Selamat Jalan Dosenku

Kenangan Terakhir yang Teringat oleh Emmy Herlina

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.”

Aku menatap tak percaya saat membaca pengumuman di salah satu wa grup yang kupakai untuk perkuliahan. Baru saja asisten dosen memberitahukan bahwa dosen pengampu mata kuliah yang kuambil, baru saja meninggal dunia. Padahal, rasanya baru dua hari lalu aku masih menyimak materi yang diberikan olehnya. Sebagai mahasiswa konversi, kelas kami memang hanya berlangsung selama dua hari, Jumat dan Sabtu saja. Karena adanya pandemik Covid-19, saat ini perkuliahan berlangsung secara daring. Jadi sudah lama, aku tak bertemu langsung dengan dosen-dosenku. Seperti sudah lama halnya, aku tak mengunjungi kampus.

Maka berita ini menjadi hal yang sangat mengejutkan, terlepas dari usia dosen tersebut yang memang sudah pantas disebut lansia (lanjut usia). Aku menghela napas, ya Allah, mengapa begitu banyak orang-orang baik nan cerdas yang Kau ambil. Hal yang lekat di ingatan, karena almarhum begitu mengingatkanku pada sosok ayah yang telah berpulang delapan tahun lalu.  Bertubuh kurus, dengan rambut sudah memutih, namun ketika tampil dan bicara di depan publik, masya Allah.

Seperti aku tak siap dengan kepergian almarhum ayah delapan tahun lalu, kali ini, lagi-lagi aku tak siap. Ah, mengapa aku terlupa? Sejatinya bukankah kita semua adalah milik-Nya dan pasti suatu saat kembali pada-Nya? Maka benarlah yang kubilang sebelumnya, manusia tak ubahnya seperti materi. Yang membedakan karena jiwa yang ditiupkan ke dalam raga, itupun hanya dititipkan sementara.

Aku jadi teringat sebuah cerita nyata yang juga membuat perasaan syok. Ayuk kandungku yang bercerita. Baru saja bercanda bersama dengan teman-teman kerjanya dalam sebuah wa grup, tak lama ia dikejutkan sebuah berita. Begini ceritanya ….

 “Haha. Bentar ya, gue ke toilet dulu,” ketik seorang teman kerja ayukku pada grup wa mereka.

Selang dua jam kemudian, terdengar kabar mengejutkan. Teman yang katanya izin ke toilet tersebut dikabarkan telah menghadap-Nya.

Lantas saja ayukku sempat protes, “kalian ini jangan asal bicara. Hati-hati kalau bercanda.”

Teman yang mengabari ayukku, akhirnya meyakinkan, “serius! Si R barusan meninggal dunia, anaknya yang mengabari.”

Innalillahi. Siapakah yang bisa menerka kapan ajal tiba? Saat tiba waktu untuk kita, lalu apa yang sudah kita tinggalkan di dunia?

Aku tertegun dan segera membayangkan. Bagaimana denganku dengan segala grup wa yang kupunya? Kita tidak tahu lawan bicara kita di ponsel sedang dalam keadaan bagaimana, bukan? Bagaimana juga dengan pasangan yang memang menjalani long distance relationship denganku?

Ya Allah, jangan sampai pembicaraan terakhirku dengannya ternyata berupa perselisihan, meski hanya melalui gawai. Tidak ada yang bisa mengetahui apa yang terjadi beberapa menit kemudian kepada lawan bicara kita di ponsel, kan?

Sudah cukuplah pembelajaran ini, untuk selalu berusaha meninggalkan kenangan terbaik, terhadap siapapun. Meski itu berupa hubungan terpisah jarak dan hanya sebatas komunikasi lewat gadget. Apa kau mau percakapan terakhirmu dengan seseorang, ternyata adalah sebuah perselisihan, debat tanpa ujung yang meninggalkan sakit hati? Apapun kenangan yang diingat lawan bicaramu jangan sampai merupakan sesuatu yang buruk. Wallahualam.

Bandar Lampung, 26 Juli 2020

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan