Menangis

Keikhlasan, Antara Diri dan Allah Saja (Emmy Herlina)

Keikhlasan, Antara Diri dan Allah Saja

Ikhlas berdasarkan KBBI berarti bersih hati, tulus hati. Ikhlas artinya berbuat hanya untuk mengharapkan keridaan Allah, bukan untuk dianggap baik apalagi mengharap balasan.

Namun sesungguhnya, ikhlas itu apa? Bagaimana cara menerapkan keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari? Terkadang bibir ini berkata ikhlas, namun hati tak bisa dibohongi ingin dipuji setelah berbuat kebaikan. Terkadang ucapan sudah mengiyakan, namun ingatan terus memutar kenangan buruk bak pemutar film di bioskop. Bagaimana dengan ikhlas merasakan sakit?

Seperti saat ini, yang sedang kualami. Dimulai dari seminggu lalu, saat aku tiba-tiba merasakan sesak sepulang dari bekerja. Mengapa ini? Seingatku seharian baik-baik saja. Jangan-jangan ini merupakan gejala dari penyakit mematikan yang membuat anak-anakku tak bisa keluar rumah dan harus menjalani persekolahan daring. Waduh, kenapa jadi berpikir tidak-tidak?

Hal lain yang kupikirkan adalah pekerjaan dan tugas yang menumpuk. Yang kumaksudkan tugas kuliah, karena setiap Jumat-Sabtu adalah waktu kumenjalani kuliah, meski secara online. Banyak tugas yang diberikan mendadak oleh para dosen, yang harus kukerjakan, lalu kumpulkan seminggu kemudian.

Lalu pekerjaan yang kumaksudkan adalah sebagai manajer area Sumatera. Kebetulan paket buku dari penerbit sudah datang, dua hari sebelumnya. Sebagai bagian dari tugas manajer, aku berkewajiban mendistribusikannya kepada seluruh kontributor. Inipun saja tidak semuanya. Beberapa sudah menerima buku yang dikirimkan langsung dari pak Ilham. Tadinya aku sudah merencanakan akan mulai menyicil packingan sembari mengisi waktu libur, ternyata malah jadi jatuh sakit.

Ya, akhirnya hari Minggu lalu, tertanggal 12 Juli 2020, aku hanya bisa terbaring di tempat tidur. Sempat menyalakan laptop sejenak untuk menyelesaikan ketika tema wajib di Writing Challenge Rumedia, namun setelahnya aku langsung menutup kembali laptopku. Sesak sedikit berkurang karena kubawa beriistirahat, namun kepalaku terasa berat. Tenggorokan juga sakit sekali, sehingga aku banyak meminum air putih.

Kuingat-ingat kembali ternyata sudah lama aku tidak meminum suplemen tambahan. Biasanya karena banyaknya pekerjaan, aku wajibkan diri meminum suplemen secara berkala. Sebut saja Zinc, Imboost Force, Spirulina, dan lainnya. Itu karena aku mempunyai penyakit alergi sejak kecil. Namanya Bronchitis Asmatis.

Bronkitis adalah suatu penyakit infeksi virus yang menginfeksi saluran pernapasan, tepatnya bronkus, sehingga bisa menimbulkan gejala batuk yang berlangsung selama satu minggu atau lebih.

Sedangkan asma adalah peningkatan kepekaan saluran napas terhadap berbagai rangsangan dari luar, misalnya debu, serbuk sari, udara dingin, makanan, dan lainnya sehingga menimbulkan kesulitan bernapas, nyeri dada, batuk, dan napas berbunyi.

Pernah mengalami banyaknya larangan termasuk main bersama teman-teman? Pernah mengalami tak bisa ikut acara wajib sekolah karena dilarang orang tua? Pernah juga mengalami larangan kuliah di luar kota dikarenakan hal yang sama? Ya, aku mengalami semua hal itu sedari kecil. Banyaknya keterbatasan dikarenakan kondisi fisikku yang seringkali sakit-sakitan.

Bagaimana pandangan seorang anak kecil yang hanya bisa melihat dari balik jendela rumah, teman-temannya bermain di lapangan, sementara dia tidak diizinkan ikut serta. Bagaimana perasaannya saat dilarang belajar bersepeda, sehingga sampai usia segini pun tidak bisa. Bagaimana saat perintah guru olahraga kepada murid-muridnya untuk belajar berenang setiap sebulan sekali di kolam renang pun tidak diizinkan orang tua, hingga suatu hari sang anak terpaksa kabur dari rumah membawa duit seadanya, karena nilai olahraganya terancam dapat merah.

Ya, aku mengalami semua itu. Aku menerima diagnosa Asma sedari duduk di bangku SD dan menjadi Bronkitis, pertama kalinya ketika aku memasuki jenjang sekolah menengah atas.

Keterbatasan fisik ini kadang membuatku jadi membenci diri sendiri. Lelah sedikit saja, pasti sesakku kambuh. Mengapa aku tak sama seperti anak sebayaku? Mengapa mereka lebih sehat dariku?

Bertahun-tahun kumencoba untuk ikhlas, menerima kondisi diri. Berkali-kali kucoba untuk meyakinkan bahwa banyak yang lebih tidak beruntung dariku. Bahwa setidaknya sakit yang kuderita bukan sesuatu yang mematikan. Kujalani tugas sebagai tenaga kesehatan yang awalnya dengan memaksakan diri, padahal kemampuan fisik tak setangguh yang lainnya.

Ikhlas diawali dengan acceptance. Bagaimana kita mengenal dan menerima kondisi diri yang sebenarnya tanpa denial. Bagaimana kita tak melupakan syukur kepada Illahi dan berfokus pada kelebihan dan hal baik yang kita miliki. Pada akhirnya ikhlas apakah dari hati atau hanya sekadar ucapan, hanya kita sendiri dan Allah SWT yang mengetahuinya.

Bandar Lampung, 19 Juli 2020

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan