Sumber: normantis

Lusi dan KUNANG-KUNANG oleh Nopiranti

Lusi dan Kunang-Kunang

(Nopiranti)

Lusi menatap sekeliling. Sambil memicingkan mata menatap dalam gelap, samar-samar dia melihat keempat teman sekamarnya sudah tertidur lelap. Ini saatnya dia menyapa sahabatnya.

Perlahan dia turun dari tempat tidurnya yang terletak paling dekat dengan jendela. Lusi menyingkap gorden, lalu dia tersenyum. Sahabatnya telah menunggu di balik jendela, menanti untuk dibukakan jalan masuk.

Berusaha untuk tidak membuat suara gaduh, Lusi pelan-pelan sekali membuka kunci. Saat kaca tersingkap, sahabat yang ditunggunya itu langsung menghambur, hinggap di pipi kanan Lusi. Hangat dan geli terasa.

Sahabat kecil bersayap itu kemudian diam di telapak tangan Lusi. Sinar yang memancar dari perutnya nampak indah seperti semburat pelangi, kuning, merah terang, hijau, dan oranye.

“Hai, kunang-kunang. Aku senang kita bisa bertemu lagi,” bisik Lusi seraya tersenyum pada binatang sejenis kumbang nokturnal itu.

Sinar dari perut kunang-kunang itu berkerlap-kerlip, seolah merespon bisikan Lusi.

“Oh, kamu mau masuk ke kamarmu? Siap. Aku antar kamu, ya,” ucap Lusi sambil berjalan perlahan kembali ke tempat tidurnya.

Lusi lalu jongkok dan mengambil sesuatu dari kolong kasur. Sebuah toples kaca berukuran sedang. Sepertinya itu toples bekas tempat selai.

Lusi kemudian menyimpan toles itu di atas meja kecil yang ada disamping tempat tidurnya. Setelah itu Lusi mendekatkan kunang-kunang di telapak tangannya ke arah toples itu. Nampak kunang-kunang terbang perlahan masuk ke dalam toples. Sayapnya mengepak-ngepak seolah mengucapkan terima kasih pada Lusi.

“Karena kamu sudah masuk ke kamarmu yang hangat, aku juga mau masuk ke dalam selimbut hangatku juga sekarang.” Senyum semakin lebar terlukis di wajah Lusi.

Dia lalu merebahkan badannya dan menarik selimbut hingga menutupi lehernya. Kemudian badannya berbalik ke arah kunang-kunang di dalam toples.

“Karena ada kamu di sampingku, aku pasti bisa tidur nyenyak lagi malam ini,” bisik Lusi perlahan sambil telunjuknya menyentuh toples kaca itu.

“Aku berharap bisa bermimpi indah lagi seperti malam-malam yang lalu, mimpi bertemu Ferina,” Lusi melanjutkan bisikannya.

Bibir gadis kecil yang bulan depan baru akan genap berusia 10 tahun itu terlihat komat-kamit berdoa.
Sekali lagi jemarinya dengan lembut menyentuh toples kaca itu.

“Selamat malam, kunang-kunang. Selamat tidur. Selamat mimpi indah.” Ditemani cahaya yang keluar dari perut sahabat kecilnya itu, Lusi pun memejamkan mata.

Tak lama, dia nampak tenang, terlelap dalam tidurnya.
Kunang-kunang perlahan terbang keluar dari dalam toples. Dia menuju wajah Lusi. Di atas kedua mata Lusi yang terpejam damai, kunang-kunang mengepakkan sayapnya. Nampak seperti sedang menaburkan bubuk kemilau ajaib. Bubuk pengantar mimpi indah untuk Lusi, gadis kecil yang sudah sebulan ini bersedih. Sejak sahabat dekatnya, Ferina, diadopsi oleh keluarga Raharja dari Jakarta.

Lusi dan Ferina, dua gadis kecil cantik yang sepuluh tahun lalu ditemukan malam hari dalam waktu yang hampir bersamaan. Mereka tergeletak dalam dua keranjang bayi terpisah di depan panti asuhan Kasih Bunda, Sukabumi, Jawa Barat. Usia mereka diperkirakan baru dua bulanan.

Satu jam setelah ibu panti menemukan Lusi, seorang anak panti dewasa kemudian menemukan Ferina. Dua bayi itu tak henti menangis. Sibuk semua penghuni panti bergantian menggendong mereka untuk meredakkan tangisnya. Namun tak ada yang bisa menghentikan tangisan sedih kedua bayi itu.

Menjelang tengah malam, keajaiban terjadi. Saat Lusi dan Ferina ditidurkan saling berdampingan, tangis mereka perlahan berhenti. Mereka saling menatap dan jari-jari tangan mereka saling bersentuhan. Seperti dua sahabat yang sedang saling menguatkan satu sama lain.

Seisi panti yang turut menyaksikan peristiwa itu, larut dalam haru. Sejak saat itu, dua bayi itu tak pernah terpisahkan.

“Kita janji harus selalu bersama selamanya ya. Kalau nanti ada yang akan mengadopsi, kita harus minta supaya diadopsi berdua. Kita, tidak boleh berpisah,” ucap Lusi yang dijawab dengan anggukan kepala penuh keyakinan oleh Ferina.

Namun tak ada yang tahu kehendak takdir. Sebulan yang lalu, Ferina resmi menjadi putri angkat keluarga Raharja. Pasangan suami istri pengusaha kaya raya dari Jakarta itu langsung jatuh cinta pada Ferina sejak pertama mereka melihat foto yang disodorkan oleh ibu panti.

Tak banyak waktu bagi Ferina untuk mengajukan permohonan pada ibu panti maupun pada keluarga Raharja agar mengizinkan Lusi juga diadopsi bersamanya.

Lisan Ferina mendadak kelu. Dia tak punya cukup keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya. Hingga hari terakhirnya di panti siang itu, saat Bapak dan Ibu Raharja datang menjemputnya, Ferina tak bisa menemukan Lusi.

Ada maaf yang ingin Ferina sampaikan. Namun tak pernah bisa tersampaikan karena Lusi sedang berada jauh dari ruang tamu saat itu. Lusi sembunyi di atas pohon kersen di kebun belakang panti. Dia tersedu dalam pilu yang begitu menyayat hati.

Sekarang genap sebulan Ferina pergi. Pihak panti asuhan sudah menyetujui permintaan keluarga Raharja untuk memutus komunikasi antara Ferina dengan semua temannya di panti. Karena orang tua angkat Ferina itu ingin supaya gadis kecil mereka bisa fokus beradaptasi dengan keluarga dan teman-teman barunya.

Sudah sebulan pula Lusi murung. Tak bisa diajak bicara. Sedikit makan. Sulit tidur juga.

Namun sejak seminggu yang lalu Lusi nampak segar dan ceria lagi. Sejak ada kunang-kunang yang menyapanya malam itu di balik jendela kamarnya.

Saat rindu yang teramat sangat pada sahabatnya datang menyergap, kerlip cahaya kunang-kunang mengalihkan perhatiannya. Lusi seperti menemukan sahabatnya yang hilang. Sahabat belahan jiwanya. Yang sejak kecil senang bermain dengan kunang-kunang yang selalu muncul hampir setiap malam. Menyapa mereka dari balik jendela tempat tidur mereka yang saling berdempetan.

Lusi dan Ferina, dua sahabat yang dulu ditemukan bersama-sama di malam yang penuh dengan serbuan kunang-kunang di depan pintu panti asuhan. Itulah kenapa mereka dinamakan Lusi dan Ferina oleh ibu panti.

Dari buku yang pernah dibacanya. Ibu panti tahu kalau cahaya yang keluar dari perut kunang-kunang itu hasil dari penggabungan zat kimia Luciferin dengan oksigen, kalsium, dan adenosin trifosfat. Maka beliau secara spontan memanggil dua bayi itu dengan nama Lusi dan Ferina. Dua sahabat yang entah kapan bisa bertemu lagi.

Rabu, 4 November 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan