My diary Today oleh Ade Tauhid

My diary today

By Ade Tauhid

Pada hari selasa tepatnya pada pukul 08.30 pagi ketika sedang asik asiknya menyiram bunga, suamiku nelpon dari kantor.

“Sayang, aku dapat kabar Pak Mus kecelakaan. Kita ke sana ya, Ma. Lima belas menit lagi Papa jemput. Siap siap,” kata suamiku.

Pak Mus adalah suami Bu Mus, masih kerabat jauh suamiku, rumahnya jauh di Pringsewu sekitar 60 kilo dari tempatku.

“Uh, malasnya,” pikirku.

Banyak banget kerjaanku hari ini, termasuk challenge menulis yang harus kumpul ontime.

Aku khan moody, kalau menulis enggak bisa spontan, harus lihat sikon dulu alias situasi dan kondisinya. Hadeh!

Tapi takziyah dan menengok orang sakit khan wajib. Meski kerabat jauh.
Kepaksa deh aku ikut.

Tak lama suamiku menjemput, dan kami pun berangkat.

Dalam perjalanan meski mataku disuguhi banyak pemandangan bagus bagus dan indah.

Seperti sawah yang terhampar luas dan keladi keladi warna warninya yang tumbuh liar, ada gedung tinggi sarang walet, dan pemandangan perkampungan lain yang khas dan lain lain.

Aku kok enggak bisa menikmatinya sih? Pikiranku melayang ke rumah, banyak kerjaanku terbengkalai karena perjalanan ini.

“Mikirin apa sih, Ma?” tanya suamiku.

“Enggak.”

“Kok diam aja dari tadi.”

“Hm ….”

Aku tidak menjawab, kualihkan pandangku ke arah sawah yang subur. Mencoba menghibur diri.

Berangkat dari rumah jam sepuluh pagi, diiringi dengan segala macam tetek bengek perjalanan, bisa jam berapa ya nyampe ke Pringsewu?

Aku gelisah.
Terbengkalai semua deh kerjaanku. Olala.

Sejak pandemi sembilan bulan lalu, aku termasuk orang yang taat sama imbauan pemerintah untuk selalu stay di rumah.

Bagiku stay di rumah aja itu mengasikkan, aku amat menikmati dan selalu mencari cari kegiatan di rumah, apapun.

Saking sudah menikmatinya -aku jadi malas untuk bepergian. Takut juga sih sama kerumunan.

Aku lebih suka mengurus tanamanku sendiri, atau mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa pembantu.

Hm, rasanya asik dan penuh sensasi.

Sejak pandemi ini juga temanku semakin banyak. Teman dunia maya dong, tanpa perlu kerumunan secara fisik, tapi kami saling dekat secara online.
Modal kuota banyak teman juga banyak. Ha ha ha.

“Macet ya Pa?” kataku sambil memandang jalan di depan yang mengular.

“Iya, sepertinya ada kecelakaan di depan.”

Aku mendengus.
Haduh kapan sampainya, batinku.

Padahal kalau cepat sampai ke tempat Bu Mus, kami juga akan cepat kembali pulang.

Perkiraanku tadi kalau kami berangkat jam sepuluh, kalau lancar jam dua belas siang sudah sampai tujuan. Dua jam bertemu kerabat lalu pulang, kira kira jam empat sore sampai deh di rumah lagi.

Tapi perkiraanku meleset.

Jam dua belas siang kami masih terjebak macet di sini. Olala.

Aku gemes, Mustinya aku enggak usah ikut.
Tapi suamiku terlalu baik, kerabat sakit dan jauh saja sampai harus bezuk dan bela belain izin kantor.

Akhirnya sekitar jam dua sore sampai juga kami di rumah Bu Mus. Ternyata sampai di sana Pak Mus sudah tiada. Kami terlambat datang.
Kasihan Bu Mus.

Menyesal aku tadi di jalan selalu bersungut sungut. Kesal dengan keadaan.
Maafkan aku.

Setelah mengikuti segala macam prosesi. Lalu kamipun pulang. Jam sembilan malam kami tiba di rumah.

Capek? Yahhh … kuambil hikmah dari semua ini.

Bandar Lampung, Rabu 02 Desember 2020

Nulisbareng/AdeTauhid

0Shares

Tinggalkan Balasan