Ayah dan Anak

Menunggu BIDADARI oleh Nopiranti

Menunggu Bidadari

(Nopiranti)

Entah sampai kapan Kang Jamal harus menunggu datangnya kado dari langit, belahan jiwa yang dinanti sejak lama. Usia kian bertambah. Kepala empat akan menjelang satu tahun lagi. Desakan dari keluarga juga semakin membuat resah.

Dua adik perempuannya sudah lama mendahuluinya menikah. Kang Jamal tidak keberatan. Namun ayah dan ibu yang masih merasa tidak enak.
Awalnya mereka tidak mengizinkan Fatimah dan Aisyah untuk mendahului kakak mereka melepas masa lajang. Mereka tetap menginginkan putra sulung kebanggaan mereka yang menikah lebih dulu.

Kang Jamal tumpuan harapan ayah dan ibu yang akan melanjutkan kepemimpinan di yayasan pendidikan mereka kelak sepeninggal ayah. Meskipun sekarang tugas sudah dibagi dengan jelas sesuai kemampuan masing-masing. Kang Jamal memimpin MTs. Fatimah memegang MI. Si bungsu Aisyah memegang taman kanak-kanak.

Untuk urusan jodoh ini, Kang Jamal bukan tanpa usaha mencari calon terbaik. Keluarga, saudara, teman sepermainan, dan rekan sepekerjaan juga sudah banyak yang berbuat baik membantu mencarikan calon terbaik. Namun, entah apa yang menyebabkan semuanya selalu gagal. Hanya sampai tahap perkenalan. Setelah itu semuanya sepi, tak ada lagi tanggapan.

Tak enak hati pula Kang Jamal jika harus menanyakan terus. Tak ingin ada kesan memaksa. Yang ujungnya membuat tak enak hati dan mengganggu silaturahmi.

Bukan pula Kang Jamal tak menaruh hati pada seseorang. Sebetulnya ada satu gadis yang padanya Kang Jamal menaruh harap yang besar. Dia juga tahu kalau ayah dan ibu juga suka pada gadis itu. Riska namanya. Dia teman seangkatan Aisyah, adik bungsunya yang terpaut hampir 15 tahun usianya dengan Kang Jamal.

Riska gadis yang supel dan mandiri. Setelah lulus SMA, dia bersama Aisyah mengelola taman kanak-kanak. Honor mengajar Riska pakai untuk biaya kuliah. Dia juga mencari tambahan biaya dengan berjualan kerudung, pakaian, dan aneka makanan ringan.

Sudah pernah Kang Jamal melakukan pendekatan pada Riska. Namun Riska hanya menanggapinya dengan senyum simpulnya saja. Selebihnya dia lebih banyak menghindar jika Kang Jamal mencoba untuk mengajaknya berkomunikasi. Sikapnya itu cukup membuat kang Jamal berkesimpulan bahwa Riska tidak menaruh hati padanya.

Dengan posisinya sekarang juga latar belakang keluarganya, banyak kenalan Kang Jamal. Tapi, hal itu bukan jaminan akan mempermudah prosesnya mencari calon istri. Kegagalan demi kegagalan telah membuatnya hilang semangat. Sekarang dia tak begitu menggebu lagi menanggapi tawaran yang datang. Dia lebih ambil sikap santai saja. Ikuti saja arus kemana takdir akan mengantarkan langkahnya. Lebih tenang rasanya pikirannya sekarang. Kerja juga menjadi lebih fokus.

Namun sakitnya bapak membuat Kang Jamal kembali dilanda resah. Semakin hari kondisi ayah semakin lemah. Hampir setiap hari ayah membisikkan sesuatu di telinga Kang Jamal. Sebait doa yang meminta semoga Allah menyegerakan jodoh Kang Jamal sebelum ayah tiada. Antara bahagia mendengar doa tulus orang tua yang selalu menjadi panutannya dan rasa pedih saat mengingat permintaan ayahnya tak kunjung bisa Kang Jamal penuhi.

Hingga hari itu, ayah kembali membisikkan sesuatu. Kali ini lebih membuat Kang Jamal tertekan.

“Lamarlah Riska segera. Hari ini juga,” pelan saja ayah berbisik. Namun laksana hantaman godam yang menyesakkan dada Kang Jamal.

Setelah menunaikan salat Duha untuk mencari kekuatan dan petunjuk Allah, Kang Jamal mengumpulkan segenap keberanian untuk mendatangi rumah Riska. Namun belum juga kakinya sampai di pintu depan, suara ceria Aisyah membuyarkan semangatnya. Hancur berkeping hingga rasanya tak ada daya untuk berpijak.

“Kang, ada kabar gembira. Ini coba lihat. Undangan dari Riska,” ucap Aisyah seraya memperlihatkan selembar undangan berwarna merah muda.

“Minggu depan walimahnya Kang. Duh, Riska ya benar-benar deh. Sampai aku saja teman dekatnya tidak tahu kalau dia akan segera menikah,” Aisyah terus saja bertutur di samping Kang Jamal yang terduduk lesu dengan pandangan nanar.

“Katanya sih sengaja, Kang. Selain memang proses taarufnya juga cepat sekali, Riska juga tak ingin meramaikan dulu kabar ini. Khawatirnya terjadi hal yang tidak diinginkan seperti taaruf yang gagal misalnya. Dia sedikit trauma dengan cerita temannya katanya ada yang sudah heboh menyebarkan kabar dan melakukan persiapan pernikahan, ternyata gagal.” Ucapan Aisyah samar-samar saja sampai di telinga kang Jamal.

Garis takdir telah tertulis. Riska bukan jodoh terbaik untuk Kang Jamal. Tapi, bukan berarti tak ada yang lebih baik untuk menggantikannya.

Bukan waktu sebentar bagi Kang Jamal untuk menata kembali hatinya yang kecewa. Butuh tiga tahun lebih setelah peristiwa menyakitkan itu bagi Kang Jamal untuk menapaki ujian kesabaran yang lebih menguras perasaan. Namun janji Allah pasti. Ada balasan setimpal bagi siapa saja yang bersabar dengan seindah-indah kesabaran.

Bila sudah waktunya, semua penantian panjang nan melelahkan akan terasa sedetik lalu saja dilewati. Berganti suka cita menerima ketetapan-Nya yang indah. Tak usah dicari tak perlu didatangi. Karena jodoh itu datang sendiri, dihantarkan oleh orang tua istimewa yang juga menginginkan jodoh terbaik untuk putri mereka. Seorang sahabat ayah yang telah lama tidak bersilaturahmi, Allah gerakkan untuk datang berkunjung.
Tanpa banyak pertanyaan dan permintaan, tanggal akad telah ditentukan.

Ayah yang sedang sakit pun mendadak terlihat segar dan bersemangat. Ibu apalagi. Tangisnya yang tak mampu ditahan, begitu jelas menunjukkan kebahagiaannya. Senyum pun merekah menghias wajah Kang Jamal yang memerah. Malu-malu mencuri pandang pada calon bidadari surganya yang tertunduk malu diapit bapak dan ibunya.

Semesta bertasbih. Turut bersyukur akan nikmat Allah yang selalu hadir tepat pada waktunya untuk setiap hamba-Nya yang bersabar dan berserah diri. Barakallah.

Selasa, 8 Desember 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan