Kenangan Abadi untuk Eyang Sapardi

Ada satu event yang berbeda dari yang lainnya. Karena event ini adalah kumpulan puisi. Yang mana kubuat untuk memperingati Eyang Sapardi.

Judul: Jejak Sajak Abadi
Penulis: Emmy Herlina#Lita Fuss#Mutimatun Diniyah#Hardianti#Juniawati#Leni Chan#Neti Soelistyani#Liz Elsyahla#Audy Ramadhani#Widya Dwi Septiorini#Euis Tresna Gumilar#Iyus Ruchdiana#Ida Saidah#Chandra Musliminnata#Neneng HS#Nofita Sari Astanu#Nurhayati Afh#Nun Kappaeta#Wiznu Aldian#Iyon Sg#Villia Rangkoto#Ilham Alfafa
Penerbit: Rumedia

Blurb:
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”tanyamu. Kita abadi. (“Yang Fana Adalah Waktu” karya Sapardi Djoko Damono)
19 Juli 2020 lalu, Indonesia berduka, karena salah seorang penyair romantis mengembuskan napas terakhirnya. Tapi seiring kepergiannya, karyanya tetap menjadi abadi. Lalu, bagaimana ungkap para penulis tentang makna keabadian itu sendiri? Saksikan saja sendiri dalam Jejak Sajak Abadi, sebuah persembahan untuk Sapardi.
Pada suatu hari nanti, jasadku tak akan ada lagi. Tapi dalam bait-bait sajak ini, kau tak akan kurelakan sendiri. (“Pada Suatu Hari Nanti” karya Sapardi Djoko Damono)

***

Jujur saja, saya memang penikmat puisi, namun bukanlah pakarnya. Saya hanya mencoba untuk merangkai kata, mengikuti jejak Sang Penyair Romantis, agar abadi menjadi sebuah karya. Seperti tulisan sederhanaku ini:

Ah … sudahlah
Setiap jejak langkahnya tinggalkan sejarah
Lelaki yang kupanggil dengan sebutan, “Ayah.”
(“19 September 2012, Selamat Tinggal” oleh Emmy Herlina)

Bagaimana dengan rangkaian kata yang indah ini?

Tak adil rasanya waktu memisahkan
Tak cukup ragamu untuk kupeluk
Belaian hangat yang hilang
Pergi menjauh dan semakin jauh.
(“Abadi dalam Kerinduan” oleh Euis Tresna Gumilar)

Dan juga yang satu ini:

Tak cukup aku terhenyak
Tak guna aku mengelak
Tak kuasa aku mengiba
Tak mungkin juga aku menahan kepergiannya
Aku merasa kini tempatnya telah berbeda.
(“Meniti Keabadian” oleh Lita Fuss)

Jangan lupa satu favoritku juga:

Harta takkan berarti
Kuasa takkan kekal
Kata-kata
Hanya ia yang abadi
Bersemayam dalam benak
(“Kata, Abadi” oleh Chandra Musliminnata)

Terkejutkah membaca bait nan indah ini? Terlebih, cukup banyak peserta dalam event ini, termasuk bapak founder Nubar, Pak Ilham Alfafa.

Begitu istimewanya, satu ide terbersit mendadak setelah cover keluar. Rasanya tak cukup hanya satu piala. Biar ketiga terbaik mendapatkannya. Selamat untuk puisi terbaik kalian!

Terbaik dalam event Jejak Sajak Abadi

Juara 1: Chandra Musliminnata
Juara 2: Lita Fuss
Juara 3: Euis Tresna Gumilar

Pak Ilham Alfafa langsung yang memilih nama-nama terbaik di atas.

Ah, betapa beruntungnya buku ini diluncurkan di bulan Juni! Agar Hujan di Bulan Juni menjadi lebih bermakna.
Ah, betapa beruntungnya teman-teman yang memiliki buku ini. Pesan melalui saya, segera!

Manajer Area Sumatera
Emmy Herlina

0Shares

Tinggalkan Balasan