Lima Kenangan Bagus di Bulan Agustus (Ala Emmy)

Lima Kenangan Bagus di Bulan Agustus

Bye, bye, Agustus. Selamat datang, September. Seperti beberapa pengalaman di Fly in July, Agustus ini aku berhasil mengukir kenangan baru. Wah, samakah yang aku alami dengan di bulan sebelumnya? Padahal seperti yang pernah kuceritakan, bahwa dikarenakan keranjingan pada bulan Juli lalu, mengakibatkan penyakitku semakin parah. Kembali aku harus menemui dokter di bulan ini. Kembali aku harus dihadapkan kenyataan bahwa mau tak mau, aku harus beristirahat cukup.

Karena sedikit mengerem keinginan untuk melaju pesat, maka kuputuskan merelakan beberapa event yang tidak jadi kuikuti. Seperti Gramedia Writing Project, yang terpaksa tidak kutuntaskan. Atau event menulis Cabaca yang tidak jadi kuikuti. Walau bagaimanapun, tetap tidak mengurangi kenyataan bahwa ada beberapa pencapaian yang cukup kubanggakan di bulan Agustus.

Bertobat dan kembali pada hobi membaca adalah salah satunya. Iya, benar sekali. Membeli buku dan membacanya adalah dua hal yang sangat berbeda. Aku memiliki koleksi buku bersegel yang banyak sekali, tanda banyaknya pembelian buku yang kulakukan di masa lalu. Masih bersegel? Ya, beberapa bahkan belum dibuka dari bungkus pengirimannya. Hal ini sudah terjadi sejak … beberapa tahun sebelumnya. Bisa dibayangkan setinggi apa tumpukan buku yang belum terbaca ini, kan.

Maka, kuputuskan sejak awal bulan Agustus, aku harus benar-benar bertobat. Bukan hanya keinginan di lubuk hati saja. Aku harus benar-benar, membuka segel, membaca sampai tuntas, mengambil hikmah bahkan menuliskan reviewnya sebagai salah satu cara melancarkan kembali ide-ide kepenulisan. Luar biasa. Dalam satu bulan akhirnya aku berhasil menuntaskan sekitar empat buku termasuk menuliskan reviewnya di media sosial, baik Instagram, facebook maupun blog. Wow, ini lebih baik daripada tidak sama sekali!

Contoh review buku “Fruit Salad”, salah satu karya solo terbitan Rumah Media.

Anyway, refleksi perjalanan satu bulan terakhir ini telah kubagi dalam lima kenangan bagus di bulan Agustus, berikut ini:

Pertama: Pendidikan

Selama bulan Agustus, perkuliahan yang kujalani mengalami libur panjang. Belum juga masuk kampus, belum pula belajar online. Alias benar-benar libur total. Semester dua sudah selesai, menjelang semester tiga. Namun, tak mengurangi semangat belajarku. Untuk mengisi waktu, maka kupuaskan rasa haus ilmu ini dengan mengikuti beberapa webinar. Ada webinar Metodologi Penelitian, tentang Covid-19, tentang Nutrisi selama Wabah Pandemi, dan lainnya. Dari semua webinar ini, kudapatkan sertifikat ber-SKP sebagai bekal nilai tambahan sesuai jurusan perkuliahan yang kuambil. Wah, menyenangkan sekali, bukan!

Kedua: Literasi

Wah, ada prestasi di bidang literasi juga? Bukankah beberapa deadline harus kurelakan? Ada, doong. Meski harus mengurangi kegiatan karena sakit, bahkan jarang membuka laptop, bukan berarti lantas aku tidak menulis sama sekali. Selain menuntaskan Writing Challenge Rumedia yang baru saja berakhir sekitar dua minggu lalu, aku juga berhasil menuntaskan dua revisi naskah solo yang kukirimkan pada du penerbit yang berbeda. Insya Allah, dua naskah ini akan menjadi calon buku keenam dan ketujuh.

Tak hanya itu, di bulan ini aku juga mengikuti pelatihan SBMB (Sehari Bisa Menulis Buku) yang benar-benar ketjeh. Pelatihan yang digelar oleh Bapak Ilham Alfafa dan Bapak Deejay, selaku dua founder Nubar-Nullis Bareng ini, benar-benar membangkitkan semangatku yang sempat padam dikarenakan gugur dalam beberapa even. Tak hanya itu, mendengar dan menyimak penjelasan langsung meski secara online, turut membuka wawasan. Wah, padahal sudah banyak pelatihan kepenulisan yang kuikuti. Tapi tetap saja, yang satu ini BEDA!

Ketiga: Parenting

Mendekati akhir bulan Agustus ada sebuah selebaran edaran walikota yang mengatakan bahwa ada perpanjangan belajar daring di daerahku. Semula, beberapa sekolah diniatkan untuk dibuka di bulan September, kemudia diundur hingga akhir Oktober. Boleh jadi, penundaan ini akan berlanjut jika masih belum ada perkembangan baik dikarenakan wabah pandemi Covid-19 di negeri ini.

Tak ingin anakku kekurangan ilmu, maka aku pun belajar banyak hal melalui beberapa webinar bidang parenting. Kuikuti webinar tentang Kiat Menjalani Homeschooling yang diselenggarakan oleh Rumah Inspirasi. Luar biasa. Semakin terinspirasi dan menikmati menemani anak-anak belajar daring di rumah. Meski aku seorang ibu pekerja namun tetap tak mengurangi kepedulianku pada perkembangan kedua anakku. Learning is fun. Kalau ada waktunya, nanti akan kurangkum hasil pembelajaran dari webinar ini, ya.

Cukup sampai situ? Tidak sama sekali. Putri sulungku, Sophia, juga kuikutkan pada kelas coding untuk anak yang diselenggarakan salah satu komunitas, Joeragan Artikel. Mengapa? Karena anaknya sendiri yang minta. Berawal dari kelas previewnya yang bisa diikuti secara gratisan, lalu anakku ikut mencoba membuat suatu animasi, lama-lama dia jadi menikmati. Ini dia hasil dari pembelajaran Sophia:

Keempat: Nge-job ala Blogger

Apa bedanya blogger dengan penulis? Toh, keduanya sama-sama menuangkan ide melalui tulisan. Tentu saja perbedaannya adalah media yang digunakan. Tak hanya webinar kepenulisan, parenting, aku juga mengikuti webinar tentang dunia blogger ini sendiri.

Cukup? Tidak juga! Aku bahkan mengambil beberapa job yang ditawarkan. Apa saja tuh? Banyak! Ada job sebagai buzzer (Twitter), sebagai influencer (melalui Instagram), serta lainnya. Ada juga job sesuai hobiku, yaitu bernyanyi! Seruu! Tentu saja, yang kulakukan ini mendapat bayaran. Apa lagi yang lebih menyenangkan selain hobi yang dibayar? Hihi.

Oya, kebetulan sekali, pada tangggal 31 Agustus lalu, komunitas Tapis Blogger (komunitas untuk blogger khusus di provinsi Lampung) merayakan miladnya yang keempat. Wah, luar biasa. Selamat yaa, Tapis Blogger.

Kelima: My Another Hobby

Apa lagi hobi seorang Emmy selain literasi? Itu adalah seni! Kututup bulan Agustus yang indah ini dengan menonton konser live streaming. Dongeng Cinta “Ceuk Aing” karya Sujiwo Tejo, adalah pilihanku. Seruuu!

Begitulah, hasil perjalanan seorang Emmy selama bulan terakhir. Alhamdulillah, seiring kondisi kesehatanku yang mulai membaik, begitu juga dengan anakku (yang sempat demam di akhir bulan), kembali kulangkahkan kaki melanjutkan hidup selagi masih diberi napas oleh Sang Pemilik Segala.

Seperti kata Mbah Sujiwo Tejo, “untuk apa meresahkan masa depan? bukankah masa depan adalah ukiran dari masa lalu itu sendiri.”

Maka beginilah caraku merefleksi kembali momen spesial apa yang telah kulewatkan di tiap bulannya.

Sesungguhnya, waktu adalah nyawa. Maka jangan sia-siakan ia.

Bandar Lampung, 1 September 2020

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan