Lebaran? Di Rumah Aja oleh Putri Zaza

Lebaran? Di rumah aja

Kudengar mama sedang membangunkan dua jagoannya yang baru tidur sekitar jam dua pagi karena merayakan malam takbiran. Loh, bukannya tidak boleh berkumpul. Ya, memang tidak boleh seharusnya. Namun, siapa yang bisa melarang anak muda yang jiwanya sedang menggelora.

Para laki mempersiapkan tempat untuk salat idul fitri di rumah. Mengosongkan ruang tamu. Semua bangku dipindahkan ke teras dan disapu serta dipel.

Aku dan mama mempersiapkan makanan. Tahun ini aku tak berkesempatan untuk full puasa selama sebulan dan tidak berkesempatan untuk salat idul fitri yang dilakukan di rumah.

Adikku yang paling besar diberi amanat untuk menjadi imam dan ayahku menjadi yang berkhutbah seusai salat. Walau, hanya di rumah kami ingin salat dengan cara yang benar.

Aku hanya dapat mendengar dari kamar orang tuaku yang berdekatan dengan ruang tamu. Dari mulai takbiratul ihram sampai takbir penutup khutbah.

Usai salat kami semua berkumpul di ruang makan sekaligus dapur untuk menyantap lontong dengan semur daging andalan mama.

Dilanjutkan dengan foto bersama dan acara sakral yaitu sungkeman. Pertama mama yang berlutut di hadapan ayah yang duduk di bangku meminta maaf dan ciuman  di dahi dan pipi kemudian mama duduk di samping ayah.

Selanjutnya aku sebagai anak pertama meminta maaf atas kesalahan yang disengaja maupun tidak sengaja.

Iyo,¬† Nduk, podo-podo, yo. Yen wong tuwo akeh salahe dingapuro. Tak dongakne gen dang entok jodoh seng soleh,” ucap ayah sambil mengusap kepalaku dan disambung meminta maaf kepada mama.

“Iya, Nduk, semoga menjadi perempuan yang selalu menjaga kehormatan keluarga ya. Semoga tahun ini ada yang melamar yo, Nduk.” Diakhiri dengan ciuman di dahi dan pipi. Setelah itu gantian kedua adikku yang berlutut.

Ya, tahun ini masih sama seperti tahun lalu banyak doa berkaitan tentang nikah. Semoga tahun ini doa para pendoa dikabulkan Allah, aamiin.

Handphone mama berbunyi nyaring sekali ketika logo telpon berwarna hijau diusap ke atas seketika suara riuh keponakan dan adik mama menyambut memberi selamat lebaran tak lupa ‘mohon maaf lahir batin’. Sepertinya, semua orang merasakan silahturahmi virtual. Beruntung masih bisa bertatap muka ya. Kita harus selalu mensyukuri.

Semoga tahun depan, Allah izinkan bertatap muka secara langsung.

Nb: “iya, Nak, sama-sama. Kalau orang tua banyak salah mohon dimaafkan. Ayah doakan semoga mendapat jodoh yang salih.”

Cibitung, 29 Mei 2020

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

Tinggalkan Balasan