Senja

Kedatangan Fajar (Part 3-FINISH) oleh Athena Hulya

Kedatangan Fajar

(Part 3 – Finish)

Sebelumnya di Kedatangan Fajar (Part 2) oleh Athena Hulya

Tiga bulan setelah pertemuan pertama dengan Kanu, komunikasi kami semakin intens. Ia bersedia menemaniku ke Bandara saat Ben akan pergi ke Nabire. Terjadi percakapan antara mereka berdua yang kutidak tahu, selintas yang kulihat Kanu memasukan sesuatu ke kantung celananya ketika Ben hendak pergi dan iapun pernah menemani saat mengunjungi makam Abi, walaupun ia hanya menunggu di depan pintu masuk pemakaman.

            Kanu orang yang siap sedia mendengarkan semua curhatanku, pemberi solusi terbaik atas setiap masalah yang terjadi di hidupku. Tiap kali bertemu dengannya ada saja topik obrolan yang diperbincangkan. Mengobrol dengannya dari pagi hingga malam sampai beberapa kali berpindah tempat adalah hal rutin yang dilakukan saat bertemu. Ya, entah mengapa dengannya ku dapat membuka diri dan berbicara panjang lebar, berbeda saat dengan Abi atau Ben.

***

            “Lo, suka sama Kanu?” tanya Rei saat kami berada di MaxxCoffee Penvil.

Aku menggeleng.

“Yakin, nggak suka?” Rei menanyakan sekali lagi, ia tak yakin akan jawabanku.

Akupun kembali menjawabnya dengan menggeleng.

            “Enggak mungkinlah, Rei. Athena suka sama cowok model begitu. Pakaiannya nggak rapi, rambutnya semrawut kek simpang susun semanggi, brewokan pula. Itu bukan tipenya Nana. Iya kan, Na?!” tegas July

            “Iya, sih, bukan tipe lo! Tapi kenapa gue rasa lo suka juga sama Kanu ya, Na?”

            “Juga?” sahut July.

            “Iya, semalam tumben Kanu whatsapp gue nanyain Athena, nanya apa yang disuka sama yang nggak disuka sama Athena,” jawab Rei.

Aku terdiam saat Rei memberi pernyataan barusan.

            “Na, lo ingat, nggak, tempo hari pas kita di Jogja. Dia datang duluan ke Blanco Coffee, pas kita datang di meja ada Cappuccino extra espresso less sugar soy milk plus simple sugar di cup dan juga donat tiramisu. Itu buat lo, kan? Iya, kan? Waktu itu juga, gue pernah salah pesanin lo bubur ayam pakai kacang kedelai dan kerupuknya digabung. Lo tahu apa yang dia lakuin ke bubur itu? Dia pindahin kacang kedelai itu ke buburnya, dia juga pindahin krupuk ke mangkuk lain. Banyak hal-hal sepele yang orang nggak ngeh tentang lo tapi dia tahu, Na. Kalo dia nggak suka sama lo, ngapain dia kek gitu? Tahu pesanan lo yang ribet!” ucap Rei lagi dengan nada meledek.

            Lagi-lagi aku terdiam, bingung harus menjabarkan perasaanku pada Kanu seperti apa. Deg-degan tiap bertemu, tertawa lepas, selalu ingin tahu kabarnya, menceritakannya hal-hal yang tidak pernah kuceritakan pada siapapun. Entah mengapa memang saat bersama dengannya aku melupakan Abi, seperti tak pernah ada Abi di hidupku, benar-benar lenyap saat kubersamanya. Apakah itu semua tanda bahwa aku menyukai Kanu dan sudah move on dari Abi?

Perasaan yang kurasa pada Kanu tak pernah kurasakan sebelumnya, terlebih pada Abi. Waktu bersama Abi, ia yang mencaritahu sendiri segala tentangku. Namun saat bersama Kanu, akulah yang menceritakan semua tentangku, Kanupun sama membicarakan segala tentangnya tanpa ada yang ditutupi. Kalau dengan Ben, Ah tidak perlu dibicarakan karena aku tak pernah membicarakan apapun tentangku padanya, sama sekali tak bisa membuka diriku.

            Kedatangan Kanu membawa warna tersendiri di hidupku. Selama ini kuhanya melihat goresan-goresan tinta jingga keunguan yang ditorehkan sang senja, namun dengannya kumelihat warna yang tak pernah kulihat sebelumnya. Pertama bertemu dengannya seperti melihat fajar yang mengintip di ufuk timur, dari hitam – keabu-abuan – sedikit memutih – perlahan berganti warna lainnya, merah tergabung jingga dan ada percikan-percikan biru. Ya, seperti pertemuanku dengannya saat ini.

            Bagiku, bertemu dan berkenalan dengannya adalah sebuah kebetulan yang berujung  keberuntungan. Aku tak tahu, Tuhan mengirimnya untuk sekadar saling sapa atau menetap hingga akhir. Kutak berharap banyak, namun jika ia yang Tuhan kirim untukku sebagai pengganti senja, aku hanya ingin mengukir kisahku dengan warna-warna yang ia bawa. Di episode perjalananku kali ini aku bertemu dengannya, Kanu Arestian, pria yang kusebut Fajar.

Bersambung…

4 July 2020

Nulisbareng / Athena Hulya

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan