Menulis fiksi, faksi atau Fakta? Oleh Ade Tauhid

Menulis fiksi, faksi atau fakta?
By Ade Tauhid

Dulu dalam dunia literasi, kita hanya mengenal dua jenis tulisan, yaitu fiksi dan nonfiksi.

Namun pada perkembangan kreativitas para penulis, di mana karya tulis yang mereka hasilkan tidak sepenuhnya fiski, namun juga tidak bisa dimasukkan kategori nonfiksi.

Jenis istilah tulisan ketiga, yaitu faksi, singkatan dari fakta-fiksi.

So, tulisan berjenis apa yang jadi kesukaanmu?
Kalau aku sukanya fiksi.

Menurut buku yang aku baca fiksi adalah cerita atau latar yang berasal dari imajinasi sang penulis. Dengan kata lain, tidak secara ketat berdasarkan sejarah atau fakta.

Fiksi itu bisa diekspresikan pada tulisan khayalan. Nah, itu aku banget!

Seperti yang diketahui sedari orok aku suka menulis, dan semenjak itu pulalah aku suka mengkhayal.

Semua tulisanku based on khayalan, enggak ada nyata-nyatanya. Aku memang suka kok, dengan gaya kepenulisan seperti itu.

Easy banget gitu, enggak ribet, tinggal mengkhayal, lalu tuang ke dalam tulisan. Enggak perlu takut kena tuntut karena tulisanku aneh misalnya, karena tulisanku berdasarkan khayalan gue ndili! Hahai!

Yang aku tau penulis fiksi itu harusnya seorang yang berkarakter, dia penulis independen, dia tidak meniru gaya orang lain, termasuk gaya bahasanya.

Yang penting, tulisan tidak mengandung unsur sara, dan pornografi. Tulisan diketik 1,5 spasi , ha ha ha, jadi kayak ketentuan Nubar ?

Sebenarnya ada alasannya kenapa aku enggak suka nulis non fiksi.
Ribet!

Ceritanya dulu pernah tuh waktu jaman sekolah, sekelas dapet tugas buat cerita perjuangan Saddam Hussein.

Nah, cerita Shaddam Husain khan non fiksi, jadi kita menulis ceritanya berdasarkan fakta sejarah. Sesuai dengan buku yang kita baca. Enggak boleh ngarang-ngarang! Soalnya nanti di akhir tulisan kita harus mencantumkan referensi buku tersebut.
Enggak enak banget, ya!

Kepaksa deh, karena tugas, aku dan teman teman hunting buku sejarah Shadam Husainnya di perpustakaan sekolah. Sayangnya aku terlambat, aku sudah enggak kebagian buku karena sudah duluan dipinjem sama temanku yang lain.

Lagian kenapa tuh Bu guru nyuruh nulisnya kok sendiri-sendiri, mbokyao per kelompok. Lebih praktik, khan? Ribet enggak, sih?

Alhasil, aku hunting ke perpustakaan luar sekolah, dapet sih, cuma aku harus ninggalin kartu pelajar plus duit buat jaminan. Olala!

Makanya mungkin dari pengalaman buruk itulah aku jadi lebih suka nulis fiksi dah!
Yang nulisnya ngarang-ngarang, nulis bisa seenak udel, sesuai khayalan. Mana enggak dipungut bayaran lagi. Gratisan!

Lagian mengkhayal bisa dilakukan kapanpun, di mana pun dan sedang apapun.

Misalnya, ketika aku sedang mengepel lantai, nyuci piring, aku menghayal jadi orang kokay yang pembantunya berteret-teret. Ha ha ha.

Atau bisa saja pas aku lihat orang ganteng di mall, aku mengkhayal paksunya Maktri gantengnya juga seperti orang itu.

Atau yang lebih ekstrem lagi nih, aku pernah mengkhayal sedang jadi tukang gerobak somay, lalu lewat rumahnya mbak Emmy Herlina, terus akhirnya kita bisa ketemuan, gitu …. Ha ha ha.

Pokoknya enaklah mengkhayal itu. Tulisan kita tidak harus berdasarkan apapun, tidak ada faktanya, enggak perlu buku referensi. Namanya juga ngarang ngarang, hahai!

Tapi menulis dengan imajinasi atau khayalan seperti ini ada enaknya ada sussenye juga loh.
Enaknya orang enggak akan protes, wong kita cuma ngarang. Iya enggak, sih?

Nah, kalau sussenye, aku tuh harus bisa membawa pembaca untuk masuk kekarakter atau tokoh yang aku tulis. Harus bisa mengajak pembacaku tuh ikut juga membayangkan apa yang terjadi di khayalanku. Dengan kata lain harus “nyampe” gitu sam ayang baca.

Contohnya, seperti serial Maktri yang aku buat. Maktri itu cuma sosok khayalan, enggak ada real real-nya. Tapi peerku, bagaimana aku bisa menyampaikan cerita itu benar benar “nyampe” kepada yang baca.
Nah, itu susse, khan?

Mungkin aja pas lagi in the mood ceritaku bisa aja nyampe.
Tapi kalau lagi enggak? Iya, enggak bisalah, bisa-bisa ceritaku akan garing dan enggak enak dibaca.

Beda dengan kerupuk enak kalau garing hihihi.

Ya sudahlah.
Suatu hari nanti aku akan membuat tulisan bagus ya, tanpa meniru gaya kepenulisan orang lain. Yang penting aku semangat aja dulu untuk terus belajar dan berlatih untuk tetap menulis,.

Karena kata orang, “pada saatnya penulis akan menemukan pembacanya, dan pembaca akan mencari penulisnya.”

Right, ya!
Semangat literasi!

Bandar Lampung, Jumat, 30 Oktober 2020.

Nulisbareng/AdeTauhid

0Shares

Tinggalkan Balasan