Menikah? oleh Putri Zaza

Menikah?

“Seharusnya kamu, tuh, sudah mulai menabung untuk menikah. Jangan santai-santai, mentang-mentang Mama sama ayah udah siapkan biaya untuk pernikahanmu.”

“Iya, udah ada kok, Ma,” ucapku sambil memoles maskara ke bulu mataku.

Aku sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja. Biaya pernikahan, ya? Gaji untuk kebutuhan sebulan kadang kurang bagaimana caranya menabung. Kadang pertanyaan dan pernyataan tak terduga dari mama bisa membuatku berpikir bagaimana agar hal tersebut bisa terjadi. Akhirnya kupikirkan agar terealisasi.

Sesampainya di kantor, kurapikan meja dan hitung uang untuk disetorkan ke bank. Bank masih tutup jam satu siang jadi harus kupercepat pekerjaanku. Merekap semuanya. Dari mulai absensi sampe membuat PO (pre order) kebutuhan selama seminggu.

Setibanya aku di bank. Langsung saja kutuju teller laki-laki yang mengenakan masker dengan id card bernama Abdul Ali.

“Mbak, kapan nikah?” Mendengar pertanyaan tersebut membuatku tak dapat menahan tawa.

“Loh, kok, malah tertawa,” jawabnya meledek.

“Tunggu ajah, nanti juga dapat undangannya.”

“Asik, udah ada calonnya?”

“Udah. Dari lahir memang sudah adakan. Hehe.” Diapun membalas tertawa.

“Iya sih, bener. Emang belum kelihatan?” Aku hanya menggeleng.

“Lah, ini enggak kelihatan?” Sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Haha, au, ah. Makasih, ya.” Akupun meninggalkannya dan keluar dari bank.

Tahun lalu, tepatnya di bulan Ramadan aku bertemu Ali. Dia yang mengarahkanku dalam pengisian slip setor tunai. ‘ganteng, pintar’ ya, itu kesan pertama saat melihat Ali dengan kaca matanya.

Beberapa bulan bolak-balik bank dengan kepentingan yang sama. Akhirnya kami bertukar nomor handphone.

Selama seminggu kami dekat akhirnya aku tahu dia lebih muda dua tahun dariku. Dia bercerita tentang kehidupannya. Walau, hanya kulit luarnya. Kami pernah ada di posisi membicarakan pernikahan.

Satu sisi senang bisa dekat tapi di sisi lain curiga. Aku masih mengikuti alurnya sampai ada di titik dia ingin nonton film di bioskop berdua. Namun, tak kukabulkan pintanya. Padahal, di awal kami dekat dia bilang ‘nanti setelah sah kita baru bisa nonton bioskop, ya’ perkataan tersebut terkesan seperti dia menghormati aku sebagai perempuan tapi di akhir malah mengecewakan.

Malam itu juga nomorku di-block. Awalnya bingung tapi inilah jawaban dari Allah. Ternyata bukan dia orangnya. Selama dekat aku rajin melakukan salat istikarah dan berdoa yang terbaik dan Allah sudah menjawabnya.

Awalnya baper (bawa perasaan) kata anak zaman sekarang. Tapi, lebih mudah diikhlaskan. Bersyukurnya Allah tak memperdalam perasaanku kepadanya. Permainanpun usai. Ya, setelah berpisah dengannya (teman semasa kuliah) membuatku mengenal banyak karakter laki-laki dengan modus-modus andalan mereka ‘membicarakan pernikahan’.

Tak pernah ada rasa dendam sedikitpun diapun telah meminta maaf dan mengutarakan alasannya mem-block nomorku. Jadi, lebih baik kita hanya sebatas teman atau lebih baik hanya sebatas teller dengan nasabahnya.

Cibitung, 30 Mei 2020

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan