Kehilangan

Kehilangan, Antara Kesedihan Dan Mengikhlaskan (Athena Hulya)

Kehilangan, Antara Kesedihan Dan Mengikhlaskan

            Kehilangan, kata yang identik dengan kematian atau kepergian seseorang untuk selama-lamanya. Kehilangan seseorang sangatlah menyakitkan terlebih orang itu adalah orang yang amat dicintai, kesedihan mendalam mengiringi kepergiannya juga menyelimuti hari-hari setelahnya. Saat kesedihan mulai terasa, ingat bahwasanya tiap-tiap umat manusia memiliki batas waktu, ketika waktunya tiba tidaklah dapat dimundurkan atau dimajukan seperti yang tertulis dalam Alquran.

            Tidak mengapa bersedih karena kehilangan, itu hal yang wajar. Saat kehilangan memang seharusnya direfleksikan dengan kesediahan, tangisan. Tapi setelahnya harus bangkit, jalani hari-hari seperti sedia kala dan mengikhlaskannya, jangan berlarut-larut dalam sedih. Mengikhlaskan itu sulit, butuh kekuatan ekstra untuk melakukannya. Tapi jika tidak mengikhlaskannya malah kita yang akan sakit, sakit karena mengingat-ingat semua kenangan bersama orang tersebut namun orang itu sudaah tidak ada lagi.

            Apakah di antara para pembaca ada yang pernah mendengarkan lagunya dari Ada Band yang berjudul Baiknya yang dirilis tahun 2008 silam.

            Kehilangan dirimu
Menyakitkan nurani
Separuh nyawa terbawa
Menyisakan perih di hatiku

            Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak kubalut dengan tangis
Baiknya setiap kerinduan yang merajam
Tak kuratapi penuh penyesalan

            …

            Seperti penggalan lirik di atas, sebagai orang yang ditinggalkan seharusnya jangan bersedih hati jika mengingat kenangan-kenangan tentangnya dan tidak perlu meratapi kepergiannya. Sebelum Tuhan mengambil kembali apa yang seharusnya diambil, sebaiknya hargai setiap momen yang terjadi dalam hidup bersama orang-orang tercinta tersebut sebelum kita benar-benar kehilangan.

            Perihal mengikhlaskan, ada beberapa hal yang harus diingat saat sedang mengalami kehilangan, yaitu: Pertama-tama harus percaya pada takdir Tuhan kalau yang bernyawa pasti akan mati, percaya setelah kesedihan akan datang kebahagiaan. Kedua carilah kesibukan, dengan menjalani kesibukan otomatis kita akan sedikit terlupa akan kesedihan itu. Dan yang terakhir, ingatlah kalau ikhlas itu bukan tentang melupa melainkan menerima, menerima segala ketetapan dari Tuhan Yang Maha Esa.

9 Agustus 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan