Masjid

Mengetuk Pintu Ramadan oleh Siti Rachmawati M.

Mengetuk Pintu Ramadan

Gemercik air masih menyisakan tetes bening di kuncup kembang melati. Semerbak harum baunya memecah pagi yang masih berselimut halimun. Tempias tipis menyeruak celah dinding bambu yang sudah bolong di sana sini. Hujan semalam menyisakan udara dingin yang menyusup lembut menerpa kain pembungkus tubuh kecil yang masih meringkuk di kasur tipis.

Awal hari yang masih lengang, hanya terdengar kokok ayam jantan di kejauhan. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah seorang wanita paruh baya untuk menjerang air. Tangannya sigap dan cekatan meraih kayu untuk kemudian dia masukkan ke perapian dari tanah.

“Sri..., Sri.... Bangun, Ndhuk,” serunya pelan. Sembari tangannya meniup bambu diarahkan ke lubang perapian. Sementara tangan kiri memasukkan sisa-sisa kertas pembungkus cabai.

Wanita itu meniup dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya menyala juga apinya. Kemudian dia berjalan menuju bilik tanpa pintu. Hanya selembar kain lusuh pengganti gorden yang berkibar-kibar tertiup angin. Dia duduk di pinggir dipan dari bambu.

“Kriettt ....” sebuah suara keluar dari dipan saat pantatnya menyapa. Tangannya lembut menyentuh bahu gadis kecil yang masih tampak tidur pulas, “Ndhuk, bangun. Salat Subuh dulu,” Diusapnya rambut ikal anaknya.

“Dingin, Mak.” Gadis kecil bernama Sri itu menggeliat seraya menarik kain yang tadi lepas dari tubuhnya.

“Ayo, bangun Ndhuk.” Emak berusaha menyingkap kain jarit kesayangan Sri.

“Ah, E-mak ....!” Bersungut-sungut dia menyeret sandal menuju padasan. ‘Bbbrrrr ..., kenapa pagi ini dingin sekali ya?’ gumamnya, ‘tidak seperti biasanya.”

Begitu selesai mengambil air wudu, bergegas dia masuk rumah. Dia merasakan hawa dingin menerpa pori-porinya. Tubuhnya menggigil, giginya gemeretuk berirama.

Emak melihat putrinya kedinginan, “Pintunya tutup, Ndhuk. Nanti kalau sudah selesai salat. Kamu bantuin Emak ya, Ndhuk?” pintanya.

Sri melengos, tidak menjawab. Dia segera masuk bilik.

Setelah beberapa saat, “Nduk, Sri ..., sudah selesai pa belum?”

“Iya, Mak. Sebentar. Kulipat dulu mukenanya.” Dia melangkah dengan kaki diseret malas. Sirna sudah rencananya mau melanjutkan mimpi indah. “Bantuin apa sih, Mak?” Masih dengan muka masam, Sri mendekati Emak.

“Kenapa dengan mukenamu?” tanya Emak.

“Ini Mak,” jawab Sri sembari menunjukkan mukena yang sudah sobek.

“Ya, nanti kalau Mak punya rezeki. Mak belikan yang baru.”

“Kapan Mak?” Sri merajuk, bibirnya manyun.

“Ya, belum tahu Ndhuk. Sekarang jualan kan tidak seperti dulu.”

“Kan sebentar lagi Ramadan. Aku pingin salat tarawih di musala, Mak.”

“Ya, sudah. Sekarang bantuin Mak marut kelapa. Bisa kan?”

Tak berselang lama tiba-tiba, “Aduuuh..., sakit Mak,” Sri meringis kesakitan.

“Kamu kenapa? Kena parut?” seru Emak cemas. Kemudian Mak mengambil cairan berbuih yang keluar dari kayu. Saat akan menyentuh jari Sri, tiba-tiba Sri menarik tangannya dengan kasar.

“Emak mau ngapain?” ucap Sri dengan nada protes.

“Emak kan mau ngobati kamu, Ndhuk?”

“Pake itu, Mak? Ihhh, kan kotor ....”

“Ndak papa, waktu kecil Mak kalau sakit juga diolesi ini oleh Simbah.”

“Itu kan dulu, Mak.”

“Sudah sini. Percaya deh sama Mak. Nanti cepet sembuh.” Dengan penuh kasih sayang, Emak mengusap lembut dan mengoles tangan Sri.

“Sudah, kalau gitu. Kamu duduk di sini saja ya?” Emak menepuk kursi kecil agar Sri mau duduk di situ. “Kamu bantuin Mak masukin kacang dan krupuk ke plastik ya?”

Sri mengangguk. Gadis kecil berumur belum genap sepuluh tahun itu, matanya mengerjap-ngerjap. “Pedes, Mak. Asapnya itu lho ....”

“Lama-lama nanti kamu akan terbiasa,” jawab Emak, tangannya cekatan membuat kuah berwarna kuning. Paduan rempah-rempah asli, membuat baunya harum. “Ndhuk, kamu masih libur ya?”

“Aku ndak libur, Mak.”

“Lha kalau ndak libur namanya apa? Kan tidak boleh berangkat sekolah.”

“Aku dan kawan-kawan tuh disuruh belajar di rumah. Sejak ada Corona, murid-murid disuruh belajar di rumah.’

“Ooo, begitu. Corona? Corona itu apa, Ndhuk?”

“Kata Bu Guru, Corona itu virus yang membahayakan. Kita disuruh di rumah saja, tidak boleh keluar rumah.”

“Lha kalau disuruh di rumah terus, kita makan apa?”

“Ya nggak tahu, Mak. Pokoknya disuruh di rumah saja. Tidak boleh pergi-pergi apalagi berdekatan atau bersentuhan dengan orang lain.”

“Kalau Mak ndak jualan, terus kita mau makan apa?”

Sri hanya mengangkat kedua bahunya.

“Ah, sudahlah. Emak pokoknya tetap jualan. Memangnya Pemerintah mau mencukupi kebutuhan kita?”

“Ya, nggak tahu Mak. Terserah Mak aja deh.”

“Lha iya, coba sekarang mau bulan puasa. Pedagang banyak yang ndak jualan. Barang-barang langka. Kalau pun ada, harganya pasti juga mahal.”

Sri hanya diam mendengarkan Emak nyerocos.

“Beras mahal, kelapa mahal, telur mahal, ayam ikut-ikutan mahal pula.” Tangannya sibuk menata dagangan. Kemudian setelah beres, “Ya, sudah. Mak berangkat dulu ya? Doakan, bubur ayam Mak hari ini laris.”

“Aamiin. Hati-hati Mak.”

“Kamu juga. Di rumah saja. Ndak usah kemana-mana.”

“Ya, Mak.”

Sri menatap lekat punggung orang yang disayanginya hingga hilang di kelokan jalan kampung. ‘Semoga jualan Mak laris, terus beli mukena baru untukku. Jadi aku bisa salat tarawih di bulan Ramadan nanti dengan khusuk. Aamiin....’ gumamnya sembari mengusap wajahnya.

Selesai

Baca juga https://parapecintaliterasi.com/tears-in-heaven-oleh-siti-rachmawati-m/

Tanggal: 22 April 2020

Jumlah kata : 777 kata

nulisbareng/Siti Rachmawati M.

0Shares

Tinggalkan Balasan