Sumber: sains.kompas

Menulisku Bahagiaku oleh Nopiranti

Menulisku Bahagiaku
(Nopiranti)

Setiap orang punya persoalan hidup masing-masing. Dengan kadar yang berbeda-beda. Ada yang ringan, sedang, atau berat. Cara setiap orang menyikapi persoalan juga tentu saja beragam.

Ada tipe orang yang mudah saja berdamai dengan segala persoalan yang ada. Dia menganggap ringan semuanya dan bisa melanjutkan hidupnya dengan baik.

Sekalipun persoalan itu tetap ada mengikutinya. Namun ada juga orang yang sulit menyesuaikan diri dengan persoalan yang dihadapinya. Dia menjadi mudah panik, gelisah, penuh prasangka buruk, dan selalu ketakutan jika teringat akan segala persoalan dalam hidupnya.

Saya pernah (dan masih merasakan namun dalam kadar yang lebih ringan) ada dalam posisi orang kedua, kesulitan berdamai dengan persoalan hidup. Sebuah trauma masa kecil yang saya alami telah meninggalkan luka batin yang mendalam.

Saya tumbuh menjadi pribadi yang tertutup, temperamental, sulit berkomunikasi dan bersosialisasi. Masa kecil saya lebih banyak dihabiskan dengan mengurung diri di kamar.

Kalaupun saya berani keluar dan berbaur dengan banyak orang, saya melakukannya sambil bersembunyi di balik badan Mamah atau berpegangan erat pada lengan Mamah.

Hingga suatu hari saat kelas 6 SD, Ibu guru meminta semua siswa di kelas untuk membuat puisi. Jenis tulisan yang baru saya kenal. Setelah bersusah payah merangkai kata-kata sedemikian rupa, akhirnya jadilah puisi pertama saya yang berjudul ‘Guru’. Saat itu rasanya bahagia sekali. Saya kemudian jatuh cinta dengan dunia menulis puisi.

Hari-hari saya terasa mulai penuh warna. Saya asyik menjadikan semua hal yang saya dengar, saya lihat, dan saya rasakan sebagai tema puisi saya. Saya mulai terbuka pada dunia luar. Belajar menjalin persahabatan. Belajar tersenyum. Belajar memandang persoalan dari sudut yang positif dan menyenangkan. Belajar untuk menghargai, mencintai, dan merasa bahagia dengan diri sendiri.

Tanpa sadar lewat menulis puisi saya jadi bisa menyalurkan semua emosi negatif yang berkaitan dengan trauma yang saya alami. Saat sedih, saya tetap menangis. Namun setelah itu saya mulai menuliskan kesedihan saya dalam bait-bait puisi. Saat marah juga, saya lampiaskan dengan menuliskan kemarahan hingga kemudian tercipta puisi. Terlebih saat saya merasa bahagia. Saya lukiskan semua rasa itu dalam untaian puisi juga.

Begitu selalu terjadi berulang-ulang. Hingga saya merasa bahwa menulis puisi itu bisa menjadi salah satu obat mujarab pereda gejolak jiwa.

Beranjak remaja, saya mulai mengenal jenis tulisan lain yaitu cerpen. Saya pun tertarik untuk mencoba membuatnya. Ternyata menulis cerpen itu lebih menyenangkan lagi. Saya bisa lebih bebas meluapkan perasaan dalam bentuk aneka kisah. Saya belajar menuliskan kejadian dengan lebih detail, menciptakan alur dan menghadirkan tokoh-tokoh sekehendak saya. Dengan menulis cerpen, saya juga belajar menceritakan kisah pahit yang telah meninggalkan trauma di batin saya.

Awalnya saya tersiksa saat harus memeras ingatan menghadirkan detail kisah pilu itu. Saya sedih, marah, kecewa, dan benci. Namun semakin sering saya berlatih menulis, semakin ringan saya rasakan saat teringat semua penderitaan itu. Menulis membantu saya lepas dari bayang-bayang trauma. Dengan menulis saya justru belajar mengikis trauma seiring alphabet demi alphabet yang tertuang menjadi kata, kalimat, lalu mewujud menjadi sebuah kisah yang mengantarkan banyak hikmah. Menulis menjadi sarana terapi yang cocok untuk saya agar bisa sembuh dari pengaruh buruk trauma masa lalu.

Meskipun belum bisa bersih trauma itu hilang seluruhnya, namun saya sudah merasa jauh lebih baik dalam mengendalikan emosi. Setiap kali ingatan buruk itu hadir, saya paksakan untuk menulis. Karena setiap kali sebuah karya bisa saya selesaikan, ada rasa tenang yang tercipta.

Sekarang, menulis sudah menjadi bagian dari hidup saya. Kalaupun isi tulisan saya belum dianggap bagus dan belum banyak menginspirasi orang lain, namun saya selalu merasa bersyukur dan sangat menyukai setiap hasil karya saya. Saya senang membaca tulisan sendiri berulang-ulang sebelum kemudian mengumpulkan keberanian untuk membagikan tulisan itu pada khalayak ramai.

Dengan harapan tulisan itu akan menemui takdirnya menyentuh hati dan menjadi jalan kebaikan bagi yang membaca. Saya suka menulis. Karena menulisku, bahagiaku. Alhamdulillah.

Selasa, 20 Oktober 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan