Mendidik Anak Sesuai Genetik

Alhamdulillah, pada hari ini, Minggu, tanggal 27 Februari 2022, saya berkesempatan mengikuti acara webinar yang diselenggarakan oleh Stifin Singapore. Acara yang bertajuk “Mendidik Sesuai Genetik” dengan narasumber Solver Agung, merupakan event kesekian yang saya ikuti dari penyelenggara Stifin Singapore. Semua acara yang digelar oleh Stifin, sangat menarik menurut saya. Apalagi kali ini bertemakan pendidikan.

Simak juga, review acara sebelumnya, tentang Bahasa Cinta Pasangan menurut Stifin.

Diawali dengan pertanyaan oleh Pak Agung. Apa itu learning? Apa itu teaching? Dan apa itu Instructional? Ternyata semua memiliki makna yang berbeda.

Learning merupakan refleksi sistem kepribadian siswa terhadap tugas belajar.
Teaching merupakan refleksi sistem kepribadian guru terhadap tugas mengajar.
Sedangkan, instructional merupakan sistem sosial kegiatan belajar-mengajar.

Pak Agung melanjutkan, ada beberapa fase pendidikan yang merujuk pada revolusi industri, yaitu:

Fase 1.0: bertempuh pada penemuan mesin yang menitikberatkan pada mekanisme produksi.
Fase 2.0: etape produksi massal yang terintegrasi pada quality control dan standarisasi.
Fase 3.0: keseragaman secara massal yang bertumpu pada integrasi komputerisasi.
Fase 4.0: menghadirkan digitalisasi dan otomatisasi perpaduan internet dan manufaktur.
Fase terakhir ini yang akhir-akhir sering saya dengar dan sering digaungkan, terutama di kampus. Saya pikir itu adalah fase terakhir yang paling sempurna. Dan ternyata, tak berhenti sampai di sini. Ada fase berikutnya yang sangat menarik, yaitu:
Fase 5.0: pendidikan berbasis potensi manusia.

Sampai sini, Pak Agung memberikan gambaran sistem pendidikan di negara Finlandia. Cara belajar di Finlandia, tak sama dengan di Indonesia. Di Finlandia, proses belajar-mengajar disesuaikan (ada rencana belajar personal), fokus pada kreativitas dan bukan pada numerik, mendorong pengambilan risiko serta berbagi tanggungjawab dan kepercayaan.

Di negara ini juga, cita-cita guru menjadi cita-cita yang terbesar. Guru-guru di sana berdedikasi dengan pekerjaannya. Bahkan, melakukan home visit untuk mengetahui perkembangan anak didiknya.
Berbeda dengan di Indonesia, cita-cita orang menjadi guru kebanyakan hanya mengincar sertifikasi, bukan untuk berdedikasi dengan dunia pendidikan. (Meskipun saya yakin, masih ada beberapa guru beridealisme dan berdedikasi pada dunia pendidikan.)

Suatu isu menarik, pemahaman orang tua dan guru tidak sama. Apa yang diajarkan guru dan orang tua tidak sama. Terkadang hal ini menjadi kendala bagi anak di dalam belajar. Terlebih setiap anak mempunyai kepribadian dan potensi yang berbeda.

Lanjut berikutnya, Pak Agung menyampaikan, setiap anak diciptakan bernilai. Tentu dalam hal ini, kita semua sepakat. Karena Allah swt telah menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna. Setiap manusia pasti diciptakan lengkap dengan potensinya masing-masing. Hanya karena kita yang mungkin belum mengetahui potensinya apa.

Maka, sebagai orang tua, sebagai orang dewasa, stop mengatakan anak bodoh, tidak berguna, dan sebagainya. Bukankah, menghina suatu makhluk sama saja kita menghina Penciptanya?

Seorang anak, ibarat tanaman. Hanya perlu perlakuan berbeda disesuaikan dengan kepribadiannya. Bagaimana cara mengetahui kepribadian seorang anak? Ini dia:

Sumber gambar: Webinar Mendidik Anak sesuai Genetik oleh Stifin

Cek sidik jari berdasarkan Stifin, adalah salah satu cara mengetahui kepribadian anak. Sidik jari ini tidak akan pernah berubah. Makanya hasil pemeriksaan pun tidak akan berubah. Berbeda dengan cek kepribadian dengan cara kuesioner, hasil masih mungkin berubah. Sidik jari ini dipengaruhi secara genetik.
Setiap individu, dipengaruhi oleh faktor genetik yaitu 20%, dan lingkungan sebesar 80%. Faktor genetik ini adalah satu hal yang tidak akan bisa berubah.

Nah, berikut pembagian karakter berdasarkan Stifin:
Sensing dengan chemistri Harta.
Thinking dengan chemistri Tahta.
Intuiting dengan chemistri Kata.
Feeling dengan chemistri Cinta.
Terakhir, Insting si serba bisa, dengan chemistri Bahagia.

Sumber gambar: Webinar Mendidik Anak sesuai Genetik, oleh Stifin

Bagaimana cara mengetahui? Ya, tentu dengan tes sidik jari Stifin. Tidak bisa menerka-nerka.

Pak Agung mengungkapkan, ibarat jari-jari pada sebuah tangan.
Jari jempol adalah penggambaran seorang Sensing. Orang Sensing senang diberi jempol, dipuji hebat, dan sebagainya.
Jari telunjuk adalah penggambaran seorang Thinking. Orang Thinking mempunyai bakat memerintah. Di manapun, pointernya akan selalu jalan.
Jari tengah adalah menggambarkan Insting. Insting adalah penengah. Pencari kedamaian.
Jari manis adalah gambaran seorang Intuiting. Intuiting pemimpi yang butuh ruang berkreasi.
Sedangkan, jari kelingking adalah gambaran seorang Feeling. Feeling yang sangat mengutamakan persahabatan.

Untuk mengetahui support system, maka bentuknya searah satu jam.
Dari jempol, ke telunjuk, jari telunjuk ke jari tengah, dan sebagainya.
Jadi gambarannya seperti ini: Sensing menyupport Thinking, Thinking menyupport Insting, Insting menyupport Intuiting, dan selanjutnya.

Sedangkan, untuk mengetahui siapa yang akan menaklukkan siapa, maka bentuknya tetap searah jarum jam, tetapi dilompat satu.
Gambarannya seperti ini: Sensing menaklukkan Insting, Thinking menaklukkan Intuiting, Insting menaklukkan Feeling, dan seterusnya.
Apa yang dimaksud menaklukkan? Artinya adalah melengkapi satu sama lain. Keberadaannya sebagai sahabat yang akan membuat satu sama lain berasa utuh.

Wah, jadi berasa sangat penting mengetahui kepribadian kita masing-masing dengan cek Stifin ini, ya. Supaya ada gambaran bagaimana bersikap sebelumnya. Begitu banyak orang yang tidak mengenal diri sendiri, sehingga salah langkah. Bahaya tidak mengetahui potensi diri kita antara lain akan berdampak:

Stupid Cost: biaya kebodohan akibat salah memilih jurusan. Ada yang salah jurusan ketika kuliah? Saya hanya bisa menyampaikan, Anda tak sendiri. Saya pun mengalaminya.
Opportunity Cost: kehilangan kesempatan akibat salah jalan menapaki jalur cita-citanya yang ternyata tidak sesuai bakat.
Health Cost: biaya yang ditimbulkan akibat stres, DO, karena beban pikiran tidak sesuai dengan potensinya. Wah, saya tahu banget betapa tidak enaknya menjalani hidup yang tidak sesuai dengan diri kita sebenarnya.

Alhamdulillah, saya pribadi pun turut merasakan manfaat setelah mengikuti cek Stifin ini. Mengetahui betapa masa lalu saya berada di lingkungan yang ternyata tidak mendukung potensi saya, jati diri saya yang sebenarnya. Dan seperti yang dikatakan, memang lingkungan yang berpengaruh paling besar pada suatu individu. Namun, justru dengan faktor genetik yang hanya 20% itu, kita bisa mengambil langkah dan menciptakan lingkungan yang kita inginkan. Prinsip yang saya terapkan adalah acceptance kemudian love yourself. Terima diri lalu cintailah dirimu apa adanya.

Bagaimana? Siap mengetahui potensi terbaik diri, pasangan maupun anak-anak kita? Pastinya akan sangat membantu untuk perjalanan hidup kita selanjutnya. Semoga review acara ini bermanfaat, ya.

Bandar Lampung, 27 Februari 2022

Emmy Herlina

0Shares

5 comments

  1. MasyaAllah catatan lengkap sekali, terima kasih mbak Emmy. Jadi Dewi bookmark-in nih

  2. Lingkungan yang berpengaruh paling besar pada suatu individu. Namun, justru dengan faktor genetik yang hanya 20% itu, kita bisa mengambil langkah dan menciptakan lingkungan yang kita inginkan…..kalimat ini yang harus digarisbawahi ya mbak…dan setuju sekali dengan statement tersebut.

  3. Nah iya, kadang pemahaman mendidik antara orang tua dan guru itu tidak sama. Seharusnya memang diadakan koordinasi secara rutin antara orang tua dan gurunya

  4. Stifin emang keren sih. Aku belum pernah ikut kegiatannya. Hanya mendengar dari teman yang sudah ikut tesnya juga. Ternyata emang semenarik itu ya bahasannya…

Tinggalkan Balasan