Namaku Joe

Namaku, Joe! oleh Siti Rachmawati M.

Namaku, Joe! (Siti Rachmawati M.)

“He, Joe. Ngapain kamu di sini?” Tepukan keras mendarat di pundakku membuat lamunanku langsung buyar.
“Sepi, Lex!” sahutku singkat. Tanganku masih asyik membetulkan senar gitar yang putus.
“Kamu sendiri, bagaimana?”
“Yah … seperti yang kamu lihat sendiri.”


Kulirik sekilas tisu, minuman kaleng, air mineral dingin, permen dan lain-lain masih penuh di kotak. Kuhela napas panjang kemudian mengembuskan pelan. Berharap bisa keluar semua yang menyesak di dada, “Iya, sejak wabah corona dan sejak diberlakukannya lock down. Orang-orang pada takut ke luar rumah.”
“Ya, itulah Joe. Padahal sebentar lagi lebaran. Keluargaku di kampung pasti menunggu kepulanganku dan berharap aku bisa membawa pulang oleh-oleh dan uang yang banyak.”


Kudengar suaranya perih mengiris palung hati. Sempat terlintas secuil niat ingin membantu. Namun bagaimana caranya? Aku sendiri sedang membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk Emak yang sedang sakit.
“Kondisi kita tidak jauh berbeda, Lex. Kamu tahu sendiri. Transportasi umum sudah tidak boleh beroperasi. Otomatis aku tidak bisa ngamen. Sementara warung makan dan toko banyak yang social distancing.”
“Sampai kapan kondisi seperti ini ya, Joe?” Alex menggumam, tatapannya kosong jauh ke depan.
Aku hanya mengangkat pundak, “Entahlah Lex. Semoga Pemerintah bisa memberikan solusi terbaik untuk negeri ini.”


Tiba-tiba, “To-looong … tooo-looonggg … Co-peeettt …!” sebuah suara terdengar dari arah toko swalayan tak jauh dari tempatku duduk.
Sekelebat bayangan seorang pemuda gondrong berkaos hijau berbelok menuju lorong. Dia berlari dengan membawa sebuah tas. Tak jauh di belakangnya seorang perempuan mengejar. Namun pencopet itu melesat cepat dengan sepasang tungkai kaki yang melompat ringan.
Aku mengambil inisiatif dengan mencari jalan pintas. Aku sudah paham daerah sini. Bertahun-tahun aku tinggal di rumah petak punya Engkong Ali. Sehingga aku tahu, lorong yang dilewati pencopet itu akan berakhir di mana.


Kutunggu di pinggir lahan kosong. Karena kuyakin, pencopet tadi akan muncul di situ. Dugaanku tidak meleset. Kulihat dari jauh dia berjalan dengan senyum tersungging di bibir. Tampak dia berjalan sembari membuka tas. Dia keluarkan sebuah dompet dan senyumnya semakin lebar. Kini dia tertawa terbahak-bahak penuh kepuasan. Dia menggenggam lembaran berwarna merah.


Tiba-tiba, “Buuggg …!” Kulayangkan bogem mentah ke dada.
“He, kamu siapa!” serunya kaget. Tubuhnya terhuyung ke belakang sembari tangan kiri memegang dada yang terkena pukulanku.
“Ndak usah tanya, siapa aku!” jawabku lantang, “serahkan tas itu! Ceee-paaattt …!”
“Emangnya kamu siapa? Berani kau mencampuri urusanku!”
“Aku hanya pengamen. Memangnya kenapa?”
“Ooo, pengamen! Kamu nantang aku? Hah!” Secepat kilat dia mengeluarkan pisau lipat dari saku celana.
“Aku tidak takut! Hanya laki-laki pengecut yang beraninya sama perempuan!”
“Cuih … Jangan sok tahu kamu!” Dia meludah dengan wajah memerah menahan marah.
“Itu tas siapa?” tanyaku seraya menunjuk tas yang dia bawa.
“Bu-kan … urusanmu!” hardiknya sembari tangan kanan mempermainkan pisau.


Kupersiapkan kuda-kuda seperti yang diajarkan Engkong Ali. Akhirnya perkelahian pun berlangsung sengit. Beberapa sabetan pisau sempat mengenai tangan, karena aku berusaha menangkis. Perih kurasakan. Darah mengucur melalui luka yang menganga.
Namun posisiku berada di atas angin. Tak sia-sia Engkong Ali mewariskan seluruh ilmu kanuragan kepadaku.


Pencopet itu pun, lari terbirit-birit meninggalkan tas cokelat dan uang yang berhamburan.
Kemudian tiba-tiba suara seorang gadis terdengar. “Makasih Bang!” ucapnya dengan suara lembut.
Aku terperanjat, ‘A-la-maaak … bening nian ni eneng,’ kataku dalam hati. Di depanku tampak seorang gadis mungil dengan hijab ungu, tubuhnya terbalut gamis bunga-bunga kecil dengan warna senada.


“Bang …?” suara jari yang dijentikkan di depanku membuatku tersadar.
“Ah , eh Neng. Tadi bilang apa?”
“Maa-kaa-siih … ya, Bang ….” Dia tersenyum manis dengan lesung di pipi.

“Ah, eh. Iya ya, Neng. Ini tas eneng?” Kusodorkan tas cokelat dengan uang di atasnya.
“Iya. Maaf, sudah merepotkan Abang.”
“Ah ndak papa. Sudah seharusnya kita hidup di dunia saling menolong,” jawabku bijak. Kulihat dia menghitung lembaran merah. Kemudian dia masukkan ke tas.
“Bang, ini ada sedikit uang. Mohon diterima sebagai ucapan terima kasih saya.”
“Ah, Neng. Ndak usah. Saya ikhlas membantu kok.” Aku berusaha menolak dengan halus.
“Ndak papa, Bang. Saya juga ikhlas memberikan ini untuk Abang.”


Aku masih bersikeras menolak. Namun si Eneng juga ngotot tidak mau mengalah.
“Baiklah, begini saja Neng. Sekarang saya terima uang Neng. Namun saya titipkan ke Eneng supaya disimpan? Oke?”
“Okelah kalau begitu maunya Abang.”
“Oke, deal ya?”
Dia mengangguk, tersenyum lagi. “Tapi bolehkah aku tahu nama Abang?”
“Di kampung namaku, Paijo. Teman-teman di sini memanggilku Joe.”
“Baiklah, Bang Joe. Nama saya Aisah. Panggi aja Ais.” Dia menangkupkan dua tangan ke dada.
“Ni tadi Neng Ais mau belanja atau dari mana?”
“Iya, tadi disuruh Mamah beli barang-barang untuk persiapan Ramadan.”
“Ooo ….” Aku hanya manggut-manggut.
“Bang Joe memang sering mangkal di depan tadi?”
“Ya, begitulah Neng. Biasanya saat ramai ya ndak sempat mangkal. Karena si Coro aja, Abang jadi sering nganggur.”
“Si Coro itu siapa, Bang?” tanyanya heran.
“Itu tuh, si Corona.” Aku tertawa lepas.
Dia pun ikut tertawa. Hingga kelihatan giginya yang gingsul di sebelah kanan.


‘Ah, Eneng. Napa hatiku jadi berdebar tak karuan begini’ kataku dalam hati.
“Abang puasa?”
“Insyaallah, Neng.”
“Nanti sore, aku anterin takjil untuk buka puasa ya, Bang?”
“Jam berapa?” tanyaku penuh harap.
“Mungkin sekitar pukul 5-an. Abang tunggu di tempat tadi ya?”
“Iya, Neng. Semoga tidak merepotkan Neng Ais.”
“Insyaallah tidak, Bang. Ya, sudah. Saya pulang dulu ya, Bang? Mamah pasti cemas nungguin saya pulang.”
“Oke, Neng. Hati-hati di jalan.”
“Assalamu’alaikum Bang Joe.” Kulihat ada pendar cahaya di netranya yang bening.
“Wa’alaikum salam.” Kulepas kepergian gadis manis berhijab ungu itu dengan jantung bertalu-talu. ‘Ya Allah, apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?’ seruku dalam hati.
Aku pun tersenyum riang. Berharap Ramadan kali ini lebih indah daripada tahun lalu. Semoga ….

Selesai

Grobogan, 24 April 2020


Jumlah kata : 905 kata
nulisbareng/Siti Rachmawati M.

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan