Menjadi Penulis Yang Disukai Penerbit (Review Meet Up Publisher Part #1)

Menjadi Penulis yang Disukai Penerbit
oleh: Emmy Herlina

Meet Up Publisher Part #1

Sudah kurang lebih sebulan, rangkaian acara Festival Literasi Bacaan Anak Indonesia 2021 diadakan. Setiap hari Sabtu-Minggu, selama Maret 2021, diadakan webinar yang seluruhnya bertema menarik dan sangat bermanfaat. Mengenalkan literasi kepada anak memang layaknya dilakukan sedari dini. Kita kenalkan anak agar mencintai buku, bertahap, sesuai dengan usianya.

Acara webinar sebelumnya sudah membahas tentang novel anak, komik anak, perjanjian penerbit, juga bagaimana menerbitkan naskah di luar negeri. Kali ini, temanya adalah “Meet Up Publisher”. Webinar berlangsung pada hari Sabtu, tanggal 27 Maret 2021, mulai jam 09.00 sampai selesai.

Waa, menarik banget ya.

Webinar Meet Up Publisher dari FLBAI 2021

Noor H. Dee: editor buku anak Noura Publishing
Dhita Kurniawan: editor buku anak penerbit Tiga Serangkai
Novalya Putri: editor buku anak BIP

Ketiga pembicara menjelaskan tentang buku-buku terbitan masing-masing. Dari penerbit Noura yang kebanyakan sasaran pembacanya usia dini, penerbit Tiga Serangkai yang bekerja sama dengan sekolah, dan menerbitkan buku-buku yang memang digunakan sebagai media pembelajaran. Kemudian penerbit BIP yang memiliki beberapa lini, termasuk bacaan untuk anak, ada juga untuk dewasa. Selebihnya bisa survei sendiri di toko-toko buku, deh. Kita bisa amati dari logo yang tertera pada buku-buku. (Maka sebelum jadi penulis, jadi pembaca buku dulu, betul?)

Wah, sudah lama sekali aku memiliki mimpi untuk bisa menerbitkan buku yang dibutuhkan anak-anak. Buku yang dipajang di toko buku, bahkan kalau bisa digunakan di sekolah-sekolah. Kan bangga tuh, dikenal guru sekolah anakku sebagai penulis buku anak. Hahay. (mimpi dulu, mumpung gratis). Lantas saja banyak pertanyaan masuk, seputar bagaimana pengiriman naskah ke penerbit tersebut.

Sayang sekali, untuk Penerbit Tiga Serangkai, saat ini belum menerima naskah untuk buku fisik. Menurut Kak Dhidit, penerbit Tiga Serangkai baru akan memulai dalam bentuk digital. Salah satunya pemenuhan buku-buku untuk dimuat dalam akun perpuskita.id. Akun ini tidak bisa diakses umum, tapi memang dikhususkan untuk sekolah-sekolah di Indonesia. Buku-buku yang tersedia pun dari semua kalangan usia pelajar, dari SD-SMP-SMA.

Namun, jika ingin mencoba mengirimkan naskah untuk Noura Publishing maupun BIP, silakan saja. Pengiriman naskah untuk Noura Publishing bisa melalui email. Atau bisa cek sendiri di websitenya: nourabooks.co.id.

Menurut Kak Hadi, masa tunggu pengecekan naskah bisa sekitar 1-3 bulan saja. Jika waktu tunggu lebih lama, boleh saja untuk DM atau inbox kepada editor untuk menanyakan naskah. Termasuk juga menanyakan apabila naskah ditolak, penulis bisa menanyakan alasan naskah ditolak, supaya bisa merevisi dan memperbaikinya di kemudian hari.

Untuk pengiriman buku ke Penerbit BIP, menurut Kak Nova, saat ini sudah melalui satu pintu. Yaitu melalui dps.gramedia.com. Yaitu web digital publishing system yang menjembatani dan mempermudah penulis mengirimkan karyanya ke penerbit.

Bagaimana cara agar buku diterima oleh penerbit? Dan bagaimana juga agar menjadi penulis yang disukai oleh editor?

Diakui oleh Kak Nova, bahwa buku cerita anak memang sudah menjamur di Indonesia, tema yang ada bisa dibilang itu-itu saja, kurang lebih sama di semua buku anak yang tersedia, namun sebagai penulis kita harus bisa menyajikan keunikan di naskah kita agar mampu menarik penerbit.

Hal yang sama disampaikan oleh Kak Hadi, konten tulisan nomor satu. Harus disajikan secara utuh. Makanya penting sekali cek ricek sebelum mengirimkan naskah.

Terus, gimana juga penulis yang disukai editor? Tidak lain dan tidak bukan, penulis yang mau mempromosikan bukunya. Penulis yang tidak menganggap tugasnya selesai setelah mengirimkan naskah ke penerbit, tapi ikut mengambil peran untuk bertanggungjawab pada penjualan buku.

Pembicara: Noor H. Dee, editor Noura Publisher

Nah, betapa banyak kutemui teman yang mengaku penulis, tapi tidak mau ikut andil dalam promosi bukunya sendiri. Padahal menurut Kak Hadi, urusan promosi bukan hanya tanggung jawab tim marketing dari penerbit itu sendiri.

Hal yang senada juga diungkapkan Kak Nova, kalau ada seseorang mengaku dirinya penulis, kemudian dilihat di sosial medianya, hanya seputar sharing kegiatan sehari-hari, seperti mengasuh anak, bekerja, dan lainnya, tapi tidak pernah ada satupun foto buku karangannya, itu akan menjadi tanda tanya bagi editor. “Ini orang sebenarnya penulis atau bukan, ya?”

Lalu, bagaimana bila penulis buku anak, tapi tidak bisa menyediakan ilustrasi. Dengan kata lain tidak bisa menggambar. Tidak apa-apa. Nanti bisa disertai deskripsi ilustrasinya pada naskah. Deskripsi ini pun tidak perlu dilampirkan pada setiap halaman. Cukup pada halaman tertentu yang ingin kita lampirkan ilustrasi. Jadi, jangan khawatir untuk penulis yang tidak bisa menggambar. Karena memang yang terpenting dari buku yang dicari adalah tulisannya, kontennya seperti apa.

Hal yang baru kuketahui adalah, ternyata saingan terberat penulis bukanlah sesama penulis. Kata Kak Hadi, saingan penulis terberat adalah editornya sendiri. Karena setiap editor, harus mempunyai target berkala, ingin menerbitkan buku seperti apa. Dari ide editor ini juga akan mencari penulis yang sejalan dengan visi misinya.

Jangan lupa perhatikan juga etika dalam mengirimkan naskah ke penerbit. Jangan sampai mengirimkan satu naskah ke beberapa penerbit sekaligus. Kak Nova bercerita pernah menemukan, mendapatkan email dari penulis yang ternyata di-cc-kan ke alamat email penerbit lainnya juga. Tidak boleh seperti itu, ya.

Kita bisa mengirimkan naskah ke penerbit lain, apabila sudah ada konfirmasi dari penerbit sebelumnya. Andaipun lama menanti, maka kirimkan sebuah email pernyataan menarik naskah dari penerbit tersebut.

Kak Nova juga memberikan pencerahan, bahwa meskipun sasaran pembaca buku anak adalah anak-anak, tapi jangan lupa, yang membeli buku adalah orang tuanya. Meski buku membuat anak tertarik namun orang tua tidak mau membeli, kan percuma. Maka, buatlah buku yang secara tampilan dan isi menarik orang tua untuk membeli. Sebagai orang tua tentu akan lebih memilih buku yang akan membuat anak berkepribadian baik. Atau juga buku semacam penunjang sekolah, seperti ensiklopedia. Tentu ini akan membuat orang tua membeli karena merasa membutuhkan buku tersebut untuk anaknya. Keputusan akhir tetap di pembeli. Maka, tulislah buku yang akan menarik minat pembeli/pembacanya.

Memang sempat ada kendala pandemi yang berdampak bagi penerbit. Misalkan penerbit membatasi cetakan buku fisik. Karena sepi pembelian buku, yang mana di awal pandemi, sempat terjadi penurunan pengunjung toko buku sekitar 80%. Luar biasa, kan. Bahkan ada juga karya yang seharusnya sudah selesai hingga tahap ilustrasi, harus dipending cetak karena dampak pandemi ini. Jangan khawatir, teman-teman. Penerbitan buku tidak sampai berhenti kok, walau mungkin jalannya yang lebih selow. Sembari mengamati kondisi pasar.

Disampaikan Kak Hadi, bahwa penerbit tak hanya memasarkan secara lokal di Indonesia tapi juga ke luar negeri. Sudah banyak buku terbitan yang dibeli hak ciptanya untuk diterbitkan ke luar negeri. Maka, tak hanya terbatas pada pembaca di Indonesia, penulis juga boleh bermimpi tinggi, dan mempunyai cita-cita karyanya akan merambah ke luar negeri.

Kalau karya kita tidak diterima penerbit, jangan juga berkecil hati, ya. Bagaimanapun naskah sama penerbit itu, jodoh-jodohan. Bisa jadi tidak cocok di penerbit satu, tapi diterima di penerbit lainnya. Tetap semangat, teman-teman.

Wah, senang sekali mendapatkan pencerahan luar biasa setelah mengikuti webinar ini. Masih ada sekitar 4 sesi lagi, yang merupakan sesi terakhir dari rangkaian acara Festival Literasi Bacaan Anak Indonesia. Semoga aku bisa menamatkan untuk mengikuti semua sesinya, ya. (Sesi siang jam 13.00 masih lanjutan dari Meet Up Publisher, loh) Siapa tahu dapat doorprizenya, berupa bingkisan dan kelas menulis gratis. Amiiinnn.

Bandar Lampung, 27 Maret 2021
Emmy Herlina

0Shares

19 comments

  1. Menarik banget ini materinya. Kadang sebagai seorang pemula dan amatir, masih nggak percaya diri gitu kalau mengajukan naskah ke penerbit. Tapi dengan tau ilmu2 begini kita bisa belajar dan berusaha supaya bikin tulisan dan naskah yang menarik untuk penerbit. Ditunggu part berikutnya. Hehe..

  2. Menarik banget ulasannya, Mbak Emmy.

    Berarti sudah semacam kesepakatan ya kalau penulis yang disukai editor itu adalah penulis yang tidak menganggap tugasnya selesai setelah mengirimkan naskah ke penerbit, tapi ikut mengambil peran untuk bertanggungjawab pada penjualan buku.

    Iya sih ya sekarang kan media sosial mudah dibuat dan dikelola. Tinggal memanfaatkan medsos saja sebenarnya.

  3. Bagi saya yang menekuni perbukuan, walau tak selalu ada di depan sebagai penulis, materi2 begini selalu menarik. Nice Mbak

  4. Dulu pernah bercita-cita bikin buku anak sendiri. Tapi ternyata bikin cerita anak tu ngga semudah kelihatannya. Betul bahwa buku anak tu udah buanyaaakk, dan kadang-kadang ceritanya membosankan. Memang, mencari ide yang unik itu sulit. 🙈

  5. Menulis buku anak buatku masih sulit banget. Hrs mengerti dunia anak nih.
    Samma…masih pe-er nih promosi dan jualan buku. Dulu dikira, penulis buku yaaa nulis aja…

  6. Mantap banget ya Webinar-nya ini. Jurus-jurus yang harus diketahui oleh penulis nih agar kerjasama dengan penerbit bisa mulusss dan sesuai target. Keren 🙂

  7. Bagus banget webinarnya, banyak masukan buatku yang masih banyak belajar dan tergantung mood. Soal penulis yang jualan buku, akupun dulu merasa penulis ya udah nulis ajalah, ngga ngerti soal marketingan.. tapi ternyata harus paham juga ya seluk beluk penerbitan dan penjualan buku.

  8. Wah baru tahu aku bahwa penerbit suka penulis yang mau mempromosikan bukunya. Menelurkan karya memang perlu effort, tapi memasarkannya juga butuh fokus ya

  9. terima kasih ya mbak, sudah menulis ini
    aku bisa menerapkana apa yg ada ditulisan ini, biar disukai oleh penerbit, sebab buku kedua ku segera launching nih

  10. Salut sama penulis-penulis buku.
    Selain fokus pada projectnya jangan lupa untuk branding yang kuat dulu yaah… Agar saat promosi, para pembaca sudah bisa menerka-nerka isi bukunya dan tertarik membeli.

  11. Ternyata begitu yaaa… penulis yang rajin mempromosikan bukunya jauh lebih disukai dibandingkan dengan mereka yang ga aktif di media sosialnya terkait bukunya tersebut.

  12. Weih …, keren. Kalau punya buku sampai ke luar negeri. Nilai uang soal belakangan. Terima kasih ulasannya, Mbak Emmy. Selamat berakhir pekan.

  13. Saya masih belajar menjadi penulis yang baik. Sementara masih memendam impian untuk menelurkan buku solo. Masih mau belajar lebih dalam dulu tentang seluk beluk penerbitan buku.

  14. Penulis yang disukai penerbit adalah penulis yang mau ikut mempromosikan bukunya ya, bukan sekadar kirim naskah trus selesai dan gak mau ikut bertanggung jawab bikin laku bukunya, noted. Tfs

Tinggalkan Balasan