Foto Buku Jangan Mudah Mengeluh

Kisah Ramadan yang Tak Terlupakan oleh Emmy Herlina

Kisah Ramadan yang Tak Terlupakan

Tak terasa, sebentar lagi kita akan memasuki bulan paling mulia. Bulan Ramadan, yang konon kabarnya paling utama dibandingkan sebelas bulan lainnya. Apalagi ada satu hari di bulan Ramadan yang lebih baik dari 1000 bulan. Ya, betul sekali. Namanya Lailatul Qadar.

Tapi kali ini aku tidak akan membahas apa itu Lailatul Qadar dan keutamaan Ramadan lainnya. Aku yakin, teman-teman bisa menemukan banyak referensi tentang hal itu.

Melainkan bagaimana dengan pengalamanku di bulan Ramadan yang paling tidak terlupakan?

Bagiku, ada beberapa pengalaman. Mulai dari pengalaman pernah ikut pesantren kilat semasa SMA dulu, lalu setahun setelahnya aku memutuskan pertama kali memakai hijab.

Pengalaman menjalani puasa pertama bersama sang suami, yang mana aku menyebut Tarawih romantis. Deu …. Jomlo jangan iri yee, hihi.

Lalu pengalaman paling tak terlupakan adalah ketika aku pertama kalinya dianugerahi buah hati di dalam rahim setelah 2,5 tahun menikah. Masih teringat ketika itu, aku menjalani shift malam, di ruang HCU (ruang rawat inap intensif yang berada satu tingkat di bawah ICU). Seperti biasa, saat bertugas biasanya aku menyiapkan Tolak Angin buat persiapan begadang. Aku sempat mengeluh merasakan kurang enak badan saat bekerja.

Temanku mengatakan, “My, jangan-jangan kamu hamil!”

Aku ingat sempat meremehkan kata-katanya. “Sudahlah, aku tahu kok, pasti enggak. Selama ini bukankah test pack selalu negatif.”

 Lalu temanku membantah lagi, “tapi bukannya kita selama ini kalau haid selalu barengan, ya? Kok kamu saya perhatikan belum dapet-dapet juga?”

Agak lama akhirnya aku memutuskan untuk melakukan test pack (dengan bujukan dari ayuk kandungku juga) dan voila, hasilnya: aku hamil!

Baca juga https://parapecintaliterasi.com/ada-apa-dengan-sahur-pertama-tahun-ini-oleh-emmy-herlina/

Aku senang sekaligus galau. Bagaimana tidak? Di saat itu aku sudah menjalani Long Distance Marriage bersama sang suami. Sekaligus juga di saat yang sama, aku membantu ayahku yang harus bolak-balik menjalani perawatan di rumah sakit. Selama di bulan Ramadan, dua kali beliau diopname di RS. Bahkan kami sempat khawatir, kalau ayahku tidak bisa pulang menjelang Idul Fitri. Untungnya beliau diperbolehkan pulang sehari menjelang Idul Fitri.

Aku bekerja sambil mengurus orang tuaku, yang diopname di rumah sakit yang sama tempatku bekerja, hanya saja berbeda ruangan.

Siapa menyangka saat yang seharusnya membahagiakan, dianugerahi calon buah hati yang selama ini kutunggu-tunggu, namun harus kujalani dengan hati sedih karena kesehatan ayahku yang memburuk.

Siapa menyangka Ramadan itu akhirnya menjadi Ramadan terakhirku bersama ayahku. Cerita Ramadan-ku yang paling tak terlupakan. Bagaimana dengan cerita kalian?

Fyi, pengalaman ini pernah kutuliskan dalam sebuah buku, antologi keroyokan bersama Pak Dwi Suwiknyo, yaitu Jangan Mudah Mengeluh. Bisa dibilang buku ini merupakan satu-satunya yang ada tulisanku dan berhasil diterbitkan mayor, sebagai jejak kehidupan yang abadi.

(Seperti yang kuceritakan dalam Oase di Tengah Sahara karya Emmy Herlina pada sebuah buku Jangan Mudah Mengeluh, terbitan Quanta)

Jumlah kata: 430

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

11 comments

    1. Amiiinn. Makasih Mbak. Insya Allah, Allah gak kan memberi ujian di luar kesanggupan hamba-Nya

  1. Saat inilah Ramadhan nggak terlupakan itu. Bagi Yuni sih.

    Coba aja bayangin. Biasanya saat ini Yuni udah membayangkan mudik lebaran.

    Eh saat ini boro-boro. Terancam nggak bisa mudik. Mana udah dilarang pula.

    Tapi nggak papa sih. Daripada membawa hal-hal yang nggak menyenangkan ke rumah.

    Hanya bisa berharap segalanya segera membaik. Covad-covid segera enyah dari muka bumi ini.

    Agar kita bisa menikmati hari-hari seperti biasa.

    Aamiin Ya Rabb.

    1. Kalau bagi saya sih, urusan mudik gak ada beda. Karna emang ga pernah mudik sii. Dan juga slalu kerja pas lebaran karna RS ga pernah tutup. Hihi

  2. Ujian dan kenikmatan diberikan oleh Allah pasti disesuaikan dengan kemampuan individunya masing-masing.
    Seperti berita kehamilan yang bersamaan dengan ayah yang sakit pastinya bisa dilalui dengan kuat ya, Mbak

  3. Pastilah setiap Ramadan, mbak Emmy akan teringat lagi masa-masa indah itu. Semoga Ramadan kali ini, kita bisa sabar menjalaninya dan nantinya meraih kemenangan

  4. Karena sudah lelah dapat hasil tes pack negatif terus ya, Mba, Makanya begitu disangka hamil dah cuek aja… xixixi.. saya juga demikian. 4 tahun lamanya saya nunggu. Jadi seakan ga yakin pas ngerasa badan ga enak. Pikirannya bukan hamil, tapi kecapekan.

Tinggalkan Balasan