Lelaki Pemilik Sandal Sabut Kelapa oleh Emmy Herlina

Lelaki Pemilik Sandal Sabut Kelapa
(Emmy Herlina)

Sudah kuduga! Lagi-lagi kutemukan sandal itu di sana. Belum ada lima menit kakiku memasuki pelataran masjid ini, pandangan mata langsung tertuju pada sepasang sandal yang selalu diletakkan di bawah tangga menuju pintu depan, tepat di bawah tulisan “batas suci”. Tak hanya modelnya yang menurutku kuno, media yang digunakan pun menarik perhatianku. Siapa manusia zaman now yang sudi memakai sandal berbahan sabut kelapa itu? Membayangkan serat-serat kasar menusuk telapak kaki saja sudah membuatku geli.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar ….”

Azan Zuhur menjadikanku tersentak. Baiknya aku segera masuk … eh tidak, aku hanya akan duduk-duduk di tangga menemani Bik Ijah si penjual pempek yang menjajakan makanannya di bawah tangga menuju bagian saf perempuan.

Aku mengambil tempat dan tersenyum pada Bik Ijah. “Bik, mau pempeknya, dong.”

“Neng enggak salat dulu?”

Aku menggeleng. “Lagi em, Bik.”

“Hayya alash sholahhh … hayya alash sholaaahhh ….”

Aku tertegun mendengar suara merdu yang berkoar melalui speaker masjid. Suara yang menjadikanku tak keberatan meluangkan waktu ishoma di tempat ini, meski saat berhalangan sekalipun. Kira-kira seminggu sudah suara merdu itu berkumandang mewarnai suasana perkantoran.

“Kenapa si Neng enggak tinggal di ruangan saja, atau istirahat di kantin kantor? Lagi halangan kok malah ke masjid.”

“Yeee, Bik Ijah. Saya kan ke sini mau makan pempek. Di kantin enggak ada pempek seenak buatan Bik Ijah,” jawabku memberi alasan.

“Tapi kayaknya hari ini terakhir kalinya Bik Ijah jualan, Neng.”

Kata-kata Bik Ijah segera mengejutkanku. Kutatap raut mukanya yang berubah sedih. “Lo, kenapa, Bik?”

“Kemaren pengurus masjid ngasih tahu Bik Ijah. Mulai besok masjid mau ditutup. Gara-gara wabah, Neng. Bukannya kantor juga nantinya tutup, ya?” tanya Bik Ijah balik kepadaku.

“Bukan tutup, Bik. Tapi kami bergantian. Dua hari kerja di kantor, dua hari kerja dari rumah.”

“Ya itu lah, Neng. Bibik mah bingung, nanti mau jualan ke mana kalau masjid ditutup. Mau titip di kantin, katanya bakal tutup juga.”

“Kantin juga tutup, Bik?”

Bik Ijah mengangguk. “Iya, katanya karyawan disuruh bekal sendiri-sendiri. Biar enggak usah keluar ruangan. Bu Amin yang punya kantin juga kan takut. Nanti kalau ada orang Corona makan di kantin, gimana.”

Aku tertegun. Sebenarnya aku sudah tahu perihal kantin hendak tutup dan kami selaku karyawan dianjurkan membawa bekal masing-masing. Tapi soal masjid tutup juga, aku baru tahu dari Bik Ijah. Apakah itu berarti, aku takkan mendengar suara merdu itu lagi?

Ah, semua ini gara-gara Corona. Kupikir dia sudah betah stay di Wuhan. Enggak bakal datang ke Indonesia. Enggak bakal mengunjungi kotaku tercinta. Gara-gara Corona, aku harus membawa masker ke mana-mana, yang kadang sebatas kucantelkan di telinga atau kusimpan dalam saku. Gara-gara Corona, kata Pak Surya, bosku, kami harus menjalani WFH (work from home) bergantian. Enggak tahu apa, kalau aku orangnya bosenan di rumah!

Aku mendengus. Kumasukkan pempek kelima ke dalam mulut dengan sedikit tergesa. Uhuk, uhuk. Ups. Aku jadi tersedak!

“Eh, pelan-pelan, Neng. Ini minum dulu aquanya.” Bik Ijah menyodorkan sebuah aqua gelas yang sudah ditusukkan sedotan kepadaku. Satu per satu jamaah sudah mulai keluar. Laki-laki keluar dari pintu depan dan mencari alas kaki masing-masing. Sementara jamaah perempuan keluar dari pintu di atas tangga yang kududuki.

Sebuah ide terbersit di benak. Aha! Mungkin saja hari ini hari keberuntunganku. Mumpung aku enggak salat, aku bisa mencari tahu siapa pemilik sandal sabut kelapa itu! Cepat-cepat kuhabiskan pempek yang ketujuh.

“Neng, pelan-pelan makannya.” Kembali Bik Ijah mengingatkan.

Setelah melahap habis, kuserahkan sejumlah uang padanya, sambil mengucapkan terimakasih. Aku tidak boleh melewatkan satu-satunya kesempatan, apalagi besok masjid ini akan ditutup.

Tiga pasang sandal jepit yang tersisa sudah dipakai pemiliknya masing-masing. Tinggal sepasang sepatu dan si sabut kelapa! Tampak Pak Surya berjalan, mengambil sepatu, dan memakaikannya.

“Ryan! Ayo cepat. Kita mau makan dulu di kantin.” Pak Surya memanggil seseorang di yang masih berada di dalam masjid.

“Sebentar, Yah,” jawab suara seorang lelaki.

Kedua mataku membulat saat melihat sosok lelaki berpakaian koko keluar dan mengenakan sandal sabut kelapa. Kok, enggak sesuai dengan penampilannya, ya? Terus, tadi dia panggil Pak Surya, “Ayah”?

 “Kamu juga ngapain, pakai sandal begituan, Nak. Malu-maluin aja.”

“Ih, Ayah enggak tahu! Sandal hand made begini unik, Yah! Kenang-kenangan dari Yogya!”

“Halah, dari Yogya apa. Itu kan sandal kamu buat sendiri, kau pikir Ayah enggak tahu!”

Kulihat lelaki itu menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak gatal. Namun seringainya tampak mengingatkanku pada seseorang. Sayangnya punggungnya masih membelakangiku.

“Sudah, besok, tak usah lagi kau bawa sandal itu. Masjid juga mau ditutup. Kau tak perlu azan lagi!”

“Tapi, Yah. Walau masjid ditutup, masa tidak ada azan. Kan, tetap azan, Yah.”

Jantungku entah kenapa berdetak dua kali lebih cepat mendengar perkataannya barusan.

“Sudah, kalau begitu besok tidak perlu datang ke kantor Ayah! Kamu belajar di rumah dulu. Yang jelas, kalau mau jadi penerus Ayah, jangan pakai sandal itu lagi ke kantor!”

Kulihat Pak Surya bergegas meninggalkan lelaki yang dipanggilnya Ryan itu. Nama yang mengingatkanku kepada ….

Ah, belum juga pikiranku menemukan titik temu, kulihat lelaki itu tersandung saat mengejar Pak Surya. Karena itu sandalnya terlepas.  Tubuh Ryan berbalik untuk mengambil sandalnya kembali dan seketika ingatanku terkuak.

Lelaki yang mengenakan sandal sabut kelapa itu ternyata … Ryan Surya Adinegoro! Lulusan ISI (Institut Seni Indonesia) yang kutemui ketika magang di Yogya. Lelaki yang pernah kutolak cintanya, setahun lalu.

Nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan