempatan itu datang untuk mengumpulkan foto-fotomu. Padahal begitu banyak kenangan yang telah Ummi abadikan bersamamu.

Maaf bila Ummi tak sempurna menjadi orang tua, Nak. Tapi di hadapanku kamu adalah seorang anak yang sempurna. Bagaimana, tidak. Kelembutan hatimu semakin membesarkan harapanku bahwa kelak Farris akan menjadi seorang lelaki yang memahami hati perempuan. Seorang lelaki yang tak segan mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena tak memilah seperti salah kaprah masyarakat kaum patriarki. Seorang lelaki yang meski katanya condong logika namun tak jua mengabaikan perasaannya, karena kamu dominan otak kanan. Ya, Farris adalah seorang anak lelaki sempurna kebanggaan Ummi. Bersama kita dobrak segala mitos tentang anak laki-laki. Bersama kita tunjukkan kepada dunia, bahwa menjadi diri sendiri adalah yang terbaik. Bersama kita akan menjadi juara, menang melawan diri sendiri.  Farris, anak lelakiku. Terimakasih telah menjadi penyempurna keluarga kecil kita, Nak.

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan