Penampakan

Kesurupan (Athena Hulya)

Kesurupan

            Berangkat dinas ke proyek di Yogyakarta menggunakan mobil dinas sangatlah melelahkan, karena butuh waktu hampir 9 jam untuk sampai tujuan. Perjalanan hari itu tidak seperti biasa, biasanya jika project inspection ke daerah-daerah di pulau Jawa aku hanya berangkat hanya ditemani Pak Bambang supir kantor kami. Hari itu Eric dan asistenku Cellin merengek meminta ikut, kami berangkat hari Kamis malam. Memang kalau berangkat Kamis malam, otomatis sampai proyek Jumat pagi dan tiap Jumat pekerja proyek hanya bekerja setengah hari. Sebab itulah mereka meminta ikut karena dapat liburan singkat di sana.

            “Lagi PSBB duduknya misah ya!” ucap Eric

            “Gue seperti biasa duduk di depan temani Pak Bambang. Cellin di belakang dan lo di tengah ya, Mas!” sahutku membagi posisi duduk, jika tidak begitu nanti akan kena teguran polisi di daerah Tegal.

            Sepanjang perjalanan kami sibuk dengan diri masing-masing. Aku sibuk dengan report pekerjaan, Eric sibuk dengan ponselnya sedang Cellin terlihat tertidur. Sudah setengah perjalanan, kini kami sampai di daerah Brebes, waktu menunjukan pukul 1 dini hari.

            “Pak, berhenti di rest area depan, ya. Saya mau beli kopi sekalian mau salat dulu.”

            “Bukannya Ibu tadi sudah salat di kantor?” tanya Pak Bambang, aku hanya tersenyum.

            “Gue ikut, ya!” ucap Eric mengikutiku turun.

            Eric yang melihat wajahku cemas pun bertanya, “Lo, kenapa?”

            “Enggak tahu, nih. Gue merasa agak cemas saja. Makanya gue mau salat malam saja, biar cemasnya hilang.”

            “Na, lo cium bau anyir nggak sih di mobil? Hawanya panas juga!”

            “Enggak, perasaan lo saja kali,” jawabku, memang sedari masuk tol Cipali mobil mendadak berbau anyir dan hawa mobil memanas. Bau itu sekilas tercium – hilang. Bau itu pula yang menyebabkanku agak panik, namun membenarkan omongan Eric.

            Drrrrrtttt Drrrrrttt, ponselku berbunyi. Terpampang nama Pak Bambang di layar.

            “Bu, cepat ke mobil, Bu. Bu, mbak Cellin, Bu!” ucap Pak Bambang Panik, terdengar pula suara jeritan keras, entah siapa itu.

            “Cellin kenapa? Bukannya dia lagi tidur?”

            “Ibu dan Pak Eric cepat ke sini.”

***

            Terlihat orang-orang mengerubungi mobil kami. “Kenapa Pak?” tanya Eric

            “Tadi mbak Cellin terbangun, ia menanyakan Bapak dan Ibu di mana! Lalu dia mengeluh badannya pegal dan tiba-tiba dia teriak-teriak dan melotot,”

            “Kesurupan? Kok bisa?” sahutku tak percaya, Akupun melongok ke dalam mobil dan menyebut namanya. Tak ada respon darinya, ia hanya meraung-raung dengan mata melotot, mencakar jok dan memberontak ingin keluar namun tertahan oleh orang-orang yang memegangi.

            Selang beberapa saat, Pak Ustad datang membantu menolong Cellin. “Mbak, Mas! Ini harus dipulangkan ke tempatnya,”

            Eric yang panik mengiyakan ucapan Pak Ustad tadi, kami beserta Pak Ustaz mengantar kembali sosok yang merasuki Cellin yang ternyata berada di daerah Cipali.

            “Setan nyusahin!” gerutuku dalam hati. Waktu sudah menunjukan jam 7 pagi, dan kami di perjalanan menuju Jakarta dengan Cellin yang tergeletak lemas dan tanpa tahu kenapa Cellin bisa mengalami kesurupan itu, Pak Ustaz tidak ingin menakut-nakuti kami makanya ia tak menceritakan sebabnya.

9 Agustus 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan