Senja

Luka Sang Fajar (Part 2 – Finish) oleh Athena Hulya

Luka Sang Fajar
(Part 2 – Finish)

Sebelumnya di Luka Sang Fajar oleh Athena Hulya

“Halo selamat sore, Bu Athena, ada tamu untuk Ibu,” ucap Resepsionis melalui sambungan telepon kantor.

            “Siapa, ya?”

            “Kanu Arestian, Bu.”

            “Tolong suruh tunggu di lobi saja. Sebentar lagi saya turun.”

            Terkaget mendengar kalau Kanu berada di kantorku. Buru-buru touch up agar tak terlihat kucel, memulas lipstik dan memakai parfum.

            “Widih cakep banget, mau ke mana, tuh?” ledek rekan setimku.

            “Ada janji. Gue balik duluan ya. Bye!”

            “Eh tumben si workaholic pulang tepat waktu.”

            “Dia lagi ditungguin sama mas-mas ganteng di lobi,” ucap Gema yang baru saja masuk ke ruangan meminum satu cup hot Espresso.

            “Bye! See you tomorrow, my team.

            “Bye, hati-hati di jalan Bu,” timku serentak menyahut.

            Seperjalanan turun lift jantungku berdetak makin cepat dan tangan menjadi dingin, tertanda gugup. Ya ampun, aku seperti anak ABG yang sedang ingin bertemu pacarnya. Perasaan ini muncul lagi, apa mungkin aku menyukai Kanu? Ah, aku tak mau membayangkan macam-macam karena sepertinya Kanu hanya menganggapku teman dan aku tak bisa asal membuka hati begitu saja.

***

            “Namanya Kiyomi Aretha.”

            “Hee? Siapa?”

            “Perempuan yang gak sengaja ketemu di kafe seminggu lalu,”

            “Oh, memangnya dia siapa?” tanyaku penasaran, karena sudah seminggu ini aku kepikiran dengan wanita itu. Kanu terdiam lama, wajahnya nampak seperti minggu lalu terakhir kumelihatnya.

            “Kalau kamu nggak mau jawab, nggak apa-apa, kok! Nggak usah dipaksa,” timpalku sambil menyodorkan minuman kesukaannya, iced choco tea.

            “Aku harus membicarakan ini padamu, Na. Dia mantanku! Kami berpacaran 9 tahun, sejak SMA hingga kami sama-sama bekerja. Selama itu kami berpacaran layaknya orang-orang. Singkat cerita, saat masing-masing sudah bekerja kamipun bertunangan, namun beberapa minggu setelah tunangan dia kepergok selingkuh dengan sahabatku. Kami sedang merencanakan pernikahan, segala rupa yang menyangkut pernikahan sudah kami bayar dan cincin juga sudah dibeli. Melihat dia berselingkuh rasanya seperti mimpi buruk di siang bolong! Saya nggak pernah membayangkan kejadian itu terjadi, saya kira hidup saya akan sempurna bersama dia, ternyata nggak! Kamu tahu? Dia pacar saya satu-satunya, saya nggak pernah berpacaran sebelumnya dan sesudahnya. Karenanya saya nggak percaya pernikahan, luka yang dia buat sakit banget.”

            Mendengar pernyataan Kanu, baru kutahu di balik sosok Kanu yang terkesan cuek tersimpan luka yang dalam. Sebelumnya, kukira ia adalah seorang badboy yang sering berganti-ganti pasangan, perkiraanku salah. Ia ternyata sosok yang rapuh, terbukti ia menahan tangis saat membicarakan kenangan menyakitkan tadi.

            “Sekarang lukaku perlahan sembuh, rasa sakit yang dirasa selama 5 tahun ke belakang menghilang. Semua itu karena seseorang! Seseorang itu membuatku sembuh, dengannya saya lupa akan masa laluku yang menyebalkan. Ia yang lukanya hampir sama seperti lukaku, ia membuatku merasakan cinta lagi. Saya jatuh hati padanya, Na. Tapi saya nggak tahu dia menyukai saya juga atau nggak! Saya bingung dibuatnya.”

            “Oh, bagus, dong!” jawabku, namun jantungku yang dari tadi berdetak cepat karena kehadiran Kanu mendadak memelan ritmenya dan hati ini merasa tak karuan. Ah, apakah aku cemburu? Bukankan bagus kalau dia menyukai wanita lagi setelah bertahun-tahun terpuruk dalam kesedihan.

Memang dukaku terhapus oleh Kanu, dengannya aku melupakan Abi. Namun siapalah aku, aku hanyalah wanita difabel yang duka dan lukanya disembuhkan oleh Kanu, tidak lebih. Jangan mengharap padanya, mungkin di matanya aku hanyalah res-resan rengginang di kaleng Khong Guan. Ia pantas mendapatkan wanita cantik yang setara dengan Kiyomi mantan tunangannya, dan aku sangatlah jauh dari itu.

Kanu menatapku lekat, “Kamu tahu, Na, siapa orang yang kumaksud itu?”

“Enggak!”

“Itu kamu, Athena Mayla Schatziany!” tegasnya sambil memegang tanganku.

Bersambung…

18 Juli 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan