Keikhlasan Cinta oleh Ade Tauhid

Keikhlasan cinta
By Ade Tauhid

Kulajukan mobilku, kemanapun. Muter muter tidak karuan, tidak ada tujuan. Entah apa yang kurasakan hari ini.
Seperti ada rasa perih dan sakit.

Terus terang aku biasa begini kalau aku rindu pada ayah dan ibuku yang sudah tiada.

Aku kehilangan pegangan. Aku kehilangan nasihat saat aku sedang merasa sedih.

Sedih?
Apa yang aku sedihkan? Apa yang membuat aku kadang merasa lebih merana dari orang lain.

“Kau terlalu mendongak keatas, sehingga kamu lupa kalau ada yang jauh dibawahmu. Banyak orang lebih menderita darimu, kau hanya kurang bersyukur, nak.”kata papa waktu itu.

Kurang bersyukur?
Apa betul aku kurang bersyukur? Bisa jadi iya. Tapi sepertinya tidak juga. Aku hanya kadang kadang saja sedih, kadang kadang saja merasa hampa.

Dan itu timbul sendiri diluar kendaliku, bukan karena aku kurang bersyukur. Aku punya keluarga, suamiku baik, dua anakku semua baik.

Alhamdulillah Tuhan memberi rezeki lebih.
Tapi entahlah.
Seperti yang kurasa saat ini, sedih itu timbul sendiri. Aku butuh nasihat, aku butuh wejangan.

Dan itu hanya kudapat dari Tante Elsa dan om Nino adik mamaku.

Adik mamaku itu sudah 30 tahun menikah, namun belum dikaruniai anak. Tapi Tante Elsa dan om Nino tetap berbahagia.

Mereka tidak mengadopsi anak seperti yang sering orang sarankan pada mereka.
Alasannya mereka sudah cukup berusaha untuk mendapatkan momongan, bila sampai sekarang Tuhan masih belum memberi mereka momongan, mereka tak akan memaksa Tuhan untuk memberikan.

Tuhan punya alasannya, begitu kata Tante Elsa waktu itu.

Aku membayangkan lagi wajah Tante saat dia mengucapkan hal itu, senyum manisnya tersungging di bibirnya penuh ketulusan.

Begitu juga om Nino, mereka seperti tak punya beban.

Padahal manusiawilah menurutku kalau Tante dan om kecewa. Karena sebelum sebelumnya betapa banyak hujatan dari kanan kiri yang diterima mereka.

Tapi mereka tegar.
Hujatan itu hanya angin lalu, dan mereka tidak pernah memasukkan nya kedalam hati.

Mereka selalu menyerahkan kembali setiap permasalahan kepada Tuhan.

Kuputar balik mobilku, tujuanku kerumah Tante Elsa dan om Nino.
Iya hanya mereka yang bisa membuat hatiku bahagia. Hanya mereka yang bisa membuat hatiku nyaman.

Sebentar kubeli dua kilo mangga harum manis sebagi oleh oleh. Sepuluh menit kemudian aku sudah sampai dirumah Tante elsa.

Rumah berbentuk minimalis tapi halaman yang luas, tampak asri dengan taman bunga yang indah yang sudah diatur sedemikian rupa.

Rumah ini memberikan aura menyenangkan, bagi siapapun yang menapakkan kakinya dirumah ini.

Jam sudah menunjukkan pukul 15.30.
Jam segini aku yakin Tante Elsa dan om Nino lagi santai minum teh sambil menikmati acara di televisi diruang tengah rumahnya.

“Assalamualaikum Tante – om.”salamku sambil mencium tangan keduanya.

“Waalaikumsalam.
Hai! Apakabar sayang.” Tante mencium kedua pipiku.

“Baik tante. Lagi santai nih.”kataku.
Benar khan tebakanku , dua sejoli yang yang sudah berumur ini tampak bahagia.

Wajah Tante Elsa tampak awet muda meski sudah setengah abad. Begitu juga om Nino.

Cinta yang membuat mereka bahagia. Tak ingin menyakiti satu sama lain, saling membahagiakan.
Indahnya ..

Padahal mereka hanya berdua saja, tanpa anak bahkan cucu.

“Kalau kita ikhlas, kita rela apa ketentuan Tuhan dan kita selalu bersyukur. Kita akan diberi nikmat lebih yang selalu dianugerahkan Nya pada kita.

Jadi buat apa kita bersedih?”kata Tante suatu hari.

“Tante bahagia?”tanyaku.

“Maksudku apakah Tante bahagia tanpa anak? Begitu maksudmu?”tanya Tante Elsa sambil tersenyum.

Aku mengangguk.

“Kenapa kamu tidak bertanya, apa Tante bahagia apabila punya anak?” Tante balik bertanya.

Tante tersenyum saat aku diam saja.

“Tuhan sudah membuat takdirnya sayang, dan Tante maupun om tak pernah memaksa Tuhan untuk merubah takdirnya buat kami.

Kami menerimanya, dengan membalikkan semua ketentuannya “apakah kami bahagia andai kami punya anak? Apakah anak kami itu akan membuat hidup kami lebih membahagiakan dari sekarang? Apakah anak kami akan bahagia bersama kami? Siapa yang tau sayang ..

Makanya kami, om dan Tante selalu bersikap ikhlas. Sambil terus berdoa agar hidup kami selalu bahagia.” Kata Tante Elsa lagi.

“Tapi apakah Tante tidak terpengaruh dengan omongan orang?” Tanyaku.

“Terus terang iya, awal awal Tante pernah merasa khawatir. Tante juga merasa sedih. Tapi itu dulu.

Tapi berjalannya waktu, kami melihat banyak orang orang yang hidupnya tak lebih baik dari kami.

Lantas buat apa kami mengeluh?
Manusia itu tempatnya ketidak sempurnaan sayang, hanya Allah yang sempurna.
Berbahagialah yang sudah Allah beri, jangan iri dengan orang lain.

Sukuri, karena Tuhan sudah tau porsi kita.
Berbahagialah.
Jangan buat hatimu bersedih, dekati Dia – karena Dia lah yang akan membuatmu bahagia.” Kata Tante waktu itu.

Oh.

Aku menyeruput teh hangat buatan Tante Elsa, kunikmati dari kerongkongan sampai hatiku yang terdalam.

Betapa aura kebahagiaan itu sudah merasuki jiwa ini, hilang rasa sedih sebelum kutumpahkan.

Kutatap cinta dari keduanya satu sama lain. Orang orang hebat batinku.
Aku harus banyak belajar dari mereka.

“Kenapa nak?”tanya om Nino menatapku.

“Tidak apa om. Aku hanya senang saja melihat kebahagiaan om dan Tante disini.”kataku sambil mengunyah kue manis ini, buatan tangan Tante Elsa.

“Hidup itu pilihan.
Mau senang atau mau susah?
Bahagiakan saja dirimu.”

Bandarlampung, Minggu 20 Des 2020

0Shares

Tinggalkan Balasan