Window View

Menghentikan Self Injury (Berbincang tentang Kesehatan Mental) oleh Emmy Herlina

Menghentikan Self Injury (Berbincang tentang Kesehatan Mental)

Lagi, pagi ini aku bangun kesiangan. Bukan soal masuk kerja baru shift siang, melainkan karena aku merasa tidak bahagia. Ah, dipikir-dipikir, sebagian besar hidupku merasa tidak bahagia. Dari dulu.

Aku teringat waktu kecil, aku biasa bangun pagi. Ketika itu hidup masih ceria, sebelum perusak datang dan menghancurkan masa depan. Ya, trauma yang berkelanjutan dan tidak diketahui oleh siapapun.

Yang pasti, betapa sulit bagiku untuk mencintai diri sejak itu. Entah sudah berapa kali sayatan kuukir lenganku, menggunakan pisau maupun carter. Kadang kulakukan itu hanya untuk memuaskan rasa penasaran, “akankah ada yang merasa kehilangan bila aku tidak ada di dunia?”

Kalau boleh jujur, aku bangun kesiangan juga karena berharap untuk tidak terbangun selamanya. Satu pengalamanku pernah kutuliskan dalam sebuah event Nubar:

***

Tiba-tiba tangisnya terhenti. Dia beranjak tiba-tiba, nyaris membuatku terkejut. Dibiarkannya bonekanya terjatuh. Dia berjalan dengan langkah cepat menuju dapur. Kedua mataku membelalak saat melihat tangannya lekas meraih pisau dapur.

“STOP! Apa yang kau lakukan?” Aku berteriak. Cemas.

Lagi. Nyaris saja dia torehkan ujung pisau itu ke urat nadi. Bisa kulihat keringatnya yang bercucuran.

Kembali gadis kecil itu terisak. “Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku diciptakan? Lebih baik aku tak usah ada.”

“Sst. Aku paham hatimu sedang hancur saat ini. Menangislah bila itu bisa membuatmu lega. Kamu aman di sini. Tidak akan ada yang membentakmu. Tapi, tolong, jangan lukai dirimu.”

Bisa kudengar tangisannya semakin kencang, lebih kencang dari yang kudengar tadi di kamar.

Untungnya pisau yang tadi digenggamnya sudah terjatuh. Setengah mati aku berharap pisau itu tiba-tiba bisa lenyap. Tapi tampaknya aku belum bisa memintanya meletakkan kembali pisau itu ke tempatnya semula.

“Nggak ada seorangpun yang sayang denganku. Nggak ada seorangpun yang peduli padaku.”

“Nggak. Itu nggak benar. Percaya, masih ada yang peduli sama kamu. Kamu masih punya aku.”

 “Lebih baik aku mati! Lebih baik aku tidak usah ada!” Kembali gadis remaja itu mengambil pisau yang tadi tergeletak di lantai.

“Jangan! Please! Jangan! Apa kamu mau membunuhku?” Kuharap kata-kata terakhirku mampu membuatnya bersedia untuk mempertimbangkan kembali. (Berdamai dengan Jiwa-Emmy Herlina dalam event Ketika Jiwa Lahir Kembali)

***

Demikianlah cuplikan kisah yang merupakan pengalamanku sendiri. Aku adalah satu dari sekian banyak orang yang mungkin pernah membenci diri sendiri, merasa diri tidak berharga, didukung dengan perlakuan buruk oleh lingkungan.

Seorang yang pernah melakukan self injury tidak cukup hanya diingatkan harus rajin bersyukur, apalagi mendapatkan judgement. Dia membutuhkan bantuan. Jangan memperparah keadaannya sementara kau tidak tahu perjalanan macam apa yang telah dilaluinya.

Satu alasan kuat lainnya mengapa akhirnya aku putuskan untuk kembali menulis tentang tema “Pencegahan Bunuh Diri”. Agar mereka yang merasakan apa yang pernah merasakan mudah-mudahan bisa terilhami. Agar mereka yang belum pernah merasakan supaya lebih tergerak empati. Mudah-mudahan tulisan yang aku ikutkan dalam event Nubar area Sulawesi ini lekas selesai.  

Pada akhirnya masalah bisa diselesaikan bila kita semua mau bekerjasama. Tak hanya persoalan wabah pandemi yang sedang mendunia. Tapi juga mengenai kesehatan mental yang tak kalah pentingnya.

Salam sehat jiwa!

Bandar Lampung, 29 Juni 2020

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan