Kenanglah Hanya yang Baik Dari Diriku oleh Nopiranti

Kenanglah Hanya yang Baik Dari Diriku

(Nopiranti)

Kemarin Mamah mertua cerita kalau beliau mimpi bertemu Abah mertua almarhum yang meninggal 4 bulan yang lalu. Dalam mimpinya Mamah melihat Abah dalam penampilan yang segar dan sangat tampan. Abah terlihat lebih muda, bersih bercahaya, dalam balutan baju yang bagus dan rapi.

Waktu Mamah cerita pada adik ipar tentang mimpinya ini, ternyata 2 adik ipar yang perempuan juga memimpikan hal yang sama tentang Abah beberapa malam sebelumnya. Masyaallah. Saya merinding mendengarnya. Saat berceritapun mata Mamah nampak berkaca-kaca. Antara haru dan rindu menyatu. Mungkin itu yang tengah Mamah rasakan.

Mendengar cerita ini saya jadi teringat kenangan itu lagi. Kenangan tentang Mamah almarhum yang meninggal pada 2003. Setelah selesai proses penguburan, saya diam mengurung diri di kamar. Sambil rebahan melepas lelah, tak terasa saya lelap tertidur. Lalu mimpi itu datang menyapa. Saya lihat Mamah dari kejauhan. Melambai ke arah saya. Sedih rasanya. Seperti ada sesuatu menusuk-nusuk dada ini. Saya menangis menyesali sesuatu.

Terbangun saya dari mimpi. Masih ada sisa sebak di pelupuk mata. Hampa saya menatap langit-langit kamar. Samar-samar nampak siluet Mamah membayang di sana. Haru merebak lagi. Mata saya pun semakin berembun. Lalu gerimis yang semakin rapatpun turun di hati yang menyimpan luka.

Tak lama ada bibi yang masuk ke kamar saya. Beliau meminta saya makan karena dari pagi saya belum menyantap apa-apa. Tak ada selera rasanya. Kemudian kakak saya juga masuk ke kamar. Beliau duduk di samping tempat tidur. Tak kuasa saya memendam rasa ini. Setengah berbisik saya utarakan kegelisahan pada kakak.

“A, Ranti belum sempat minta maaf sama Mamah. Ranti takut Mamah marah, A.” Tangispun merebak lagi. Tak bersuara. Sebisa mungkin saya tahan sebak. Semakin sakit dan sesak rasanya dada ini.

“Enggak apa-apa. Sudah Aa mintakan maaf kok sama Mamah. Mamah tahu kalau Ranti paling tidak bisa bicara yang sedih-sedih. Mamah sudah memaafkan kita, Insyaallah,” ucap kakak menenangkan saya.

Sedikit lega saya mendengar perkataan itu. Namun tetap saja ada yang masih mengganjal di hati ini karena maaf itu tidak langsung saya sampaikan ke Mamah. Sebetulnya bukan maaf khusus karena kesalahan tertentu yang saya perbuat. Hanya saja saat orang lain beramai-ramai bersegera saling bermaafan dengan Mamah ketika kondisi kesehatan beliau mulai sangat menurun, saya tidak ikut melakukannya.

Saya yang dulu bukan saya yang sekarang (lha, kok seperti syair lagu ya. Maaf). Dulu saya pendiam, jarang bicara, dan kesulitan mengutarakan perasaan secara lisan. Apalagi jika harus bicara hal-hal yang membuat sedih. Udah deh bibir saya pasti semakin rapat terkatup. Tak ada kata yang bisa keluar. Makanya sampai akhir menjemput Mamah pun, saya tak pernah bisa meminta maaf padanya.

Hal itu yang sampai hari ini masih sangat saya sesali. Selain meminta maaf lewat doa, saya juga selalu berharap bisa bertemu Mamah dalam mimpi. Namun, tak mudah juga ternyata untuk mendapatkan mimpi seperti apa yang kita inginkan. Makanya, ketika mendengar cerita orang-orang yang bisa mengalami mimpi bertemu dengan orang tercinta yang sudah tiada, saya suka iri. Saya ingin juga bisa sering-sering berjumpa Mamah, walau hanya lewat perantaraan mimpi.

Selain berharap bisa menyampaikan maaf pada Mamah dalam mimpi, saya juga ingin melepaskan rindu pada sosok perempuan hebat idola saya itu. Ingin bercerita banyak dan memeluknya erat. Rindu sungguh. Mengingat Mamah itu hanya satu saja yang terlintas: kebaikan. Segala tentang beliau adalah keindahan akhlak yang akan selalu saya jadikan panutan. Seperti juga sosok Abah mertua almarhum yang kini kami kenang dengan segala kebaikannya.

Saya jadi merinding. Jika nanti saya meninggal, apa ya yang akan orang-orang kenang tentang saya? Semoga bukan keburukan akhlak yang akan menjadi pembicaraan orang saat saya tiada nanti. Saya mohon, kenanglah hanya yang baik dari diri saya, selepas jasad saya terpisah dari ruh kelak, ya teman-teman. Terima kasih.

Jumat, 4 November 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan