Malam Puncak OLEH Asri SN

Malam Puncak (Asri SN)

Tarian Pagar Pengantin mengiringi saat aku dan perempuan cantik itu berjalan di atas karpet merah ini. Sepintas mataku melihat para tamu yang berjejer rapi di sisi kiri dan kanan jalan. Ada yang sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponselnya, ada juga yang berbisik-bisik dengan orang di sampingnya. Entah apa yang tengah mereka perbincangkan.

Sesampainya di pelaminan, mataku terus menyisir wajah-wajah tamu undangan. Manik mata ini bergerak ke sana-kemari mencari sosok ayu nan lembut yang pernah mengisi hari-hariku selama tiga tahun lalu. Ada rasa sedikit bahagia, tetapi lebih banyak sedih ketika tidak berjumpa dengan tamu yang dinanti tersebut.

Ah, apa yang sedang kupikirkan? Tidak mungkin gadis itu datang. Pastilah saat ini mata indahnya sedang basah dan sembab. Aku telah melukai hatinya dengan pernikahan yang telah direncanakan kedua orang tuaku dan orang tua perempuan ini.

Sejujurnya, aku tidak menghendaki berada di sini sekarang. Pikiran ini terus saja menerawang dan memikirkan Naila, sang gadis pujaan. Sampai-sampai aku tidak begitu memperhatikan siapa saja tamu yang bersalaman denganku.   

“Don, pengantin itu harus semringah. Bukan seperti mayat hidup. Kenapa, lu?” goda Imron, sahabatku.

“Eh, elu Ron. Gue kira siapa. Sorry lagi gagal fokus,” jawabku sambil berusaha tersenyum.

“Jangan bilang lu lagi mikirin Naila. Ingat yang di sebelah elu, Don! Itu yang sudah sah,” bisik Imron seraya menyalami tanganku.

“Bang, itu temannya, ya?” Perempuan yang kini menjadi istriku itu menanyakan Imron. Belum sempat kujawab pertanyaannya, tetapi Imron telah mengenalkan dirinya.

“Mbak, saya Imron. Sahabat Doni dari duluu banget.”

“Ron, mau foto bareng, enggak?” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, “Jangan lama-lama, Ron. Masih banyak yang antre mau salaman.”

***

Pukul dua siang, acara selesai. Para tamu undangan telah pergi. Aneka hidangan yang disajikan pun telah habis. Tinggallah aku, perempuan ini, dan keluarga kami.

Setelah kami semua kembali ke rumah perempuan yang harus kupanggil istri itu, kini kedua orang tua dan keluargaku yang berpamitan pulang. Rasanya begitu asing tinggal di rumah orang yang baru beberapa hari dikenal. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama. Namun, aku tidak perduli.

Hari ini terasa sangat melelahkan. Bukan hanya karena harus bersalaman dengan ratusan orang, tetapi juga harus memasang senyum palsu, dan meredam pikiran yang berkecamuk. Otak dan hati selalu meminta Naila, bukan perempuan ini.

Bayangan Naila yang terus menerus berkelebat di mata, membuatku tak sanggup memandang sang istri yang sebenarnya berwajah cantik. Tak kalah menarik dari sang mantan. Namun, aku tak sampai hati untuk menyentuhnya. Hingga satu minggu kemudian kami pindah ke rumah yang telah kubeli–bersama Naila dulu.

Berada di dalam satu rumah dengan perempuan ini masih terasa asing. Tidak ada lagi saudara dan kedua orang tuanya. Akan tetapi, aku pun tak sanggup lagi menahan diri. Saat malam itu datang,  hujan turun dengan deras disertai padamnya listrik. Jantungku berdegup kencang, tetapi hal ini harus dilaksanakan.

***

Aroma masakan tercium harum, menandakan lezatnya makanan yang dibuat. Menggelitik hidungku dan memaksa kelopak mata untuk terbuka. Bunyi pisau yang beradu dengan alas potongnya bersahut-sahutan. Terdengar sibuk dan ramai. Kupandangi sisi pembaringan, perempuan itu sudah tidak ada.

Seorang perempuan dengan rambut terurai dan mengenakan baju tidur berwarna putih sedang berdiri di dapur. Pisaunya berhenti memotong ketika dia menyadari kedatanganku. Perlahan dia menoleh dan berbalik menghadap. Masih dengan pisau di tangannya. Kini aku bisa memandangi wajahnya dengan jelas.

Aku tersenyum melihatnya di sana. Walaupun dia belum berkemas, tetapi bagiku dia sangat memukau.

“Aku sudah menjalankan kewajibanku. Tinggal Abang Doni yang menyelesaikannya.”

“Di mana dia, Sayang?”

“Baru sebagian yang kumasukkan plastik. Silakan dilanjutkan.”

“Seandainya saja kamu tidak mencoba masuk ke dalam kehidupanku, maka kamu tidak akan mengalami hal ini,” gumamku ketika menatap mata istriku yang telah terpejam untuk selamanya.

***

Nulisbareng/AsriSN

0Shares

Tinggalkan Balasan