Bunga

Menikah? oleh Athena Hulya

Menikah?

Di usia dua puluh lima tahunan ke atas, terkhusus wanita sepertiku. Banyak orang menyakan pertanyaan ini itu, dari mulai yang penting sampai sepele yang hanya berisi nyinyiran belaka. “Kapan menikah? Kapan punya gandengan?” dan kapan, kapan lainnya. Pertanyaan “kapan” seperti itu yang membuatku malas bertemu dengan orang-orang termasuk keluarga besar.

Saat lebaran atau saat pertemuan-pertemuan keluarga, entah berapa belas kali pertanyaan “kapan” itu mondar-mandir di telinga. Pada saat seperti itu, biasanya ku menyiasatinya dengan masuk ke dalam kamar atau tidak menghadiri pertemuan, kalau terpaksa menghadirinya aku pasti akan melipir ke pojok ruangan dan sibuk bermain ponsel. Atau jika sempat aku akan pergi ke Jogja, menginap beberapa hari di sana untuk menghindari pertanyaan “kapan”.

Semua itu dilakukan bukan karena malu belum menikah atau belum memiliki calon suami untuk dikenalkan pada keluarga besar atau teman. Melainkan karena malas menjawab pertanyaan yang menurutku menyebalkan itu, daripada membuang waktu menjawab pertanyaan yang membuat jengkel lebih baik menghindar, bukan?

Menurutku, pertanyaan kapan menikah ataupun kapan punya gandengan atau calon suami, tak sepatutnya ditanyakan. Karena tiap orang memiliki template hidupnya masing-masing. Ada yang lebih mementingkan menikah lalu punya anak, ada yang mementingkan  pendidikan dan karier. Untukku sendiri aku termasuk orang yang lebih mementingkan karier daripada yang lainnya, menikah berada di urutan ke sekian dalam wishlist hidupku.

Bagi sebagian wanita menikah adalah hal penting yang harus dilakukan dalam hidup, memiliki anak yang lucu-lucu adalah dambaan, wanita akan terlihat sempurna jikalau sudah berada di kedua titik itu. Tapi tidak bagiku yang lebih memilih karier sebagai template hidup. Menurutku juga, menikah dan karier adalah dua hal yang berlawanan, keduanya tidak dapat berjalan beriringan, salah satu harus ada yang menjadi korban.

Terlebih aku seorang overthinking. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang selalu berputar-putar di kepala ini jika membahas soal pernikahan.

“Apakah aku bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku? Apakah aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku, menjadi contoh bagi mereka? Menjamin kebahagiaan dan kesejahteraan mereka? Sedangkan banyak di luaran sana wanita yang dicampakan, dikhianati oleh pasangannya. Banyak pula seorang ibu yang tega menelantarkan anak-anaknya. Aku takut tak dapat menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Tak ingin menjadi tersangka apalagi menjadi korban dari “penikahan toxic”.

            Menikah bukanlah satu-satunya pencapaian hidup, bukan sebuah keharusan, dan bukan juga juga satu-satunya sumber kebahagiaan. Saat kita memutuskan untuk menikah, ada tanggung jawab besar yang menanti. Jadi, untukmu yang sering sekali menanyakan dan nyinyir “kapan menikah?” tolong hentikan, ya! Jangan tanyakan itu, karena bisa jadi orang yang kau tanyakan adalah mereka-mereka yang pernah terluka akibat dari pernikahan. Bisa jadi, kan?!

Noted: ini adalah opini dari penulis, jika yang tidak sependapat atau ada kalimat yang tidak sesuai, mohon dimaafkan.

30 Mei 2020

Nulisbareng / Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan