Senja

Kedatangan Fajar (Part 2) oleh Athena Hulya

Kedatangan Fajar

(Part 2)

Sebelumnya di Kedatangan Fajar oleh Athena Hulya

Tak disangka kalau orang yang duduk di hadapanku adalah ia yang beberapa tahun ke belakang hanya kukagumi hanya sebatas tangannya dan suara permainan biolanya saja, yang tak pernah sedikitpun kulihat jelas wajahnya karena selalu terhalang oleh redupnya lampu studio. Ia yang kukagumi jauh sebelum kumengenal Abi.

Aku dan Kanu mengobrol banyak, seperti teman lama yang dipertemukan kembali setelah sekian lama. Terlalu asyik mengobrol sampai-sampai kami lupa kalau ada tiga orang lain yang sedang bersama kami. Rei dan July menatapku heran, karena tidak biasa-biasanya aku mengobrol panjang dengan orang yang baru kutemui.

~~(Nada dering, River Flows In You – Yiruma)~~

Terpampang jelas nama Benny di layar ponsel.

“Heleh si Dokter songong itu lagi ya?”, celetuk Rei.

Aku menjawab dengan senyum datar, memasang ekspresi sebal. Sudah berapa puluh kali ia meneleponku sejak sembilan hari lalu kami putus dan ia meninggalkanku begitu saja di coffee shop. Sepanjang aku mengobrol dengan Kanu, sepanjang itu pula Benny menelepon namun tidak kujawab.

Mas Rian yang merasa terganggu dengan telepon dari Ben ia menyuruhku mengangkat teleponku, disusul dengan suruhan dari Rei dan July.

“Enggak usah, biar ponselnya kunonaktifkan saja. Maaf, ya, mengganggu kalian.”

It’s okay, Na,” jawab ketiganya kompak.

Kanu melirikku, kurasa ia juga merasa terganggu dengan suara ponselku yang berulang-ulang kali berbunyi.

***

“Rian bilang kamu fansnya Yiruma, ya?” tanya Kanu padaku yang duduk di bangku café saat menunggu Kanu gigs. Semalam ia mengundangku untuk menghadiri gigsnya di flows Jakarta.

“Iyaaa, hehe.”

“Oh, okay!” jawab Kanu singkat lalu pergi ke panggung musik, ia nampak berbincang dengan MC yang memandu acara.

“Panggilan kepada kakak berkerudung pink, tolong segera kemari!” ucap MC, disusul Kanu yang melambaikan tangan ke arahku. Di kafe itu hanya akulah yang memakai kerudung berwarna pink. Aku menghampiri mereka berdua.

“Kak, Mas Kanu ngajakin duet. Kakak main piano! Silakan ini pianonya,” MC menunjukanku piano yang berada di sampingnya.

“Saya enggak bisa main piano!” jawabku menolak.

“Kata Rian kamu bisa main piano! Kita duet, aku main biola. Jadi kalau ada nadamu yang miss bisa kubantu,” bisik Kanu. Entah kenapa aku mengikuti kemauan Kanu.

Setelah sekian lama tidak memainkan piano ada perasaan gugup, pertama kali juga memainkan piano di depan banyak orang tanpa latihan.

“Jangan gugup. Ayo kamu pasti bisa, aku yakin itu,” ucap Kanu meyakinkanku. Kamipun memainkan Love Me – Yiruma.

Saat memainkan piano rasa gugup berganti dengan rasa gembira yang amat sangat. Jika ada kata yang lebih tinggi diatas gembira, itu adalah perasaanku. Bisa berduet dengan idola dan ditonton banyak orang rasanya seperti sedang bermimpi. Selesai kami berduet, aku mentap wajah Kanu. Kanu tersenyum, senyuman itu senyuman yang meneduhkan.

“Kapan-kapan, kalau saya gigs di Jakarta kita duet lagi, yuk! Seru duet sama kamu,” ucap Kanu sambil merapikan biolanya, aku menjawab dengan senyuman kecil.

Bersambung…

27 Juni 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan